Kunjungan dan Konsultasi Kelembagaan PeaceGeneration Indonesia ke Bina Trubus Swadaya

Co-Founder sekaligus Executive Director PeaceGeneration Indonesia, Irfan Amali memboyong timnya berguru ke Bina Trubus Swadaya. Meski telah berdiri lebih dari setengah abad, nilai-nilai yang diterapkan lembaga ini sukses membuatnya terkejut sekaligus terinspirasi.

Ia menceritakan pengalamannya saat berdiskusi langsung dengan sang Pendiri Bina Swadaya Bina Swadaya, Bambang Ismawan. Dalam pertemuan tersebut, ia mendapatkan pandangan tentang nilai-nilai murni yang melatarbelakangi lahirnya Bina Swadaya puluhan tahun silam.

“Kami disambut dengan sangat ramah. Saya membawa pulang pemahaman mengenai core nilai dan visi misi yang menjadi ruh lembaga ini,” ungkap Irfan di sela kegiatannya di di Wisma Hijau, Cimanggis, Depok, Selasa (20/1/26).

Satu hal yang paling membekas untuknya adalah kisah masa lalu Bambang Ismawan tentang nasib petani. Sebuah keresahan yang ternyata menjadi bahan bakar lahirnya Bina Swadaya.

“Bina Swadaya lahir dari sebuah pertanyaan jujur sekaligus ironis tentang nasib petani dan absennya literasi pertanian di negeri agraris ini. Dari titik itulah, Pak Bambang membangun gerakan yang bertahan melintasi zaman,” tambahnya.

Irfan sangat mengagumi sisi visioner Bambang Ismawan. Jauh sebelum istilah Social Entrepreneurship menjadi populer di Indonesia, Bina Swadaya telah lebih dulu membuktikan bahwa gerakan sosial bisa berjalan beriringan dengan kemandirian wirausaha.

“Satu pelajaran berharga bagi PeaceGeneration adalah Bina Swadaya mematahkan stigma bahwa gerakan sosial selalu bergantung pada dana hibah atau donor. Namun saya melihat Bina Swadaya mandiri dan ini seharusnya menjadi kiblat bagi lembaga lainnya,” tutur Irfan.

Irfan sangat terkesan dengan filosofi kerja yang disampaikan Bambang Ismawan. “Bagi beliau, kasta tertinggi dalam bekerja bukanlah mengejar materi, melainkan pelayanan. Bekerja demi uang hanyalah job. Bekerja atas dorongan diri adalah entrepreneurship. Namun, Pak Bambang telah mencapai level tertinggi, bekerja untuk Tuhan. Di titik itu, pelayanan tidak lagi dijalankan sebagai kewajiban, melainkan sebuah panggilan,” ungkapnya.

Kunjungan tim PeaceGeneration selama dua hari tersebut, bagi Irfan adalah sebuah life changing. Di usianya yang ke-17 tahun, PeaceGeneration telah bertransformasi menjadi social enterprise dalam lima tahun terakhir untuk dampak yang lebih luas.

Irfan menegaskan, Bina Swadaya adalah jawaban atas pencarian benchmark yang selama ini coba mereka pecahkan dalam perjalanan PeaceGeneration.

“Hari ini terjawab sudah. Inilah jalan yang ingin kami tempuh. Jalan yang telah dirintis oleh Bina Swadaya selama 59 tahun. Kami berharap pertemuan ini menjadi awal dari kolaborasi besar di masa depan,” pungkasnya.



Tinggalkan Balasan