- Juli 6, 2026
- Posted by: Astri
- Categories: Articles, Artikel, Events, Jaringan, Peristiwa
Toko Trubus berkolaborasi dengan Lestarisiana, gerakan kolektif dari Kompasiana yang menamai diri mereka “Para Pelestari”. Didorong oleh kepedulian terhadap isu keberlanjutan dan kelestarian alam, komunitas ini rutin menggelar kegiatan yang melibatkan kreator konten, dan masyarakat luas untuk merealisasikan ide-ide pelestarian keanekaragaman hayati. Aksi ini wujudkan melalui kampanye kreatif, penulisan, hingga aktivitas di alam.
Lestarisiana bergerak melalui sejumlah aktivitas. Pertama, memproduksi konten edukatif berbasis cerita lokal tentang lingkungan demi menciptakan dampak yang lebih luas. Kedua, mengadakan walking tour dan ekowisata guna mengajak masyarakat mengenali keanekaragaman hayati serta ekosistem lokal secara langsung. Ketiga, menginisiasi aksi yang menyatukan berbagai komunitas untuk bersama-sama menjaga kelestarian.

Kegiatan bertema Walking the City, Exploring Biodiversity, diawali dengan kegiatan walking tour yang dipandu oleh Annisa Ramadani, seorang Biodiversity Surveyor sekaligus Kompasianer. Dalam sesi ini, Para Pelestari diajak untuk mendengarkan lebih dekat suara-suara alam yang mulai asing di telinga masyarakat. Mulai dari kicauan burung, derik jangkrik, hingga suara serangga kecil lainnya yang tanpa disadari perlahan lenyap dari kehidupan sehari-hari. Sadar atau tidak, kita kini makin jarang menemui burung, kupu-kupu, capung, atau belalang di sekitar kita. satwa-satwa ini seolah enggan singgah di Jakarta yang kerap diselimuti debu dan polusi.
Annisa menjelaskan bahwa hilangnya serangga dan burung merupakan indikator bahwa lingkungan tersebut sudah tidak sehat dan tidak aman untuk dihuni. Fakta ini menjadi pengingat bagi kita untuk terus berbenah. Tujuannya adalah mengembalikan ruang hidup yang aman agar satwa-satwa kecil tersebut dapat kembali menghiasi jalanan dan taman-taman di ibu kota.
Setelah menyusuri alam lewat walking tour, kegiatan dilanjutkan dengan aksi menanam pohon buah bersama Toko Trubus di Taman Kampung Kandang 04, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (4/7/26). Sebanyak 25 peserta yang hadir masing-masing menanam satu pohon buah di area tersebut. Berbagai bibit unggul ditanam hari itu, mulai dari jeruk dekopon, alpukat miki, jambu air, hingga mangga chokanan. Sementara itu, sisa bibit diserahkan kepada pihak Kompasiana untuk ditanam di beberapa area hijau lainnya.
Community Lead Kompasiana, Kevin Alegion mengatakan, kolaborasi dengan Toko Trubus ini bertujuan untuk menyediakan bibit-bibit pohon buah berkualitas yang ditanam di tengah-tengah kota Jakarta.
“Setiap peserta mendapatkan satu bibit buah untuk ditanam. Sebelum mulai, peserta menuliskan nama dan harapan mereka pada name tag yang disediakan. Harapannya, tulisan ini menjadi simbol bahwa hari ini kita semua telah melakukan aksi kebaikan untuk lingkungan,” ujar Kevin.
Dalam prosesnya, para peserta juga dibimbing langsung oleh tim ahli Toko Trubus mengenai teknik menanam yang baik dan benar.

“Tim Trubus mencontohkan cara penanaman yang tepat. Mulai dari melepaskan plastik polybag dengan hati-hati, memasukkan tanah bawaan dari pot sebelumnya, hingga memberikan Pupuk Organik Cair (POC) agar tanaman tidak mengalami stress di media tanam yang baru. Tidak lupa, saya menyematkan kertas berisi nama dan harapan agar pohon ini dapat tumbuh besar, rimbun, dan berbuah,” ucap Tutut Setyorini, salah satu Kompasianer yang turut menjadi peserta.
Kegiatan ditutup dengan Community Sharing bersama Editor Travel Kompas.com, Ayunda Pininta. Pada kesempatan itu, ia mengajak para peserta untuk mulai menuliskan cerita perjalanan, lalu membuka sesi lewat sebuah pertanyaan pemantik yang menarik, “Mengapa perjalanan erat dengan cerita?”.

Menurutnya, tulisan berfungsi untuk menitipkan detail ingatan manusia yang terbatas. Apa yang kita pelajari hari ini mungkin saja mulai memudar di hari-hari berikutnya, dan disinilah pentingnya menulis, untuk menjaga ingatan tersebut tetap abadi.
Pembahasannya kemudian meluncur ke arah Artificial Intelligence (AI) yang kerap menjadi solusi praktis bagi generasi muda. Di tengah diskusi, muncul sebuah pertanyaan reflektif, “Bukankah saat ini sudah ada AI yang mampu menyediakan seluruh detail tersebut?”
“AI hanya merangkum apa yang sudah diceritakan orang lain, ia tidak bisa menciptakan pengalaman baru. Itulah mengapa kita tidak akan pernah tergantikan oleh AI,” ujar Ayunda.
“AI tidak datang langsung ke tempat itu. Ia tidak bisa merasakan sejuknya udara tanam di pagi hari, tidak tahu rasanya berdiskusi hangat dengan teman-teman komunitas, dan tidak bisa mendengar langsung kicauan burung. AI tidak bisa melakukan itu semua,” tuturnya.
Kebingungan memulai dan menentukan topik seringkali menjadi hambatan terbesar dalam menulis. Guna mengantisipasinya, Ayunda menyarankan peserta menetapkan tujuan terlebih dahulu, apakah untuk mengabadikan pengalaman, membagikan manfaat, atau membangun koneksi. Selain itu, ia juga membagikan kiat menulis secara mendalam dalam Community Sharing tersebut.