Indonesia Curi Perhatian di Organic Moment Asia 2026

Produk organik Nusantara kembali memukau panggung internasional melalui keikutsertaan dalam ajang bergengsi Organic Moments Asia 2026 yang berlangsung di Shanghai, Tiongkok, pada 14—17 Juni 2026. Partisipasi delegasi Indonesia dalam pameran ini berhasil menarik perhatian para pelaku industri serta pembeli internasional. Melalui dukungan penuh dari Aliansi Organik Indonesia (AOI) dan IFOAM Asia, perwakilan Indonesia memboyong berbagai macam produk organik terbaik, produk turunan bernilai tambah, kopi pilihan kualitas tinggi (specialty coffee), hingga kerajinan lokal untuk diperkenalkan secara langsung di pasar Asia.

Kehadiran Indonesia di ajang tersebut membawa kebanggaan tersendiri bagi Bina Trubus Swadaya, khususnya atas kontribusi Emilia Setyowati selaku Executive Secretary Trubus Bina Swadaya yang juga menjabat sebagai Vice President IFOAM Asia. Di hadapan forum dunia, beliau memaparkan peta peluang sekaligus tantangan yang dihadapi produk organik Nusantara di panggung global.

Melalui ajang ini terbukti bahwa produk organik dan komoditas lokal kita memiliki daya saing yang sangat kuat. Selain  mempromosikan deretan produk unggulan, Indonesia juga berhasil memanfaatkan panggung internasional tersebut untuk menggaungkan kekayaan budaya nasional sehingga memperkuat posisi tawar bangsa di mata dunia.

Untuk memastikan keterlibatan ini membuahkan hasil yang konkret, delegasi Indonesia secara proaktif dalam memperluas akses pasar dan membangun jejaring organik global. Hal ini diwujudkan melalui agenda Buyers Matchmaking yang secara khusus mempertemukan para produsen lokal dengan pembeli internasional demi membuka peluang transaksi ekspor. Selain itu, dilakukan pula konsultasi sertifikasi bersama SRS Global Certification untuk memastikan seluruh standar mutu produk lokal telah sesuai dengan regulasi internasional.

Proses ini disempurnakan dengan kolaborasi global melalui komunikasi bersama para pelaku industri organik dunia agar komoditas organik Indonesia dapat terintegrasi dengan baik ke dalam ekosistem pasokan global.

Ketertarikan pasar internasional terhadap produk organik didorong oleh perubahan global yang terus bergerak positif. Menurut analisis Emilia, saat ini terdapat tiga faktor makro yang memicu lonjakan permintaan pasar organik di tingkat dunia, yakni pertumbuhan populasi global yang meningkatkan kebutuhan total akan pasokan pangan. Kedua, didorong oleh kenaikan disposable income atau pendapatan masyarakat yang siap dibelanjakan, sehingga meningkatkan daya beli terhadap produk pangan yang lebih sehat. Faktor ketiga dibarengi dengan tingginya tren sustainable living di mana kesadaran kolektif masyarakat dunia mulai beralih ke gaya hidup yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Sebagai negara agraris yang sangat kaya, Indonesia modal alam yang luar biasa untuk menjawab kebutuhan dan bersaing ketat di pasar global tersebut. Berbagai komoditas andalan seperti beras, kopi, kakao, teh, rempah-rempah, hingga palm sugar menjadi daya tarik karena keasliannya. Di sektor kelapa, Indonesia bahkan sukses menancapkan dominasinya sebagai raja kelapa global dengan menguasai sebesar 27,15% dari total perdagangan kelapa di seluruh dunia. Tidak kalah memukau, potensi sektor akuakultur Indonesia juga menduduki peringkat ke-3 terbesar di dunia, dengan wilayah potensial yang tersebar di wilayah Kalimantan Timur, Lampung, hingga Aceh.

Kendati modal alam yang dimiliki sangat berlimpah, pasar internasional khususnya Negeri Tirai Bambu terkenal menerapkan pengawasan yang sangat ketat. Emilia menegaskan bahwa para pelaku usaha pertanian organik nasional wajib memenuhi empat standar utama agar produknya sukses menembus pasar Tiongkok. Pertama adalah regulasi, di mana pelaku usaha harus patuh sepenuhnya pada hukum perdagangan internasional yang berlaku. Kedua adalah konsistensi, yang menuntut kemampuan untuk terus menjaga mutu produk serta kepastian pasokan secara berkelanjutan. Ketiga adalah safety and traceability berupa pemenuhan standar keamanan pangan yang jelas serta sistem ketertelusuran yang valid dari hulu hingga hilir. Standar keempat adalah logistik, yang mengutamakan pada efisiensi jalur distribusi agar biaya operasional dapat ditekan sehingga harga jual produk tetap ramah di kantong.



Tinggalkan Balasan