- Oktober 20, 2026
- Posted by: Astri
- Categories: Articles, Artikel, BBWH
Bagi sebagian anak muda, menjadi petani mungkin bukan pilihan karier yang pertama kali terlintas ketika membayangkan masa depan. Pekerjaan ini kerap diasosiasikan dengan pendapatan yang tidak menentu, risiko gagal panen, dan kehidupan yang jauh dari gambaran kesuksesan profesional. Profesi petani bahkan dianggap kurang bergengsi dibandingkan pekerjaan lain yang menawarkan jabatan dan penghasilan tetap.
Pandangan tersebut menjadi salah satu persoalan yang ingin dijawab Janu Muhammad, melalui platform Sayur Sleman yang dirintisnya di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 2020.
Berbekal latar belakang pendidikan geografi, pengalaman sebagai guru dan kepala sekolah, serta kedekatan dengan kehidupan petani sejak kecil, ia memilih menempuh jalan yang tidak pernah sepenuhnya dibayangkan sebelumnya. Ia ingin mengembangkan usaha pertanian sekaligus membuka pandangan generasi untuk melihat sektor ini dari perspektif berbeda. baginya, tantangan pertanian adalah bagaimana memastikan adanya generasi yang bersedia melanjutkan sekaligus mengembangkan sektor tersebut.
“Seperti kita tahu, Indonesia saat ini sedang darurat generasi petani muda. Tidak banyak yang menginginkan profesi menjadi seorang petani ataupun agri-planner,” ujar Janu saat menjadi pembicara webinar Bincang-Bincang Wisma Hijau, Jaumat (16/10/26).

Pernyataan itu sebenarnya adalah kegelisahan Janu terhadap masa depan pertanian. Ketika anak muda enggan terlibat, siapa yang akan mengembangkan inovasi, membangun usaha, dan menjaga keberlanjutan rantai pasok pangan.
Janu memahami bahwa rendahnya minat generasi muda terhadap pertanian tidak dapat dilepaskan dari persepsi sosial yang telah terbentuk lama.
Ia tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan dunia pertanian. Kedua orang tuanya merupakan pedagang sayur sekaligus petani. Sejak kecil, ia terbiasa mengikuti orang tuanya ke pasar pada pagi hari dan menemani mereka bekerja di sawah.
Kesehariannya itu yang memberi gambaran mengenai kehidupan petani. Namun, ia juga menyaksikan bagaimana profesi itu kerap ditempatkan bukan sebagai pilihan karier yang membanggakan, bahkan menjadi petani adalah pekerjaan dihindari oleh segelintir generasi muda.
Janu menggambarkan pandangan yang masih dijumpainya di lingkungan tempat tinggalnya. Ketika orang tua bekerja sebagai petani, anak-anak mereka justru diharapkan memiliki pekerjaan lain yang dianggap lebih bergengsi.
“Karena memang kalau di kampung seperti kami tinggal saat ini ya siapa yang mau jadi petani masa orang tuanya petani anaknya juga mau jadi petani pasti mereka menginginkan menjadi seorang dokter ataupun jadi seorang TNI, polisi dan lain sebaginya profesi yang punya jabatan dan lain sebagainya,” tuturnya.
Bagi Janu, stigma semacam ini tidak mudah diubah karena berkaitan dengan pola pikir yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pekerjaan dengan jabatan jelas dan gaji bulanan dianggap lebih menjanjikan, sedangkan pertanian dipandang sebagai pekerjaan yang penuh ketidakpastian.
“Persoalan regenerasi petani tidak cukup diselesaikan dengan mengajak anak muda agar lebih menghargai pekerjaan orang tua mereka. Perlu ada perubahan yang membuat pertanian benar-benar layak dipilih sebagai profesi,” ujarnya menambahkan.
Janu juga menekankan beberapa persoalan yang menurut pengamatannya membuat sektor pertanian kurang menarik bagi generasi muda, mulai dari terbatasnya pengembangan karier, risiko produksi, pendapatan yang tidak menentu, hingga minimnya jaminan perlindungan bagi petani. Ia menyebut tantangan regenerasi petani tidak semata-mata berasal dari mentalitas generasi muda. Keputusan untuk menjadi petani juga dipengaruhi oleh kelayakan ekonomi, akses terhadap sumber daya, serta peluang untuk membangun usaha dalam jangka panjang.
Ketika seseorang dapat memperoleh penghasilan rutin dari pekerjaan lain, sementara hasil pertanian bergantung pada kondisi produksi dan pasar, pilihan untuk terjun ke lahan menjadi keputusan yang membutuhkan pertimbangan matang.
Karena itu, mengubah wajah profesi petani perlu dimulai dengan memperbaiki ekosistem yang menopangnya. Pertanian perlu dilihat bukan hanya sebagai aktivitas produksi, tetapi juga sebagai bidang usaha yang membutuhkan perencanaan, keterampilan, akses pasar, dan kemampuan beradaptasi.
Janu memandang pertanian sebagai sektor yang akan selalu dibutuhkan karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar manusia. Namun, kebutuhan tersebut tidak otomatis menjadikan profesi petani menarik atau menjamin kesejahteraan mereka.
Tantangan yang dihadapi justru terletak pada bagaimana potensi pertanian diterjemahkan menjadi kesempatan ekonomi yang lebih baik, dengan risiko yang dapat dikelola dan akses pasar yang memadai.
Melalui Sayur Sleman, ia berupaya menghubungkan kepentingan bisnis dengan manfaat sosial. Pengembangan usaha perlu diarahkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen, membangun jejaring pendukung, memperluas kesempatan belajarm dan mendorong lahirnya pelaku agribisnis baru.
Regenerasi petani seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Anak muda membutuhkan kesempatan untuk berkembang, petani memerlukan akses terhadap pasar dan sumber daya, sementara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, serta dunia usaha harus ikut berperan dalam membangun ekosistem yang mendukung.
“Perubahan tidak akan terjadi hanya dengan membicarakan pentingnya sektor pertanian. Diperlukan keberanian untuk memulai, kemauan untuk terus belajar, dan kesediaan untuk bekerja bersama,” ujarnya menambahkan.
Sebab, masa depan pertanian tidak ditentukan oleh seberapa luas lahan yang tersedia atau seberapa banyak hasil panen yang dihasilkan. Namun, juga bergantung pada apakah generasi berikutnya melihat pertanian sebagai bidang yang layak diperjuangkan, memiliki peluang untuk berkembang, dan mampu memberikan kehidupan yang lebih baik.
Melalui Sayur Sleman, Janu Muhammad berusaha membuka jalan ke arah tersebut. Persoalan ini tidak cukup dengan mengajak anak muda mencintai pertanian, diperlukan dorongan agar tercipta kesempatan bagi mereka yang berani masuk, mengembangkan usaha, dan bertahan di dalamnya.
Tentang Bincang-Bincang Wisma Hijau
Bincang-Bincang Wisma Hijau (BBWH) merupakan forum edukasi dan diskusi publik yang diselenggarakan secara rutin oleh Trubus Bina Swadaya untuk membahas berbagai isu strategis, mulai dari pertanian, lingkungan, pembangunan berkelanjutan, serta pemberdayaan masyarakat. Forum ini menjadi media berbagi pengetahuan, bertukar gagasan, dan mendorong lahirnya perspektif serta solusi yang relevan bagi pembangunan masyarakat.