- Januari 14, 2026
- Posted by: Astri
- Categories: Articles, Artikel
Depok — Bina Trubus Swadaya (BTS) kembali menerima kunjungan Business Development Manager IFOAM Asia, Kong Haoyuan, di Grha Bina Trubus Swadaya, Depok, Senin (12/1/26). Dalam kunjungan kedua tersebut, pria yang akrab disapa Harry tengah membidik komoditas organik asal Indonesia untuk ‘diterbangkan’ ke China.
Sebagai informasi, pasar produk organik China mengalami ledakan luar biasa pascapandemi Covid-19. Tak main-main, Negeri Tirai Bambu itu kini menduduki peringkat ketiga sebagai pasar organik terbesar di dunia, setelah Amerika Serikat dan Eropa.
“Saya kembali datang ke Indonesia untuk mempromosikan pasar organik di China. Saya ingin melibatkan lebih banyak produk organik Indonesia di sana,” jelas Harry, saat berbincang dengan Tim Komunikasi Bina Trubus Swadaya di Grha Bina Trubus Swadaya, Depok, Senin (12/1/26).
Menurutnya, salah satu komoditas yang permintaannya sedang meledak di China adalah kelapa. Warga China kini sedang menggandrungi tren minum kopi yang dicampur air kelapa. Namun, produksi kelapa di China sangat terbatas. Kelapa lokal hanya tumbuh di Provinsi Hainan dan hanya mampu memenuhi 20 persen kebutuhan nasional.
“Artinya 80 persen sisanya harus impor. Kami punya permintaan sangat besar untuk kelapa, baik air kelapa maupun santan,” ujarnya.
Namun, ia memberi catatan bagi pelaku usaha di Indonesia bahwa China tidak mencari kelapa bulat segar karena kendala masa simpan yang singkat, hanya 5—7 hari. Oleh karena itu, Harry mendorong pelaku usaha domestik untuk melakukan hilirisasi.
“Indonesia punya produk yang berkualitas, namun perlu diolah terlebih dahulu. Jangan lagi mengirim kelapa segar, kirimkan dalam bentuk air kelapa atau santan yang telah diproses di pabrik,” tambahnya.
Untuk mempermudah perdagangan ini, China telah menyediakan jalur khusus melalui Pulau Hainan. Saat ini, Hainan telah ditetapkan sebagai Free Trade Port atau kawasan pelabuhan dagang bebas.
Dari sisi logistik, jalur ini sangat menguntungkan. Jika sebelumnya pengiriman dari Jakarta harus transit lama di Singapura hingga memakan waktu 14 hari, kini pengiriman langsung ke Hainan hanya membutuhkan waktu 7 hari.
“Kita bisa membawa produk organik Indonesia ke Hainan untuk diproses, lalu dijual ke Korea, Jepang, hingga ke Asia Timur,” bebernya.
Lebih lanjut harry mengungkapkan, banyak eksportir yang kesulitan saat mendengar ketatnya sertifikasi organik di China. Namun, harry memastikan bahwa standar organik Indonesia dan China sebenarnya memiliki kemiripan.
Untuk urusan ini, IFOAM Asia siap membantu pelaku usaha menjalin hubungan dengan lembaga sertifikasi di China. Selain itu, riset pasar juga menjadi hal yang tak boleh ditinggalkan.
“Semua merek asing butuh partner untuk tahu posisi produk mereka di pasar China. Kami memiliki mitra riset di Hong Kong, Brandove, yang bisa membantu melakukan riset produk sebelum benar-benar masuk,” ucapnya.
Pihaknya juga melihat adanya potensi kolaborasi antara IFOAM Asia dengan Bina Trubus Swadaya dalam mengedukasi petani lokal. Ia ingin petani Indonesia mampu mengolah produk dengan standar organik China sehingga mempermudah proses sertifikasi.
“Kita bisa bekerja sama dalam mengedukasi petani agar mereka dapat menanam dan mengolah produk sesuai standar China. Kami dapat membantu mempersiapkan dan menjualnya,” tutur Harry.
Yang terpenting bagi Harry kesejahteraan petani harus menjadi tujuan utamanya. “Bagi petani, hal terpenting adalah produk mereka terjual dengan harga yang layak. Di China, kami menghubungkan petani dengan perusahaan rantai pasok yang kredibel, dan semangat yang sama ingin kami bawa ke Indonesia,” pungkasnya. Selain kopi dan kelapa, Harry mengaku terus mencari komoditas potensial lainnya dari Indonesia untuk dipasarkan ke China.