- Juni 22, 2026
- Posted by: Astri
- Categories: Articles, Artikel
Tren gaya hidup sehat yang tengah melanda masyarakat global secara otomatis melonjakkan permintaan terhadap produk pertanian organik bersertifikat. Selam aini, pasar raksasa seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat masih menjadi tujuan utama ekspor komoditas hijau tersebut.
Namun, dinamika pasar kini mulai bergeser ke Asia. Dalam kegiatan Organic Moment Asia (OMA) 2026 yang berlangsung di National Exhibition and Convention Center, Shanghai, China, 15—17 Juni 2026, Indonesia memaparkan peta peluang sekaligus tantangan besar untuk menembus pasar Negeri Tirai Bambu tersebut.
Menurut Vice President IFOAM Asia sekaligus Executive Secretary Trubus Bina Swadaya, Emilia Setyowati, lonjakan pasar organik dunia saat ini dipicu oleh tiga faktor, seperti pertumbuhan populasi, meningkatnya pendapatan siap beli (disposable income), serta tingginya kesadaran konsumen akan gaya hidup sehat dan upaya pelestarian lingkungan.
“Sebagai negara agraris, Indonesia diberkahi keanekaragaman hayati yang luar biasa. Berbagai komoditas andalan mulai dari beras, kelapa, kopi, kakao, hingga teh organik terus diproduksi. Tak ketinggalan, sektor rempah-rempah, tanaman herbal, gula kelapa (palm sugar), buah tropis, hingga umbi-umbian memiliki potensi ekspor yang sangat menjanjikan,” jelas Emilia dalam paparannya di Organic Moment Asia (OMA) 2026, Shanghai, China, Senin (15/6/26).
Di balik manisnya peluang tersebut, industri organik tanah air masih dibayangi pekerjaan rumah yang besar. salah satunya adalah fluktuasi luas lahan pertanian organik di Indonesia. Pada tahun 2022, total luas lahan pertanian organik di tanah air tercatat sebesar 87.195 hektar. Meskipun terdengar luas, pemanfaatan lahan untuk sistem organik ini baru menyentuh 0,14 persen dari total lahan pertanian nasional. Angka ini membuat posisi Indonesia masih tertinggal jauh di bawah negara-negara tetangga di kawasan ASEAN.
Sebagai perbandingan, Thailand berada di posisi terdepan dengan lahan organik mencapai 241.497 hektar atau sekitar 1,09 persen dari total lahan mereka, dan berhasil mencatatkan volume ekspor ke Uni Eropa sebesar 15.733 Metric Ton (MT). Di posisi kedua, Filipina mengantongi 228.514 hektar lahan organik yang setara dengan 1,84 persen dari total lahan pertaniannya. Sementara Indonesia, meskipun memiliki jumlah produsen yang cukup banyak yakni mencapai 22.709 petani, volume ekspor Indonesia ke Uni Eropa baru berada di angka 9.387 MT. Angka ekspor ini bahkan masih kalah dari Vietnam yang mencatatkan pengapalan sebesar 12.996 MT, meskipun luas lahan organiknya hanya 31.242 hektar.
Selain sektor pertanian, Indonesia sebenarnya mengantongi modal alam yang melimpah pada sektor perikanan budidaya atau akuakultur organik. Berdasarkan data FAO, Indonesia sukses menempati peringkat ketiga sebagai produsen akuakultur terbesar di dunia setelah China dan India. Wilayah pesisir seperti Kalimantan Timur, Lampung, dan Aceh teridentifikasi memiliki potensi luar biasa, meski dinilai belum, digarap optimal untuk memenuhi standar ketat pasar internasional.
Untuk komoditas kopi organik, Indonesia mencatatkan tren pertumbuhan lahan yang positif dari 31.393 hektar pada 2019, menjadi 31.772 hektar pada tahun 2022, dengan Sumatra Selatan sebagai raja kopi nasional yang menguasai 20,99 persen lahan. Sementara pada sektor kakao, produksi nasional tahun 2023 bertengger di angka 632,12 ribu ton dengan wilayah Sulawesi sebagai lumbung utamanya. Di sisi lain, Indonesia menjadi penguasa mutlak perdagangan kelapa global dengan kontribusi mencapai 27,15 persen, mengungguli Filipina dan India sehingga produk kopra serta minyak kelapanya terus menjadi primadona internasional.
Hubungan dagang antara Indonesia dan China di tahun 2026 ini menunjukkan dinamika yang makin strategis, di mana produk organik asli Nusantara menjadi barang yang sangat potensial dan diburu oleh pasar lokal di sana. Namun, untuk mencicipi gurihnya pasar China, Emilia menegaskan bahwa pelaku usaha tanah air wajib memenuhi empat standarisasi ketat, yaitu Regulasi (regulation) terkait hukum dagang, Konsistensi (consistency) mutu dan pasokan, Standar Keamanan dan Ketertelusuran (safety & traceability standard), serta efisiensi Logistik agar harga produk tetap ramah di kantong konsumen yang sensitif terhadap harga.
Selain urusan teknis, memahami karakter konsumen China adalah kunci kemenangan. Konsumen di Negeri Tirai Bambu dikenal sangat perfeksionis terhadap penampilan fisik produk (product appearance), menggandrungi kemasan premium, serta menempatkan faktor keamanan pangan di atas segalanya.
Proses negosiasi dagang juga akan berjalan mulus jika menggunakan bahasa Mandarin. Tak kalah penting, pelaku usaha harus piawai membangun Guanxi, yaitu jalinan relasi interpersonal jangka panjang yang saling percaya, sekaligus tetap waspada melakukan verifikasi mendalam terhadap rekam jejak calon pembeli guna menghindari risiko penipuan.
Emilia menambahkan, tantangan utama Indonesia saat ini adalah seberapa cepat negara ini bisa memperluas sertifikasi lahan organik, meningkatkan kuantitas produksi, dan mempercepat standar keamanan pangan dari hulu ke hilir. Kepatuhan terhadap regulasi, konsistensi pasokan, serta memahami karakter konsumen global yang kritis terhadap aspek kesehatan dan lingkungan adalah modal penting bagi Indonesia jika ingin mengubah potensi alamnya yang melimpah untuk mendongkrak pasar organik dunia.