Miniatur menara Eiffel dengan hiasan bunga tiruan berwarna ungu karya Rahmat Agung Nugroho

Miniatur menara Eiffel dengan hiasan bunga tiruan berwarna ungu karya Rahmat Agung Nugroho

Para perancang menghasilkan bunga abadi yang unik.

Rohidin menuruni panggung sembari membawa rangkaian bunga bertajuk autumn wedding. Seorang peserta sudah berani membeli seharga Rp4-juta. Suara dan tepuk tangan peserta acara demonstrasi merangkai bunga bertajuk Beauty That Last Forever di Hotel Harris, Kelapagading, Jakarta Utara bergemuruh. Rohidin memperlihatkan rangkaian bunga berbentuk melingkar itu. Ia memberi nama rangkaian bergaya konsentris itu autumn wedding. Warna-warna hangat seperti merah, ungu, kuning, hijau tua, dan cokelat mendominasi. “Saya terinspirasi dari suasana musim gugur di negara subtropis. Kebetulan sebentar lagi di sana akan masuk autumn,” katanya.

Pada rangkaian penghias meja bundar itu, Rohidin menggunakan floral foam berbentuk donat berdiameter 35 cm yang dilekatkan di atas karton berbentuk lingkaran. Selanjutnya, pria berusia 32 tahun itu menancapkan hydrangea ungu, mawar merah, snapdragon kuning, dedaunan, biji, dan ranting. Di tengah rangkaian, ia meletakkan akuarium berisi mawar merah dan snapdragon kuning. Seorang peserta berujar, “Ternyata perpaduan warna-warna kalem dapat menjelma menjadi sebuah rangkaian unik dan cantik.”

Pada acara yang diselenggarakan oleh Dewan Perwakilan Cabang Ikatan Perangkai Bunga (DPC IPBI) Jakarta Utara itu, bukan hanya karya Rohidin saja yang mampu menghipnotis peserta. Rangkaian berbentuk miniatur menara Eiffel karya Rahmat Agung Nugroho juga membuat peserta berdecak kagum. Menara yang berdiri di atas floral foam berselimut lumut hijau itu tampil anggun dengan kelir ungu dari hydrangea, mawar, dan anthurium di atas floral foam berselimut rumput.  Seorang peserta yang jatuh hati  pun berani membeli seharga Rp5-juta tunai.

 

Berkat bunga tiruan, Aris Sandi dapat menghias rangkaian bertema romantic rose setinggi 1,2 meter ini tanpa bantuan floral foam

Berkat bunga tiruan, Aris Sandi dapat menghias rangkaian bertema romantic rose setinggi 1,2 meter ini tanpa bantuan floral foam

Artifisial             

Melihat keindahan kedua rangkaian itu, sekilas ornamen yang digunakan berasal dari bahan-bahan segar. Padahal hasil karya kedua perangkai dari Intuition Floral Art Studio itu menggunakan ornamen artifisial alias tiruan dari seluruh bagian tanaman seperti bunga, daun, ranting, dan akar. “Jika bukan bunga tiruan, saya tidak bisa menampilkan rangkaian bunga berwarna ungu sebab ungu jarang ditemukan pada bunga segar,” kata Rahmat. Berkat bunga tiruan pula, ia dapat membuat rangkaian tulip sederhana yang diikat pada tiang besi.

Itulah kelebihan bunga tiruan. Perancang dapat menggunakan jenis bunga yang tidak ditemui di pasar lokal. Selain itu, teknik ikat yang jarang diterapkan pada bunga segar dapat digunakan. “Bila bunga segar hanya diikat tanpa ditancap pada floral foam basah akan cepat layu,” ujar Rahmat.

Selain itu, perangkai dapat membuat rangkaian berkonstruksi tinggi. Menurut Andy Djati Utomo, Ssn, AIFD, CFD, pengajar di Intuition Floral Art Studio, bila menggunakan bunga segar, perancang harus memperhatikan detail konstruksi rangka. Berat floral foam ukuran sedang saja bisa mencapai 1 kg. Dengan demikian, kontruksi harus kuat untuk menyangga rangkaian. Nah, bunga tiruan adalah solusinya sebab tidak butuh floral foam. “Rangkaian tanpa floral foam itu cocok untuk penghias meja makan sebab tidak khawatir serpihan halusnya akan mengotori meja,” kata Andy.

Aris Sandi dan Bambang Purna Irawan pun memanfaatkan keunggulan itu. Aris membuat rangkaian bertema romantic rose menggunakan rangka besi berbentuk menyerupai jam pasir setinggi 1,2 meter. Untuk menghias rangka, Aris hanya mengikat hydrangea ungu serta mawar merah dan merah muda di bagian atas, tengah, dan bawah. Selanjutnya, untuk menimbulkan kesan segar, ia melilitkan sulur-suluran hijau di badan rangka. “Rangkaian ini pas untuk pesta pernikahan di kebun,” katanya.

Ornamen artifisial menjadi pilihan perangkai untuk mewujudkan rangkaian dari bunga-bunga subtropis seperti tulip

Ornamen artifisial menjadi pilihan perangkai untuk mewujudkan rangkaian dari bunga-bunga subtropis seperti tulip

Sementara itu, Bambang menyulap rangka parabola setinggi 1 meter menjadi hiasan meja nan anggun dengan hadirnya zymbium putih yang menyelimuti rangka atap parabola. Pun mawar putih yang  berada di dasar tiang. Tampilannya menjadi semakin aduhai setelah pria berusia 42 tahun itu menggantungkan tali-tali kristal. “Rangkaian ini saya buat untuk sejoli yang akan menikah di musim dingin,” katanya.

 

Buket

Ketua DPC IPBI Jakarta Utara, Lilia Veronica, menuturkan penggunaan ornamen tiruan pada rangkaian terbukti mampu melahirkan rangkaian tak kalah menawan dengan ornamen asli. Menurut Andy Djati Utomo, bunga tiruan hadir bukan untuk menggantikan posisi bunga segar. Tujuannya berbeda, “Ornamen artifisial menjawab kebutuhan rangkaian ekonomis dan tahan lama,” kata Andy.

Buket bunga dari helaian pita karya Andy Djati Utomo

Buket bunga dari helaian pita karya Andy Djati Utomo

Selain menampilkan rangkaian bunga artifisial, acara pada 11 September 2013 itu juga memamerkan buket pengantin rancangan para perangkai bunga di Jakarta, termasuk Andy Djati Utomo, Lilia Veronica, Doryswati, Penny Handriani, Liena Samin, dan Marvey Imelda Rusli. Mereka merangkai buket tangan pengantin dari bahan-bahan yang lazimnya digunakan sebagai pemanis rangkaian seperti pita, kain, kaca akrilik, dan bros.

Andy Djati Utomo, misalnya, menghadirkan buket berbentuk payung dari helaian pita berwarna putih dan hijau. “Untuk menyulapnya menjadi sebuah buket cantik memang butuh kreasi dan ketelatenan,” kata Andy. Cara membuatnya, ia menggunakan rangka besi berbentuk payung sebanyak 3 susun. Pada susunan pertama besi itu, ia melillitkan pita putih. Kemudian pada susunan kedua dan ketiga menggunakan pita hijau tua dan hijau muda. Setelah lilitan