RI Jadi Negara Pertama yang Terapkan Kurikulum Standar SPHERE Ramah Disabilitas

Indonesia kembali mencatatkan langkah progresif dalam dunia kemanusiaan internasional. Sebagai negara dengan tingkat risiko bencana yang tinggi, layanan kemanusiaan yang setara dan inklusif mutlak diperlukan. Guna merespons persoalan tersebut, pelatihan ini digelar untuk memastikan tidak ada satu pun kelompok masyarakat yang tertinggal saat bencana melanda.

Bina Trubus Swadaya menjadi salah satu lembaga yang turut serta dalam pelatihan Humanitarian Charter and Minimum Standards in Humanitarian Response (SPHERE) inklusif. Acara yang berlangsung intensif selama lima hari ini digelar di Banda Aceh, 6—10 April lalu.

Kegiatan ini terlaksana untuk memperkuat kapasitas organisasi organisasi penyandang disabilitas (OPDis) serta para aktor kemanusiaan. Sasaran kegiatannya adalah menerapkan standar minimum SPHERE secara inklusif, sehingga respons darurat bencana ke depan dapat menjangkau seluruh kelompok berisiko dengan adil.

Kolaborasi Lintas Sektor dan Kesetaraan Gender

Pelatihan intensif ini diikuti oleh 37 peserta dari berbagai organisasi yang terdiri dari 22 laki-laki dan 15 perempuan. Dari total peserta tersebut, 17 diantaranya merupakan disabilitas yang aktif menyuarakan hak-hak kelompok rentan, sementara 20 peserta lainnya merupakan perwakilan dari berbagai lembaga kemanusiaan. Rangkaian pelatihan selama lima hari pun menjadi lebih hidup berkat panduan para fasilitator berpengalaman di bidang standar kemanusiaan dan inklusi disabilitas.

Indonesia Cetak Sejarah

Melalui kegiatan ini, Indonesia mengukuhkan posisinya sebagai negara pertama di dunia yang mengadopsi kurikulum pelatihan Standar SPHERE untuk melibatkan penyandang disabilitas secara aktif dan partisipatif.

Keberhasilan penyelenggaraan acara tidak lepas dari sinergi multipihak yang kuat. Program ini terlaksana berkat dukungan co-funding dari Asian Disaster Reduction and Response Network (ADRRN) dan Plan International Indonesia.

Perwakilan dari Bina Trubus Swadaya, Dhane Carlo, membagikan pengalamannya setelah mengikuti rangkaian pelatihan tersebut. Menurutnya, sinergi yang terbangun dalam pelatihan ini menjadi bukti adanya visi serupa dalam membenahi sistem kemanusiaan di Indonesia.

“Melalui sinergi ini kita sedang membangun komitmen dalam memperkuat sistem tata kelola kebencanaan. Komitmen bersama ini memastikan bahwa standar kemanusiaan yang inklusif dapat diimplementasikan secara konsisten di lapangan. Di mana hak kelompok rentan dan penyandang disabilitas mutlak dipenuhi secara setara saat terjadi bencana,” ujar Dhane Carlo.

Dengan diadopsinya standar SPHERE inklusif ini, kesiapsiagaan Indonesia dalam menghadapi bencana diharapkan tidak lagi bertumpu pada kecepatan penanganan, namun juga pada ketepatan dan kesetaraan hak bagi seluruh korban terdampak.



Tinggalkan Balasan