Misi Pemulihan Pascabanjir Aceh Tamiang Sukses Bantu 1.387 Warga

Misi kemanusiaan dan program tanggap darurat pascabanjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, sukses memberikan dampak bagi proses pemulihan dini masyarakat setempat. Program yang berjalan intensif selama enam bulan ini berfokus pada pemulihan stabilitas ekonomi dan kesehatan warga yang sempat lumpuh akibat diterjang bencana pada November 2025 lalu.

Aksi kepedulian ini diinisiasi oleh konsorsium kemanusiaan yang terdiri dari Bina Trubus Swadaya, Yayasan Pusaka Indonesia (YPI), dan Forum Konservasi Leuser (FKL), dengan dukungan pendanaan dari CORDAID serta Dutch Relief Alliance (DRA).

Selama setengah tahun berjalan, program ini menyasar sektor-sektor penting, intervensinya mencakup sektor WASH (Air Bersih, Sanitasi, dan Promosi Kesehatan), MPCA (Bantuan Tunai Multi-Guna), serta kegiatan Perlindungan (Protection) demi mendukung pemulihan dini warga yang terdampak.

Salah satu program yang dinilai sangat berhasil meringankan sedikit beban masyarakat adalah program Bantuan Tunai Multi-Guna (Multi-Purpose Cash Assistance/MPCA) yang dijalankan oleh Bina Trubus Swadaya. Bantuan ini sangat diperlukan warga dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka di masa krisis pascabencana.

Program pemulihan ini secara spesifik memprioritaskan kelompok masyarakat yang masuk dalam kategori rentan. Program ini berhasil menjangkau sebanyak 1.387 penerima manfaat yang tersebar di 18 desa pada tiga kecamatan di Kabupaten Aceh Tamiang.

Adapun rincian profil penerima manfaat yang berhasil dibantu meliputi, lansia (402 jiwa), penyandang disabilitas (114 jiwa), ibu hamil (143 jiwa), ibu menyusui (342 jiwa), dan kepala keluarga perempuan (386 jiwa).

Kehadiran bantuan tunai ini memberikan fleksibilitas penuh bagi para ibu, lansia, dan kepala keluarga perempuan. Dana yang diterima secara langsung dapat digunakan untuk membeli kebutuhan spesifik rumah tangga mereka, yang sebelumnya sulit dipenuhi akibat lumpuhnya aktivitas ekonomi pascabanjir.

Menandai kesuksesan rangkaian program, konsorsium kemanusiaan menggelar pertemuan After-Action Review (AAR) di Aceh Tamiang pada Kamis, 4 Juni 2026. Evaluasi menyeluruh dilakukan setelah seluruh rangkaian selesai dilaksanakan, mulai dari kajian awal (assessment), proses distribusi bantuan, pemantauan langsung di lokasi (on-site monitoring), hingga pemantauan pasca-distribusi (Post Distribution Monitoring/PDM).

Agenda refleksi bersama ini dihadiri oleh tim mitra pelaksana lapangan, perwakilan warga terdampak, hingga Penjabat (Pj) Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi. Sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat bertujuan untuk mengevaluasi capaian, mengurai kendala di lapangan, serta menjaring aspirasi langsung dari akar rumput demi menyempurnakan respons bencana di masa mendatang.

Direktur Bina Swadaya Kemitraan, Agung Prasetio, menyampaikan apresiasi besar kepada seluruh pihak yang terlibat dan berharap hasil dari program ini dapat terus dirawat.

“Kami berharap apa yang telah dibangun dan disalurkan dapat dijaga bersama oleh masyarakat,” ujar Agung Prasetio dalam keterangannya.

Momen keberhasilan program ini tak luput dari semangat gotong royong yang diharapkan tetap menyala di tengah masyarakat. Dengan demikian, seluruh warga di Aceh Tamiang bisa bangkit sepenuhnya dan menata kembali kehidupan yang lebih tangguh terhadap potensi bencana.



Tinggalkan Balasan