- September 19, 2024
- Posted by: Astri
- Categories: Articles, Artikel, Bina Swadaya Konsultan, Profil Kemandirian
Dinda Karina Putri, srikandi asal Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, menjadi contoh generasi milenial yang mampu menaklukkan tantangan menjadi peluang. Dengan usaha peternakan sapi perah yang dikelola di bawah nama “Dinda Farm,” ia membuktikan bahwa sektor peternakan bisa menjadi ladang keberhasilan, terutama di tangan anak muda yang gigih dan inovatif.
Perempuan kelahiran 1997 ini tumbuh dalam keluarga peternak sapi perah. “Beternak dan menjadi peternak adalah pekerjaan turun-temurun,” ungkapnya. Sejak remaja, ia belajar cara merawat dan mengelola sapi perah dari ayahnya. Namun, setelah lulus kuliah, ia sempat berpikir untuk mencoba peruntungan di luar kota. “Sempat ingin kerja di kota lain, tapi akhirnya saya memutuskan melanjutkan usaha keluarga yang sudah ada di depan mata,” ujar Dinda, saat ditemui di kediamannya beberapa waktu lalu.
Keputusannya saat itu sangat tepat. Dengan kegigihannya, usaha ternaknya berkembang pesat. Dinda bahkan terpilih menjadi salah satu penerima program bantuan YESS (Youth Entrepreneur and Employment Support Services) dari Kementerian Pertanian. Program ini memberikan tambahan aset berupa enam ekor sapi perah.
Namun, titik balik terbesar dalam usaha Dinda terjadi saat ia bertemu Bina Swadaya. Dari sana, Dinda belajar konsep animal welfare dalam peternakan organik. “Dulu, saya tidak terpikir untuk mengonversi peternakan kami menjadi organik. Tapi, melalui pelatihan dan pendampingan yang diberikan Bina Swadaya, saya mulai memahami pentingnya kesejahteraan hewan ternak. Alasan ini yang membuat saya tertarik dan mulai belajar lebih dalam,” ucapnya.
Konsep animal welfare yang diajarkan membuka mata Dinda tentang cara merawat ternak secara lebih alami. Sapi-sapinya kini diberi pakan hijauan tanpa pupuk kimia dan tanpa campuran pakan buatan seperti roti. Hasilnya, selain kualitas susu yang lebih baik, sapi-sapi di peternakan juga lebih sehat.
“Alhamdulillah, setelah konversi ke organik, kami tidak pernah lagi memanggil dokter hewan. Imunitas sapi-sapi saya meningkat karena diberi jamu alami seminggu sekali,” katanya.
Produksi susu di peternakan Dinda terus meningkat. Setiap hari, sapi-sapinya menghasilkan 12—14 liter susu organik, yang dijual dengan harga lebih tinggi dibandingkan susu konvensional, yaitu Rp9.000 per liter. Selain itu, sapi-sapi tersebut juga tampak lebih sehat dan bahagia.
“Mereka (sapi-sapi) tahu jika kita menyayangi mereka,” ujar Dinda dengan senyum bangga. Baginya, sapi-sapi yang ia rawat bukan hanya sekadar hewan ternak, melainkan aset yang harus dijaga dan diperlakukan dengan sepenuh hati. Komitmen Dinda dalam menjalankan peternakan organik didukung penuh oleh pendampingan Bina Swadaya. Pendekatannya dilakukan selayaknya keluarga.
“Tim pendamping Bina Swadaya sekarang sudah seperti keluarga. Bahkan, Om Rudi (Salah seorang pendamping) dan ayah saya sudah seperti sahabat,” ungkap Dinda haru.
Dinda Karina Putri dengan semangat mudahanya telah membuktikan bahwa mimpi besar bisa diwujudkan dari kerja keras yang dilakukan dengan penuh cinta dan tanggung jawab.