Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
SWASEMBADA PANGAN 2014, SEBUAH UTOPIA? | binaswadaya.org      

SWASEMBADA PANGAN 2014, SEBUAH UTOPIA?

Target pemerintah untuk swasembada pangan pada 2014 diragukan banyak pihak. Bahkan politisi Golkar Siswono Yudhohusodo menyebutnya ‘utopia tidak berdasar’. Dalam 9 tahun, jumlah petani berkurang sekitar 14 juta. Tahun 2013, petani kita tinggal 26,1 juta orang. Lahan pertanian berubah fungsi dengan kecepatan 100.000 hektar tiap tahun. Butuh kebijakan pemerintah yang mendukung petani agar mereka mau kembali ke desa untuk berladang dan bercocok tanam. 

 “Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe,” demikian kata Bung Karno dalam pidato kemerdekaan 17 Agustus 1963. Kedelai –bahan baku tempe– belakangan mungkin agak tersinggung. Sebab entah mengapa, kini tiap Agustus kedelai suka berulah.

 Dalam catatan GATRA, sudah tiga tahun terakhir (2011-2013) lonjakan harga kedelai selalu terjadi pada Juli-Agustus. Agustus tahun lalu, misalnya, harga kedelai sempat naik dari Rp 6.000 menjadi Rp 10.000 per kilogram. Agustus tahun ini, hal serupa terjadi.

 Para pengamat ekonomi pun hafal dengan kebiasaan itu. Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Munrohim Misanam, menyebut kedelai sebagai komoditas yang secara reguler bikin resah. “Setiap bulan Agustus selalu ada gejolak,” katanya.

 Kamis pekan lalu, KPPU menggelar public hearing untuk membahas permasalahan seputar komoditas kedelai. Ironisnya, hal yang sama juga pernah diadakan KPPU tahun lalu, pada 14 Agustus 2012. Topiknya pun tak beda. Munrohim juga masih ingat public hearing tahun sebelumnya itu. “Apa yang salah? Regulasi? Atau jangan-jangan ada permainan?” katanya.

 Temuan dalam public hearing tahun ini tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya: banyak indikasi kalau ada kartel kedelai. Saat ini, kebutuhan kedelai nasional mencapai 2,5 juta ton. Sedangkan produksinya hanya sekitar 800.000 ton, atau cuma 30% dari total kebutuhan. Kekurangan sebesar 70% pun diimpor.

 Dengan kekurangan sebanyak itu, peran importir kedelai memang sangat besar. Suharto, Wakil Ketua Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), mengatakan bahwa pelonjakan harga kedelai pada Agustus disebabkan para importir menunggu surat persetujuan impor (SPI) yang baru turun pada 30 Agustus.

 Sebelum SPI itu turun, importir tidak menjual semua kedelai mereka lantaran khawatir stok habis sementara SPI belum keluar. “Akhirnya panik, karena importir nggak jual lagi. Atau jualnya ngeteng (eceran),” katanya.

 Tudingan lebih lantang datang dari Institute of Economics and Finance (Indef). Dalam diskusi bertema “Gejolak Harga Kedelai: Analisis Kartel dan Monopoli”, di Universitas Paramadina, Jakarta, Selasa lalu, peneliti Indef, Enny Sri Hartati, menyebut adanya praktek kartel dalam kuota impor kedelai.

 Praktek itu melibatkan tiga perusahaan yang menguasai kuota impor sampai 66,33%. “Satu perusahaan bahkan hampir memonopoli,” ujarnya.

 Data penelitian Indef menyebut, dari 14 importir pemegang SPI, ada tiga perusahaan yang memegang kuota impor terbesar. Perusahaan itu adalah PT FKS Multi Agro yang mendapat kuota terbesar dengan 46,71% atau sebanyak 210.600 ton, PT Gerbang Cahaya Utama sebesar 10,31% (46.500 ton), dan PT Budi Semesta Satria dengan 9,31% (42.000 ton).

 “Perusahaan lainnya hanya mendapat kuota di bawah 5%,” kata Enny.

 Peneliti Indef lain, Didik J. Rachbini, memberi ilustrasi tentang betapa besarnya posisi tawar para importir tersebut. “Kalau importir kedelai terbesar itu menutup gudang selama sepekan saja, harga sudah pasti naik.” Penelitian Indef ini juga membantah spekulasi yang beredar bahwa kenaikan harga kedelai disebabkan oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. “Itu tidak betul. Ini indikasinya karena kartel,” kata Didik lagi.

 Prestasi buruk di komoditas kedelai memang kontras bila dibandingkan dengan target pemerintah yang hendak mencapai swasembada pangan pada 2014 nanti untuk lima komoditas pokok: beras, gula, jagung, kedelai, dan daging sapi.

 Siswono Yudo Husodo, mantan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), menyebut target itu sebagai, “Utopia tidak berdasar.”

 Menurut Siswono, faktanya hanya target itu pengunduran. Dulu pada 2004, Kabinet Indonesia Bersatu jilid pertama pernah menargetkan swasembada pangan pada 2010. Tapi memasuki tahun 2009, menyadari tidak mungkin tercapai, target swasembada diundur jadi 2014.

 Bahkan, kata Siswono, pada 2012, karena juga menyadari bahwa tidak mungkin bisa berswasembada gula, pemerintah lalu membedakan antara gula untuk kebutuhan langsung rakyat dan gula untuk kebutuhan industri.

 Swasembada hanya ditujukan untuk gula rakyat. Gula industri tidak. “Itu eufemisme yang tidak lucu,” katanya (Lihat: Impor itu Boleh untuk Jangka Pendek).

 Pendapat yang kurang lebih senada disampaikan Thomas Sembiring, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Impor Daging Indonesia (Aspidi).

 Menurutnya, swasembada daging sapi tidak bakal tercapai pada 2014. “Itu tidak realistis,” katanya. Ia menjelaskan, faktanya, saat ini, hampir terjadi penurunan produksi di berbagai sentra peternakan sapi di Indonesia.

 Data Aspidi, misalnya, menyebut bahwa jumlah ternak sapi di Bali berkurang 28%, Jawa berkurang antara 25%-28%, di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur berkurang 5%.

 “Di Bali makin turun, karena masyarakatnya tidak makan daging sapi. Lahan juga makin mahal dan lebih menguntungkan dialihkan ke sektor pariwisata,” katanya.

 Kebutuhan daging sapi nasional diperkirakan mencapai 510.000 ton. Dari angka itu, sekitar 80%-85% diklaim bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri. Karena itu, pemerintah hanya mengimpor sekitar 15% atau 95.0000 ton pada 2012 lalu.

 Namun, kemudian terbukti kalau pasokan sapi lokal tidak sesuai dengan perhitungan, hingga mengakibatkan harga daging sapi melonjak drastis. Belajar dari pengalaman itu, saat ini sistem impor daging sapi tidak lagi menganut sistem kuota. Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 46/M-DAG/KEP/8/2013 tentang Ketentuan Ekspor dan Impor Hewan, yang dikeluarkan awal September ini, mekanisme impor daging sapi menggunakan sistem harga referensi (harga patokan).

 Dalam sistem baru ini, pemerintah hanya menetapkan harga daging sapi di pasar harus berada di kisaran Rp 76.000 per kilogram. Impor untuk menurunkan harga dilakukan bila harga daging naik 15% lebih mahal atau mencapai Rp 114.000 per kilogram.

 Sebaliknya, impor dihentikan bila harga turun 5% atau mencapai Rp 72.200 per kilogram. “Terkait dengan impor sapi, kita lakukan relaksasi. Tidak ada lagi restriksi, hanya menggunakan harga referensi,” kata Menteri Perdagangan Gita Wirjawan.

 Selain daging sapi, komoditas lain yang juga menggunakan sistem harga referensi ini adalah bawang merah dan cabai. Ini ditetapkan dalam Permendag Nomor 47/M-DAG/KEP/8/2013 tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura.

 Sama seperti ketentuan daging sapi, dalam aturan ini impor bawang merah dan cabai juga tidak lagi menggunakan sistem kuota, melainkan harga patokan. Hanya, hingga kini harga patokan untuk dua produk itu belum ditetapkan.

 Dibukanya keran impor yang lebih mudah bagi daging sapi ini, akhirnya memang menimbulkan pertanyaan, sampai sejauh mana pemerintah serius dengan target swasembada pangan.

 Namun ketika dicecar soal itu, Gita menekankan bahwa kebijakan ini hanya bersifat jangka pendek. “Ini kebijakan yang sifatnya sementara, dalam rangka menjaga stabilisasi harga karena ada beberapa produk yang masih kurang stoknya,” katanya.

 Menurut Gita, untuk mengatasi masalah kelangkaan stok ini tetap harus meningkatkan produksi nasional. “Hingga kita tidak perlu bergantung pada impor,” katanya.

 Sebenarnya, bila mengacu pada data sensus pertanian Badan Pusat Statistik (BPS), dari lima komoditas pangan itu, hanya dua yang cukup punya kans untuk mencapai swasembada, yakni beras dan jagung. Tiga komoditas lainnya –gula, kedelai, dan daging sapi– masih tinggi tingkat ketergantungannya pada impor.

 Menurut Suryamin, Kepala BPS, makin tingginya tingkat ketergantungan pada impor pangan memang tidak lepas dari penurunan jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian.

 Sensus pertanian BPS pada 2004, misalnya, mencatat bahwa jumlah rumah tangga usaha pertanian (jumlah kelompok tani) menurun drastis. Pada 2004, tercatat sampai 40 juta keluarga petani di Indonesia. Pada sensus 2013 ini, jumlah itu melorot tajam tinggal 26,1 juta keluarga saja. Ini berarti jutaan petani telah lenyap. “Umumnya mereka beralih ke sektor-sektor yang lebih produktif, seperti konstruksi dan industri,” katanya.

 Minimnya kesejahteraan petani adalah penyebab utama mengapa jutaan petani lenyap. Dalam sensus BPS, hal itu tercemin dari kontribusi sektor pertanian terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia, yang kenaikannya bisa dibilang merangkak.

 Pada 2004, sektor pertanian menyumbang 14,3% ke PDB. Tapi pada 2013, setelah disensus lagi, cuma naik jadi 15% dalam waktu sembilan tahun. Bandingan dengan kontribusi sektor industri. “Share industri 24%-25%,” kata Suryamin kepada Michael Agustinus dari GATRA.

 Namun, kata Suryamin, walau jumlah petani berkurang, kenaikan share di PDB itu menunjukkan bahwa produktivitas pertanian meningkat. “Masih bisa ditingkatkan lagi. Mereka (petani) kan melihat harga jual. Harus dipikirkan harga jual yang pas agar mereka mau menanam,” ujarnya.

 Masalah lain adalah penyusutan lahan pertanian akibat dikonversi menjadi kawasan real estate dan sebagainya. Ketika ditemui Kamis lalu, seusai menghadiri rapat dengar pendapat dengan DPR, Menteri Pertanian Suswono mengakui bahwa penyusutan lahan pertanian terjadi secara luar biasa.

 Penyusutan itu mencapai 100.000 hektare per tahun, sedangkan pembukaan lahan baru hanya 40.000 hektare. “Konversi lahan sangat massif. Lahan yang susut ini luar biasa, khususnya di Jawa,” katanya.

 Penyusutan lahan ini juga membawa kerusakan lain, yakni kehilangan irigasi. Suswono mengatakan kalau sampai 52% sistem irigasi pertanian rusak, dan anggaran yang dibutuhkan untuk memperbaiki irigasi itu pun sangat besar, yakni mencapai Rp 21 trilyun.

 Pengamat pertanian, H.S. Dillion, mengatakan seharusnya Indonesia bisa mencontoh Taiwan sebagai salah satu negara yang sukses membangun sektor pertanian.

 Reformasi agraria dan pembangunan infrastruktur digenjot di desa-desa, hingga agroindustri pun berkembang di sana, bukannya di kota, seperti yang terjadi di Indonesia.

 “Malaysia juga belajar dari pengalaman Taiwan. Mereka berpihak pada puak Melayu, mulai dari pedesaan dukungan diberikan pada petani,” katanya kepada Joni Aswira Putra dari GATRA.

Dillon juga mengkritik kecenderungan pemerintah yang mencari jalan pintas dengan penyediaan lahan dalam jumlah besar kepada korporat atau yang lazim dikenal sebagai corporate farming.

 Sebab itu akan membuat petani kehilangan tanah, hingga warga desa pun hijrah ke kota, atau bahkan hijrah ke luar negeri untuk jadi TKI di perkebunan-perkebunan Malaysia atau jadi pembantu di Timur Tengah.

 “Apa rakyat ini mau dijadikan babu? Kata kuncinya itu keberpihakan pada rakyat, bukannya penyediaan lahan buat konglomerat,” katanya.

 Memang masih banyak tantangan dalam soal swasembada pangan. Sebagai negara agraris dengan wilayah daratan yang luas, Indonesia seharusnya tidak lagi berkutat dengan soal swasembada pangan, tapi sudah harus mampu mengekspor pangan ke luar negeri.

 Tapi, sejauh ini, pemerintah masih tetap optimistis. Meski data di lapangan menunjukkan kalau swasembada gula, kedelai, dan daging sapi, masih jauh dari realistis, Menteri Pertanian Suswono masih menyatakan program swasembada lima komoditas pangan tetap harus tercapai pada 2014.

 Menurutnya program ini belum gagal. “Kita belum bisa mengatakan ini gagal. Tapi ada penyimpangan-penyimpangan di lapangan. Ini akan kita evaluasi,” katanya.

Sumber : http://www.gatra.com/fokus-berita/38571-swasembada-pangan-2014,-sebuah-utopia.html

Pertanianku — Beragam jenis makanan sehat banyak menjadi asupan pada saat seseor [...]

Pertanianku — Menghilangkan bekas getah pisang pada baju cukup sulit dilakukan. [...]

Pertanianku — Jeruk memiliki keunikan rasa manis dan asam yang membuatnya terasa [...]

Pertanianku — Bawang merah dan cabai merupakan dua jenis tanaman yang bernilai e [...]

Pertanianku — Ayam arab adalah ayam jenis petelur unggul yang banyak diidolakan [...]

Pertanianku — Tanaman bunga kerap dijadikan tanaman penghias pekarangan rumah. N [...]

Pertanianku — Trik menyimpan buah pisang bisa diterapkan agar buah ini bisa disi [...]

Pertanianku — Buah plum digemari karena dipercaya bisa membantu menurunkan berat [...]

Pertanianku — Biasanya, konsumen menyukai membeli buah yang belum terlalu matang [...]

Pertanianku — Penyakit tular tanah terdiri atas berbagai jenis jamur, bakteri, n [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10000 milliseconds