Bina Swadaya di SEAL Asia 2026: Membangun Ekosistem Pertanian yang Inklusif dan Responsif

Yayasan Bina Swadaya berkesempatan menjadi pembicara dalam 5th Social Enterprise Advocacy and Leveraging (SEAL) Asia Conference. Konferensi yang diselenggarakan oleh Institute for Social Entrepreneurship in Asia (ISEA) ini berlangsung di Quezon City, Filipina, pada 12—14 Agustus 2026.

Membawakan materi bertajuk “Empowering Women through Social Enterprise: Building Inclusive and Care-Responsive Agricultural Value Chains in Indonesia”, Sekretaris Eksekutif Yayasan Bina Swadaya, Emilia Setyowati, memaparkan, pertanian menjadi tulang punggung yang menopang perekonomian Indonesia. Sektor ini menopang kehidupan 33,5 juta petani yang tersebar di sekitar 27,7 juta rumah tangga. Kendati demikian, sektor ini masih didominasi oleh 90% petani dengan kepemilikan lahan kurang dari 0,5 hektare.

“Di balik terbatasnya ruang dan daya, tangan-tangan perempuan tetap menopang seluruh roda pertanian. Mereka hadir di setiap prosesnya, mulai dari tahap penanaman, pengelolaan hasil panen, penanganan pascapanen, menyalurkannya ke pasar, hingga menyajikan hidangan bergizi di meja makan. Bahkan, sekitar 10% rumah tangga pertanian di Indonesia dipimpin langsung oleh perempuan,” ujar Emilia dalam konferensi tersebut.

Ironisnya, kontribusi besar perempuan tani tak diimbangi akses yang memadai terhadap modal, teknologi, pelatihan, dan pasar. Ruang gerak mereka untuk memimpin juga terhambat oleh norma gender tradisional. Selain itu, tingginya beban mengurus keluarga tanpa bayaran (unpaid care work) menyita banyak waktu, sehingga membatasi peluang mereka untuk maju dan berbisnis.

Menurut Emilia, Bina Swadaya telah berkiprah sebagai lembaga kewirausahaan sosial sejak 1967 untuk merangkul para petani, peternak, pengusaha kuliner rumahan, hingga UMK. Langkah ini diambil demi memacu keterlibatan ekonomi sekaligus mencetak pemimpin-pemimpin baru dari kalangan marjinal.

“Kami merangkul mereka secara utuh, melalui pelatihan teknis, hingga membuka akses pasar melalui Toko Trubus, kami membangun juga kelompok swadaya masyarakat serta mendorong kesadaran akan pentingnya berbagi peran secara adil di rumah tangga,” tambahnya.

Di panggung forum SEAL Asia 2026, ia membagikan cerita sukses program peternakan sapi perah organik berbasis pasar di Nongkojajar, Pasuruan, Jawa Timur. Melalui konsorsium lintas negara yang melibatkan Bina Swadaya, KPSP Setia Kawan, Arla Foods, dan mitra lainnya, program ini berhasil melatih 2.000 petani, mendampingi 135 Kelompok Swadaya Masyarakat, memfasilitasi sertifikasi organik untuk 64 petani, serta menciptakan 20 lapangan kerja baru yang dipimpin perempuan. Salah satu sosok inspiratifnya adalah Dinda, peternak muda yang konsisten menerapkan animal welfare, sementara kelompok perempuan lainnya sukses mengolah susu menjadi produk bernilai tinggi seperti yogurt, keju ricotta, halloumi, hingga cream cheese.

Keberhasilan serupa juga terwujud dalam program ekonomi kreatif di Sulawesi Selatan melalui program ekonomi kreatif yang merangkul para ibu rumah tangga dan lansia. Lewat sentuhan pertanian organik, seni pengolahan makanan, dan penguatan keuangan, intervensi ini membawa harapan bagi 958 warga di 61 kelompok usaha. Kerja keras mereka membuahkan hasil manis: pendapatan usaha mikro melonjak dramatis hingga 488% dan omzet kelompok kini sukses menyentuh angka puluhan juta rupiah.

Upaya memperdayakan masyarakat ini terus dijalankan secara konsisten melalui tiga pilar The Bina Swadaya Way, Rekayasa Sosial (Social Engineering): Disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter warga lokal. Rekayasa Ekonomi (Economic Engineering): menerapkan model Making Markets for the Poor (M4P) agar pasar lebih ramah bagi masyarakat bawah. Teknologi & Inovasi Pertanian: menghadirkan sentuhan teknologi modern untuk efisiensi dan hasil yang maksimal.

Jejak di lapangan mengajari kita bahwa pemberdayaan perempuan paling efektif ketika pelatihan, jalan menuju pasar, dukungan modal, dan rangkulan komunitas saling menopang dalam satu ekosistem yang utuh dan selaras.

Untuk memperluas dampak positif ini secara nasional, diperlukan dukungan pembiayaan jangka panjang, perluasan literasi digital, kemitraan lintas sektor, serta kebijakan publik yang mengakui dan mengurangi beban kerja perawatan tak berbayar bagi perempuan pedesaan.

“Pemberdayaan perempuan melalui rantai nilai pertanian yang inklusif bukan hanya soal keadilan gender, melainkan langkah strategis menuju kemandirian ekonomi masyarakat secara berkelanjutan,” tutup Emilia.



Tinggalkan Balasan