- Agustus 27, 2026
- Posted by: Astri
- Categories: Articles, Artikel, BBWH
Fenomena iklim ekstrem yang kian sulit diprediksi menuntut sektor pertanian di Indonesia beradaptasi secara cepat dan terukur. Menghadapi potensi kemarau panjang akibat El-Nino pada Musim Tanam II (MT2/Sadon) 2026, para petani yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim (PPTPI) Kabupaten Indramayu, bertransformasi menjadi petani peneliti dalam beberapa tahun terakhir.
Anggota PPTPI, Tarsono dalam paparannya pada webinar Bincang-Bincang Wisma Hijau bertajuk “Menembus Kemarau Ekstrem, Siasat Teknologi dan Strategi Pertanian, Bertahan Hadapi El Nino 2026”, Jumat (21/8/26), mengungkapkan, ia dan rekan-rekan petaninya memperoleh pengetahuan agrometeorologi dari Ahli Agrometeorologi Dunia asal Belanda, Prof. Kees Stigter serta Prof. Yunita T. Winarto dari Warung Ilmiah Lapan (WIL) Universitas Indonesia.
Tarsono menjelaskan dalam menghadapi El Nino 2026 misalnya, ia dan para petani lain telah menyusun strategi mitigasi kekeringan di kawasan sentra beras Jawa Barat tersebut. Strategi ini dirumuskan berdasarkan evaluasi ketat atas dinamika cuaca dan serangan hama pada Musim Tanam I (MT1) 2026. Pelaksanaan MT1 2026 sebelumnya berlangsung di bawah bayang-bayang fenomena La-Nina yang memicu curah hujan tinggi dan kelembapan ekstrem.
“Catatan mandiri Stasiun Pengamatan TSNK 20 menunjukkan curah hujan melonjak drastis hingga mencapai 280 mm pada dekadal ketiga bulan Januari, dan terus berfluktuasi tinggi hingga bulan Mei. Kondisi basah ini sempat memicu merebaknya penyakit Hawar Daun Bakteri atau Kresek, lonjakan populasi Penggerek Batang Padi (PBP), hingga tingginya ancaman hama tikus,” ungkapnya.
Kendati berada di bawah tekanan berat organisme pengganggu tumbuhan, kesiapsiagaan petani Indramayu berhasil mempertahankan rata-rata produktivitas panen pada tingkat 5,6 ton per hektar.
Guna merespons ancaman cuaca secara presisi, para petani tanggap perubahan iklim ini secara mandiri mengumpulkan data iklim dan kondisi lapangan harian. Tarsono mengaku, petani biasanya mengukur volume hujan menggunakan penangkar mandiri di lahan masing-masing serta memantau pergerakan hama lewat lampu perangkap atau light trap. Seluruh data harian tersebut kemudian digabungkan dengan analisis probabilitas historis, kearifan lokal Pranata Mangsa, serta panduan akademis dari pakar iklim Prof. Sue Walker. Skema ini melahirkan skenario musiman digital yang menjadi dasar pengambilan keputusan bertani secara ilmiah.
Lebih lanjut Tarsono mengungkapkan, berdasarkan analisis data mikro lokal, terjadi pergeseran fase iklim dari La-Nina menuju ENSO Netral pada periode Mei hingga Juli 2026 dengan probabilitas 55 persen. Namun, fenomena El-Nino diprediksi mulai mendominasi pada bulan Juni hingga Agustus 2026 dengan tingkat kepastian mencapai 62 persen dan diperkirakan bertahan hingga akhir tahun. Dampak El-Nino tercermin jelas dari penurunan drastis proyeksi curah hujan yang diprakirakan hanya mencapai sekitar 10 mm pada September dan 15 mm pada Oktober, sebelum berangsur naik ke angka 110 mm pada November.
Kondisi tersebut diproyeksikan memicu kenaikan suhu udara ekstrem di kisaran 34 hingga 36 derajat Celsius dengan tingkat evaporasi harian mencapai 5 hingga 10 mm. Penguapan yang sangat cepat ini berpotensi mengeringkan lahan tadah hujan dalam waktu singkat, memicu stres air pada tanaman, meningkatkan risiko puso atau gagal panen, serta meluaskan penyebaran virus Kerdil Rumput dan Kerdil Hampa.
Untuk meredam risiko kekeringan pada MT2 (Sadon), Tarsono dan petani lain merumuskan serangkaian strategi teknis presisi, misalnya, persemaian padi dijadwalkan secara ketat pada rentang 5 hingga 15 Juni 2026 agar masa bunting besar atau primordia jatuh pada 15 hingga 24 Agustus 2026. Dengan skenario ini, fase kritis pembentukan malai dan pembungaan dapat diselesaikan sebelum puncak kemarau melanda.
“Strategi ini kami perkuat dengan menerapkan sistem genggong atau tanam serempak, untuk memutus rantai perkembangan hama dan menghindari puncak kemarau, yang dipadukan dengan penggunaan varietas padi berumur pendek,” ujar Tarsono.
Petani juga melakukan percepatan olah tanah segera setelah panen MT1 untuk mengamankan sisa kelembapan tanah, yang didukung oleh peningkatan koordinasi bersama Dinas PU Pengairan, kesiapsiagaan infrastruktur pompanisasi, serta penerapan prinsip hemat air di lahan sawah. Transformasi petani Indramayu menjadi peneliti mandiri membuktikan bahwa keberhasilan menjaga ketahanan pangan nasional di tengah krisis iklim sangat bergantung pada ketepatan data, keterpaduan teknologi lokal, dan kesiapsiagaan langkah di lapangan.
Ketangguhan petani Indramayu kini menjadi sinyal kuat bagi pertanian dalam negeri ke depannya. Di tengah ancaman iklim yang semakin tak menentu, keberanian untuk belajar, meneliti, dan mengambil keputusan sangat diperlukan para petani. Sebab pada akhirnya, menembus kemarau ekstrem bukan soal beradu nasib dengan cuaca, namun menyangkut kesiapan petani Indonesia untuk terus beradaptasi dan berinovasi.