Penanganan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) Berbasis Masyarakat

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak dijumpai sejak awal April 2022 lalu. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang bersifat merusak jaringan sel. Kerugian dari dampak PMK tak hanya dirasakan oleh peternak, tetapi juga masyarakat luas. Oleh karena itu, sosialisasi dan edukasi mengenai PMK pada hewan ternak ini penting dimiliki.

PMK menyerang hewan ternak, khususnya hewan berkuku belah seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba. Data dari Satuan Tugas (Satgas) penanganan PMK mencatat, sebanyak 485.507 ekor hewan ternak terpapar PMK dengan rincian 461.974 ekor sapi, 18.129 kerbau, 1.728 domba, 3.588 kambing, dan 88 ekor babi. Selain itu, ada 6.355 ekor lainnya dengan rincian 6.153 sapi, 121 kerbau, 36 domba, dan 45 kambing. Sampai saat ini sebanyak 24 provinsi dan 287 kabupaten/kota terpapar PMK. Salah satu wilayah yang terpapar PMK adalah Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Di Kecamatan Tutur jumlah populasi sapi yang tercatat adalah 25.000 ekor. Sementara itu, jumlah produksi susu adalah 116.000 liter/hari. Per Juni sebanyak 4.975 ekor sapi terpapar PMK dan sebanyak 454 ekor sapi mati. Dengan adanya situasi wabah PMK, jumlah produksi sapi mengalami penurunan sebesar 34,9 persen.

Di tengah situasi tersebut, Bina Swadaya Konsultan (BSK) sejak Januari 2022 memiliki program bersama Kementerian Pertanian Denmark, SEGES, dan DMDP mengenai konversi susu sapi organik. Wabah PMK membuat program tersebut mengalami hambatan. Meski demikian, Bina Swadaya bersama KPSP Setia Kawan, Dinas Pertanian dan Peternakan serta pemangku kepentingan Kecamatan Tutur berupaya menekan jumlah penyebaran PMK di wilayah tersebut.

“Bina Swadaya turut menjadi Satgas PMK Kecamatan Tutur dan mendapatkan mandat dari tim dokter hewan untuk membantu sosialisasi untuk menekan penyebaran PMK. Karena program ini mengenai konversi susu sapi organik, sehingga penanganan yang kami lakukan salah satunya dengan cara membuat jamu dan pakan organik untuk sapi,” kata Ana Budi Rahayu, Manager Program Bina Swadaya Konsultan dalam Bincang-Bincang Wisma Hijau bertema ‘Penanganan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) Berbasis Masyarakat’ yang diselenggarakan secara virtual, Jumat (26/8/22).

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Program Pengembangan Susu Sapi Perah Organik di Nongkojajar Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Nana Komariah menjelaskan, program ini berfokus pada kegiatan pemberdayaan kelompok peternak sapi yang tergabung dalam Koperasi Peternak Sapi Perah (KPSP) Setia Kawan.

Tujuan utama dari program ini adalah untuk memunculkan produk susu organik pertama di Indonesia pada 2026, yang berasal dari 200 peternak (dengan 5 ekor sapi yang dibudidayakan secara organik) dengan asumsi rata-rata produksi 10–12 liter/hari/ekor.

“Pendampingan yang kami lakukan selama wabah PMK berlangsung terbukti membawa sebagian besar peternak dampingan kami mampu menerima wabah ini sebagai berkah tersembunyi. Bahkan, para peternak menambah pakan hijauan karena mereka sadar bahwa sapi secara alami memakan rumput. Masyarakat dan peternak kini mulai menyadari pengelolaan peternakan sapi perah secara organik, lebih cocok untuk sapi, lebih mudah dilakukan dan juga lebih efisien serta lebih murah. Pengelolaan sapi perah organik juga merupakan efek jangka panjang yang lebih menguntungkan peternak. Organik adalah cara hidup yang lebih hidup.”

Diakuinya, awalnya peternak mau beralih dari nonorganik ke organik karena pandemi Covid-19 membuat produksi susu menurun drastis sehingga pendapatan para peternak juga menurun. Oleh karena itu, peternak membutuhkan alternatif solusi meningkatkan produktivitas tapi dengan biaya produksi yang hemat, tidak memerlukan pembelian obat atau booster kepada sapi sehingga salah satunya caranya adalah mengajarkan membuat jamu kepada para peternak.

Hal senada juga diungkapkan dokter hewan sekaligus Tim Internal Organik Koperasi Peternak Sapi Perah (KPSP) Setia Kawan, drh. Agung Suseno, yang mengatakan, KPSP Setia Kawan dibantu Bina Swadaya melakukan kajian cepat untuk mengonsolidasi kegiatan tanggap darurat PMK. Berbagai upaya seperti melakukan penutupan pasar serta melakukan pembatasan lalu lintas sapi, terutama sapi yang berasal dari luar Kecamatan Tutur yang akan masuk ke wilayah tersebut.

“Bina Swadaya turut membantu Tim KPSP Setia Kawan dalam melakukan sosialisasi dan tindakan antisipasi untuk menekan penyebaran wabah PMK. Bina Swadaya juga turut membantu pemberian jamu untuk meningkatkan daya tahan sapi,” ucap drh. Agung Suseno.

Untuk penanganan PMK, Agung mengungkapkan, vaksin PMK adalah satu-satunya cara efektif untuk mencegah penyebaran PMK. Hal ini terbukti setelah Tim KPSP Setia Kawan melakukan vaksin di wilayah Nongkojajar, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, penyebaran PMK dapat dikendalikan. Meskipun begitu masih ditemukan sejumlah sapi yang telah divaksin tetap terinfeksi PMK. Akan tetapi, gejala yang ditimbulkan tidak perlu dikhawatirkan oleh peternak. Hal ini karena sapi-sapi yang telah tervaksin jika menunjukkan gelaja PMK, sapi tersebut akan cepat sembuh.

“Virus PMK sebenarnya tidak ada obatnya, hanya tubuh sapi sendiri yang dapat mengobatinya dengan antibodi. Sapi-sapi yang memproduksi antibodi secara maksimal akan sembuh dengan sendirinya. Namun, tidak semua sapi bisa memproduksi antibodi dengan cepat dan optimal sehingga perlu dilakukan pemberian obat/herbal pada sapi-sapi yang terinfeksi,” ujarnya menambahkan.

Menurutnya, pemberian obat pada sapi yang sakit hanya berfungsi sebagai penghilang rasa sakit, penurun panas, serta untuk memperbaiki metabolisme sapi agar cepat memproduksi antibodi. Pemberian bahan herbal seperti kunyit dan temulawak dapat berperan meningkatkan imunitas sapi.

Kunyit berfungsi memperlancar pencernaan sapi. Adapun temulawak berperan meminimalisir kandungan racun yang terbawa pada pakan. Temulawak juga membantu lever menetralisir racun yang masuk ke tubuh sapi. Ini akan berimbas ke organ-organ lain sehingga imunitas sapi tetap terjaga. Kedua rimpang ini juga berperan meningkatkan nafsu makan pada sapi.

“Sapi-sapi yang nafsu makannya meningkat akan mendukung peningkatan imunitas. Kedua bahan ini (kunyit dan temulawak) juga berperan meningkatkan nafsu makan pada sapi,” papar Agung.

Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Misbakhul Choir, mengatakan, kronologi masuknya penyakit PMK di Kabupaten Pasuruan bermula adanya laporan kasus suspek PMK pada 29 April 2020 di Dinoyo, Desa Sekarjoho, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, di mana beberapa ekor sapi mati secara mendadak dengan gejala mirip PMK.

Saat itu, Pemerintah Kabupaten Pasuruan langsung melakukan tindakan untuk menekan penyebaran PMK melalui pengendalian dan penanggulangan PMK pada ternak. Bebagai upaya seperti penutupan pasar yang dilakukan Kabupaten Tutur serta langkah-langkah lain mengenai pengendalian dan penanggulangan PMK. Saat itu, Kabupaten Pasuruan dinyatakan zona merah untuk penyakit PMK.

Pada saat yang bersamaan, beragam masalah muncul, di mana pengetahuan masyarakat tentang PMK masih sangat awam disertai beredarnya berita hoax menyebabkan kepanikan di tingkat peternak. Kepanikan tersebut membuat peternak menjual sapi-sapinya dengan harga murah.

Guna menanggulangi penyakit ini, BPP Kecamatan Tutur yang diamanati oleh Dinas Pertanian dan Dinas Peternakan untuk melakukan edukasi, komunikasi dan penyebaran informasi kepada masyarakat tentang PMK. Metode yang digunakan untuk mengedukasi masyarakat tentang penyakit PMK melalui kunjungan, baik perseorangan maupun kelompok ke peternak-peternak. Edukasi langsung ke peternak-peternak ini dilakukan agar mereka dapat melakukan tindakan yang tepat untuk mengatasi permasalahan penyakit PMK.

“Dalam kunjungan-kunjungan tersebut, kami dibantu dokter-dokter hewan dari Dinas Peternakan, KPSP Setia Kawan dan juga tim dari Bina Swadaya,” tutup Misbakhul.



Tinggalkan Balasan