- Juni 12, 2026
- Posted by: Astri
- Categories: Articles, Artikel
Masih lekat di ingatan bagaimana gelondongan kayu dan banjir bandang menerjang pemukiman di Aceh Tamiang pada November 2025 lalu. Bencana dahsyat itu menghanyutkan bangunan, merusak infrastruktur, hingga meluluhlantakkan sumber penghidupan warga dalam sekejap.
Namun, di tengah puing-puing duka, selalu ada secercah harapan. Kisah haru sekaligus inspiratif datang dari warga yang menolak menyerah pada keadaan. Melalui bantuan tunai multi-guna atau Multi-Purpose Cash Assistance (MPCA) yang disalurkan oleh Bina Trubus Swadaya, para penyintas perlahan bangkit dan kembali merajut kehidupan yang sempat lumpuh pascabencana.
Salah satu cerita perjuangan datang dari M. Nurdin, seorang warga Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Meski rumahnya rusak berat akibat diterjang banjir bandang, pria berusia 67 tahun ini enggan berpangku tangan.
Sebagai salah satu penerima manfaat manfaat MPCA, Pak Nurdin memutar otak agar dana yang diterimanya tidak habis begitu saja untuk kebutuhan konsumsi jangka pendek.
“Sebagian dana dibelikan susu dan obat, sementara sisanya saya jadikan modal membuka warung kecil di posko pengungsian,” ujarnya saat ditemui tim Bina Trubus Swadaya di posko pengungsian di Desa Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, baru-baru ini.
Dari usaha sederhana di sudut tenda pengungsian tersebut, roda ekonomi keluarganya perlahan mulai berputar. “Perlahan, warung ini menopang dapur kami agar terus mengepul,” ungkapnya.
Kisah tak kalah menyentuh datang dari Abu Qosim. Sebelum bencana melanda, kebun kelapa sawit adalah mata pencaharian utamanya. Namun, banjir bandang menyapu bersih seluruh asetnya tanpa sisa, meninggalkan hamparan tanah yang tertutup material banjir.

Kehilangan sumber pendapatan tak membuat Pak Qosim patah arang. Setelah menerima bantuan MPCA, ia mengambil langkah berani untuk beralih profesi menjadi petani hortikultura.
Seluruh bantuan tunai tersebut dialokasikannya untuk membeli bibit sayuran cepat panen. Dengan memanfaatkan sisa lahan pekarangan di sekitar rumahnya yang ludes, Pak Qosim mulai menanam.
Kini, pekarangan tersebut dipenuhi tunas-tunas hijau yang produktif dan memiliki nilai jual. Dari tanaman sayur inilah, asa Pak Qosim untuk menyambung hidup dan memulihkan perekonomian keluarga kembali tumbuh.
Perjuangan Pak M. Nurdin dan Pak Abu Qosim menjadi contoh bahwa di balik hilangnya harta benda akibat bencana, tekad kuat untuk bangkit tidak akan pernah bisa dihanyutkan oleh banjir sebuas apapun.