Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
Ulus Pirmawan, Pencetak Petani Sejahtera | binaswadaya.org      

Ulus Pirmawan, Pencetak Petani Sejahtera

Ulus Pirmawan (43) ingin mencetak sebanyak mungkin petani yang sejahtera. Ia pun mengajarkan teknik bertani yang baik dan cara bangkit dari kegagalan.

Lelah masih berbekas di wajah Ucun Suntana (40), warga Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, saat tiba di kantor Gabungan Kelompok Tani Wargi Panggupay, Senin (9/1) sore. Namun, senyum tak lepas dari bibirnya. Dua karung cuciwis (pucuk kol setelah panen pertama) selesai dipanen sejak siang. Dalam seminggu terakhir, Ucun panen cuciwis hingga 1 ton atau senilai Rp 5 juta. Sebelumnya, ia telah memanen kol bernilai Rp 25 juta.

Hingga tahun 2005, potensi cuciwis tak terlihat di Gandok. Kol bia- sanya tak dibiarkan begitu saja setelah panen pertama. Belakangan, pandangan itu berubah saat Ulus memberi tahu bahwa cuciwis sangat diminati konsumen.

Ucun adalah anggota Kelompok Tani Baby French yang didirikan Ulus pada 2005. Beranggotakan 25 petani Gandok, kelompok tani ini jadi wadah diskusi dan pemasaran sayuran. Lima tahun kemudian, Ulus mendorong berdirinya Gabungan Kelompok Tani Wargi Panggupay. Anggotanya ratusan petani di Kecamatan Lembang.

Menurut Ucun, Ulus berperan besar menempa dirinya. Lima tahun lalu, ia hanya buruh tani. Ucun tak percaya diri mengolah kebun warisan orangtuanya. Hingga akhirnya, dorongan Ulus membuatnya yakin dengan kemampuannya.

”Pak Ulus tidak pelit ilmu. Saya belajar cara memilih benih, menanam, hingga perlakuan setelah panen,” katanya.

Ulus tersenyum saat Ucun memuji kiprahnya. Sembari memeriksa cucuwis hijau segar, ia mengatakan, Ucun semakin ahli bertani. Panen cuciwis berkualitas super itu jadi buktinya.

”Kemauannya belajar mengirimkan pesan kepada semua orang agar jangan takut jadi petani,” kata Ulus yang jadi panutan para petani.

Ekspor sayur

Ulus tak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Dia hanya sekolah sampai tamat SD. Namun, puluhan tahun berkutat di kebun, membuat ia tertempa sebagai petani tangguh.

Uniknya, keinginan Ulus jadi petani tak datang begitu saja. Awalnya, ia jadi pengepul hasil panen kebun orangtuanya sendiri. Usianya baru 17 tahun kala itu. Pandai mencari relasi dan pasar, ia dipercaya menjual hasil panen petani lainnya.

”Saat jadi pengepul, saya lihat petani kesulitan mendapat panen stabil. Metode pertaniannya tak mendukung hal itu,” katanya.

Kondisi itu membuatnya tertantang. Pada 2000, ia mulai belajar bertani. Minim pengalaman, ia banyak bertanya kepada petani senior. Sejumlah praktik lapangan dilakukan sendiri. Tak semuanya berhasil. Pemberian pupuk yang tidak tepat hingga pengolahan lahan yang keliru membuat Ulus didera kegagalan. Namun, Ulus tak putus asa hingga hasilnya berbuah manis.

Ia mencontohkan usahanya mengenalkan baby buncis, yang kini jadi andalan petani Gandok. Hingga 2005, baby buncis tak dikenal petani. Padahal, saat itu baby buncis sangat diminati konsumen Singapura dan Eropa.

Dia lantas berinovasi, salah satunya menetapkan standar pembuatan lubang tanam. Ia juga membiasakan petani menulis perkembangan tanaman untuk menjaga kualitas buncis setiap hari. ”Butuh setahun memperkenalkan baby buncis ini,” katanya.

Kerja keras itu dirasakan petani. Dari 1 hektar lahan baby buncis, petani panen 30-40 kali dengan total 10 ton selama lima bulan. Dengan harga stabil Rp 13.000 per kilogram, rata-rata petani berpenghasilan Rp 26 juta per bulan.

Ulus Pirmawan

Lahir:

Bandung, 16 Februari 1974

Istri:

Vivi Westiviyani (38)

Pendidikan:

SD Cibodas I Lembang (Lulus 1986)

Penghargaan:

Anugerah Produk Pertanian Berdaya Saing 2014 dari Kementerian Pertanian Tahun 2014

 

Hasil itu jauh lebih tinggi ketimbang buncis biasa. Dari lahan 1 hektar, petani panen 5-7 ton dalam waktu 3,5 bulan. Dengan harga tak tentu antara Rp 3.000 dan Rp 7.000 per kilogram, petani hanya mendapat Rp 4 juta-Rp 14 juta per bulan.

Tidak hanya itu, Ulus juga mencari pasar baby buncis sendiri. Sejak 2015, Ulus sudah rutin mengirimkan baby buncis ke Singapura. ”Bulan Februari 2017, kami akan mengirimkannya ke Singapura. Setiap dua minggu sekali, kami akan kirim 1,5 ton. Karena kontraknya panjang, harganya stabil. Khusus anggota Gabungan Kelompok Tani Wargi Panggupay, harganya Rp 15.000 per kilogram.”

Ketekunan itu berbuah ganda. Ulus kerap diundang jadi pembicara di beragam acara pertanian dalam dan luar negeri. Produsen di bidang pertanian asal Belanda dan Jerman kerap menggunakan jasa Ulus mempromosikan keunggulan produknya. Perguruan tinggi yang membuka jurusan pertanian juga terinspirasi. Banyak peneliti, dosen, dan mahasiswa belajar kepadanya.

Ketulusan Ulus juga memberi manfaat bagi warga Gandok. Universitas Padjadjaran membuat gondola elektrik pengangkut sayur untuk petani Gandok pada 2014. Pemerintah Kabupaten Bandung Barat juga membuat jalan bagi usaha tani. Tahun ini, dari target 2 kilometer baru rampung 450 meter. Kedua sarana itu efektif meringankan biaya angkut hasil panen atau bahan pertanian petani, dari awalnya 10.000 per kilogram menjadi hanya Rp 100 per kilogram.

”Harapan saya sederhana, ingin memunculkan petani sebanyak-banyaknya,” katanya.

Salah seorang yang kepincut adalah Rizky Maulana (21), lulusan institut pertanian ternama. Dia datang pertama kali ke Gandok saat kampusnya melakukan kerja praktik lapangan sekitar setahun lalu. ”Hingga saat itu, saya tidak pernah tertarik menjadi petani meski kuliah di jurusan pertanian,” kata Rizky yang sejak tiga bulan terakhir belajar bertani di Gandok.

Akan tetapi, pemahamannya berubah setelah bertemu Ulus. Ia melihat pertanian punya masa depan cerah. Kuncinya, petani harus rajin dan penuh inovasi. Uniknya, Rizky mengatakan, Ulus tidak hanya membimbing jadi petani sukses. Ia justru diajari caranya gagal.

Ia mencontohkan saat gagal menanam kangkung dan wortel. Usut punya usut, Ulus sudah tahu hasilnya bakal seperti itu. Namun, Ulus diam. Ia berharap Rizky dan kawan-kawan belajar dari pengalaman itu.

”Ternyata tanahnya sudah lama tak digarap dan butuh perawatan sebelum ditanami lagi,” katanya.

Harga stabil

Malam semakin tua di Kampung Gandok ketika empat petani kembali ke kebun cabai rawit. Saat itu, giliran mereka ronda menjaga cabai dari maling. Banyak maling merajalela saat harga cabai naik tak karuan seperti saat ini.

Hingga dua jam berjaga, tak terlihat tanda-tanda ada maling mendekat. Mereka memilih istirahat sejenak dengan menyalakan api unggun mengusir suhu dingin 19 derajat celsius. Namun, justru obrolan dari bibir mereka yang menghangatkan suasana.

”Kamu enak, sebentar lagi untung besar panen cabai. Saya rugi karena banyak tanam tomat,” kata Dedi Sandi (51), salah seorang petani, kepada Ebes (40), petani lainnya.

”Tapi, kasihan yang mau beli cabai, harganya terlalu mahal. Lebih baik harganya stabil, sekitar Rp 40.000 atau Rp 50.000 per kilogram, bukan seperti sekarang Rp 80.000, tetapi besok Rp 10.000,” kata Ebes.

Ulus mengatakan, fluktuasi harga cabai atau tomat adalah pekerjaan rumah yang ingin ia minimalkan dampaknya tahun ini. Selain mendorong pemerintah daerah mencari pasar, mendata hasil panen, hingga menjamin harga adil bagi petani, ia juga ingin terus mendorong petani menanam sayur dengan cara yang tepat.

”Pengalaman sukses cuciwis dan baby buncis akan jadi contoh. Jika mau belajar, petani bisa merencanakan masa depannya sendiri,” katanya.

Sumber: http://print.kompas.com/baca/sosok/2017/01/16/Pencetak-Petani-Sejahtera

Pertanianku — Beragam jenis tanaman buah biasa dibudidayakan dengan berbagai car [...]

Pertanianku — Cara menyuburkan tanah bisa dilakukan dengan pemberian pupuk. Sela [...]

Pertanianku — Penggunaan bahan alami untuk menyuburkan tanah sudah digunakan sej [...]

Pertanianku — Bagaimana trik agar jagung manis berbuah lebat? Ya, siapa yang tid [...]

Pertanianku — Ada beberapa jenis anggur yang tersebar di seluruh dunia. Salah sa [...]

Pertanianku — Bisnis beternak ayam kampung sangat menjanjikan. Bagaimana tidak? [...]

Pertanianku — Sejak dulu, daun jambu biji dipercaya dapat mengatasi diare. Untuk [...]

Pertanianku — Apakah Anda ingin memelihara tanaman hias air? Ada banyak jenis ta [...]

Pertanianku — Jenis sapi perah alias sapi penghasil susu ada banyak jenisnya. Sa [...]

Pertanianku — Berbagai cara mengupas mangga bisa dipraktikkan untuk menikmati bu [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10001 milliseconds