Bukan Hanya Laris, Ini Rahasia Usaha Mikro Mandiri dan Naik Kelas

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah sangat berperan dalam memajukan perekonomian nasional. Sebagai tulang punggung ekonomi lokal, sektor usaha mikro dan kecil menciptakan lapangan kerja, mendorong inovasi, serta berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi. Kendati demikian, pelaku usaha mikro masih kerap menghadapi berbagai kendala, terutama saat bersaing di pasar yang kian kompetitif. Untuk memenangkan persaingan tersebut, pelaku usaha mikro perlu menyadari pentingnya memperhatikan berbagai aspek dan adaptasi digital untuk mencapai keberhasilan pertumbuhan usaha.

Berangkat dari keresahan tersebut, UMKM Pintar dan Platform Usaha Sosial (Plus), mengajak Bina Swadaya memberikan materi kepada para pelaku usaha mikro untuk bertumbuh, dengan menggelar Bincang UMKM Episode 5 bertema “Dari Ketergantungan ke Kemandirian”. Webinar ini ditujukan untuk membuka perspektif bagi para pelaku usaha mikro untuk naik kelas.

Pasalnya di tengah pesatnya perkembangan teknologi saat ini konsumen akan mencari produk yang berkualitas, kemudahan dalam menemukan informasi dan berinteraksi, serta melakukan transaksi secara cepat dan praktis melalui platform digital.

Bahkan perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi salah satu alasan mengapa digitalisasi semakin penting bagi usaha mikro. Sebelum melakukan pembelian, banyak konsumen kini mencari informasi produk melalui internet, membaca ulasan konsumen, membandingkan harga, hingga bertransaksi secara online.

Direktur Bina Swadaya Konsultan, Agung Prasetio mengungkapkan transformasi digital bagi pelaku usaha mikro sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, dan naik kelas di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital.

“Jika sebuah bisnis tidak memiliki kehadiran digital, peluang untuk ditemukan oleh calon konsumen menjadi lebih kecil. Karena itu kemampuan memanfaatkan teknologi sangat penting dalam menentukan pertumbuhan usaha,” kata Agung dalam sesi webinar bersama UMKM Pintar bertema “Dari Ketergantungan ke Kemandirian”, Jumat, (4/9).

Lanjut Agung, pendampingan bagi pelaku usaha mikro adalah proses pelatihan terstruktur untuk membantu pemilik usaha meningkatkan kapasitas, daya saing, dan pengelolaan usaha agar bisa berkembang secara berkelanjutan. Pasalnya, masih banyak pelaku usaha mikro menghadapi kendala, seperti pencatatan keuangan yang belum teratur, pengelolaan usaha yang masih informal, percampuran keuangan pribadi dan usaha, keterbatasan akses pengetahuan, hingga kesulitan mendapatkan pembiayaan yang terjangkau, akibatnya usahanya sulit tumbuh.

Di sisi lain, kemandirian usaha tidak otomatis menandakan usaha tersebut dalam kondisi sehat. Pelaku usaha perlu memahami keuntungan bersih, mengelola arus kas (cash flow) dengan baik, mengurangi ketergantungan pada satu sumber pembeli atau modal, serta mampu mengambil keputusan secara akurat agar usaha dapat tumbuh secara mandiri.

“Sebagai implementing program pemberdayaan Yayasan Bina Swadaya (Trubus Bina Swadaya), Bina Swadaya Konsultan secara konsisten mendampingi pelaku usaha mikro,” ujarnya.

Pendampingan tersebut mencakup diagnosis masalah usaha, penyusunan rencana kerja sesuai prioritas, pengelolaan pencatatan keuangan, legalitas usaha, pemasaran digital, hingga pengembangan akses pasar untuk membangun bisnis yang lebih kuat dan mandiri.

Agung mencontohkan studi kasus pendampingan pada usaha mikro gula aren 100 persen air nira murni. Melalui intervensi yang meliputi penyusunan Business Model Canvas (BMC), perbaikan kemasan, pengurusan legalitas, pemasaran digital, uji produk, hingga survei pasar untuk menemukan nilai unik (unique selling proposition), omzet usaha gula aren tersebut melonjak drastis. Omzet yang awalnya sekitar Rp1.015.000 pada Mei, naik menjadi Rp1.300.000 hingga Rp2.300.000 pada Juli.

Peningkatan omzet hingga 135 persen dalam waktu tiga bulan ini terjadi bersamaan dengan perubahan pengelolaan usaha dan akses pasar yang lebih baik, yang turut meningkatkan kepercayaan diri pelaku usaha.

Meski demikian, Agung menegaskan bahwa peningkatan omzet tidak bisa diklaim semata-mata karena pendampingan, dan kenaikan omzet saja belum tentu mencerminkan usaha yang sehat jika pemilik tidak menguasai arus kas dan margin keuntungan. Usaha yang bergantung pada satu pembeli, satu pemasok, satu saluran penjualan, atau satu sumber modal sangat rentan terhadap gangguan eksternal.

Lima tahapan perkembangan usaha meliputi laris (transaksi), untung (margin), sehat (arus kas terkelola), mandiri (pengambilan keputusan berdasarkan data), dan bertumbuh (fondasi kuat untuk ekspansi usaha).

“Kita tidak sedang mencari satu resep untuk semua usaha mikro. Kita sedang membangun kapasitas agar setiap pelaku usaha mampu membaca dan mengelola bisnisnya secara mandiri. Bagi kami di Bina Swadaya, membuat usaha mikro ‘laris’ itu belum cukup. Kami membantu mereka menjadi sehat, mandiri, dan siap bertumbuh. Sebab, usaha yang mandiri lahir dari keputusan yang berani,” tutup Agung.

Menjawab kebutuhan tersebut, Women’s World Banking, SeaBank, dan Platform Usaha Sosial (PLUS) menghadirkan UMKM Pintar, sebuah platform edukasi daring yang menyediakan materi praktis terkait keuangan, manajemen bisnis, dan pemasaran digital, serta dilengkapi dengan berbagai tools pendukung yang dapat diakses secara gratis, seperti Kalkulator Pintar dan fitur cek kesehatan bisnis di umkmpintar.id guna membangun tata kelola finansial yang rapi, bankable, dan siap naik kelas secara berkelanjutan. “Kalkulator Pintar UMKM Pintar tersedia secara online tanpa perlu instalasi aplikasi, dengan kategori manufaktur, perdagangan, dan jasa sesuai jenis usaha. Pengisian data meliputi identitas produk, jumlah produksi, tenaga kerja, bahan baku utama dan pendukung, kemasan, overhead seperti listrik dan gas, serta biaya lain-lain yang terkait dengan usaha,” ungkap Lead Trainer Plus, Aulia Siska.



Tinggalkan Balasan