Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
Srini Maria,Ibu Buncis dari Merapi | binaswadaya.org      

Srini Maria,Ibu Buncis dari Merapi

Menerapkan metode pola menanam kepada para petani di Magelang, khususnya untuk petani wanita karena ia ingin mereka lebih berdaya & aktif dalam perekonomian keluarga.

Desa Sengi merupakan salah satu desa yang secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang Propinsi Jawa Tengah, terdiri dari 8 dusun dengan 36 RT. Jarak Desa Sengi ke Ibukota Kecamatan ± 5 km, ke Ibukota Kabupaten Magelang Magelang ± 30 km.

Desa Sengi merupakan desa yang sangat dekat dengan Gunung Merapi sehingga daerah ini sering disebut daerah KRB III, daerah rawan bencana satu, karena wilayah Sengi terletak ± 8 km dari puncak Merapi.Mata pencaharian masyarakat Desa Sengi meliputi pertanian, perkebunan, peternakan dan perdagangan, sebagian ada yang berwiraswasta dan Pegawai.

 Sekalipun lahir dari keluarga petani di tengah masyarakat petani di lereng Gunung Merapi, Srini tak suka bertani. Lulus kuliah dari Universitas Tidar, Magelang,   Srini    menekuni   profesi yang jauh dari aktivitas bercocok tanam. Keluar dari desanya, Desa Sengi, ia mengontrak rumah dan bekerja  sebagai  guru  TK  di  Kecamatan  Muntilan.

 Ia sempat menjadi guru SMA di Kota Magelang dan menekuni bisnis multilevel marketing (MLM).

Setelah dua anaknya berkuliah di Yogyakarta, tahun 2004, dia memutuskan kembali ke kampung halaman. Di Dusun Gowok Ringin, Srini menggarap lahan pertanian warisan orangtuanya seluas 5.000 meter persegi.

 Tahun 2010, Srini yang terlibat dalam program pendidikan masyarakat di Gubug Selo Merapi di lereng Gunung Merapi, Kecamatan Dukun, terpilih menjadi salah satu dari puluhan petani yang dikirim Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Jateng untuk melaksanakan empat kali studi banding di perusahaan eksportir sayur di Bandung, Jawa Barat.

 Semangat Srini tak berhenti di Dusun Gowok Ringin. Ibu tiga anak itu pun rajin mencari informasi tentang acara arisan dan berbagai acara pertemuan ibu-ibu di dusun lain. Dia memanfaatkannya sebagai ajang untuk menyampaikan materi tentang ekspor sayur. Dari upaya tersebut, Srini berhasil mengumpulkan 28 perempuan petani yang mau bergabung dengannya. Juli 2010, kelompok ini resmi bernama Kelompok Wanita Tani (KWT) Merapi Asri.

 Pengembangan Usaha:

 1.Bersama dengan 28 anggota KWT, Srini mencoba mengekspor sayur dari hasil tanamannya sendiri. Dia menanam buncis perancis di area seluas 400 meter persegi. Dari area ini, dia bisa menginisiasi ekspor dengan mengirimkan 25-30 kilogram (kg) buncis perancis ke Singapura lewat perantara petani sekaligus pengepul sayur, Pitoyo, di Kabupaten Semarang.

 2.Seiring perkembangan ekspor tersebut, jumlah anggota KWT Merapi Asri bertambah menjadi 42 orang. Tak hanya dari Dusun Gowok Ringin, anggota KWT juga berasal dari dua dusun tetangga, Dusun Gowok Sabrang dan Dusun Gowok Pos, serta Desa Tlogolele, Boyolali. Luas lahan pertanian buncis perancis milik anggota KWT Merapi Asri mencapai 1 hektar. Di bawah bimbingan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura, tahun 2012, KWT Merapi Asri mengekspor sendiri buncis perancis ke Singapura dengan volume pengiriman 90-125 kg per hari lewat perusahaan eksportir.

 

3.Pihaknya segera membarui nota kesepahaman dengan perusahaan yang turut mengekspor buncis prancis panenan anggota kelompok tani Merapi itu, untuk lanjutan ekspor pada 2013. Buncis prancis panenan perempuan petani kelompok itu, berdasarkan kontrak ekspor 2012, dengan harga Rp 9.000 per kilogram.

 4.Pihaknya menyiapkan paket budi daya buncis prancis sesuai standar kualitas ekspor antara lain benih, pupuk organik cair, obat organik penyubur tanaman, dan perangsang bunga dengan harga Rp 119.000 per paket.

 5.Merintis budi daya bit untuk diekspor. Bit disebut bermanfaat antara lain untuk penambah darah, pengobatan pasien diabet, dan pewarna alami produk makanan. Buah Bit rencananya akan diekspor ke Singapura melalui perusahaan ekspor produk hortikultura di Soropadan Agro Ekspo Kabupaten Temanggung, dengan nilai kontrak Rp 4.000 per kilogram.

 Dampak,

 1.Harga jual buncis perancis untuk ekspor Rp 9.000 per kg, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan buncis biasa yang di pasar lokal hanya laku Rp 2.000- Rp 5.000 per kg. Selain untuk ekspor, KWT Merapi Asri juga tetap menjalin kerja sama dengan pedagang pengepul sayur di Kabupaten Semarang untuk membantu mendistribusikan buncis perancis di pasar lokal. Harganya di pasar lokal sekitar Rp 6.000 per kg.

 2.Para perempuan dan setiap keluarga petani mampu berpikir maju dalam mengembangkan pasarnya. Dengan demikian, petani tak terus-menerus terombang-ambing oleh harga sayur di pasar lokal.

Pertanianku — Beragam jenis makanan sehat banyak menjadi asupan pada saat seseor [...]

Pertanianku — Menghilangkan bekas getah pisang pada baju cukup sulit dilakukan. [...]

Pertanianku — Jeruk memiliki keunikan rasa manis dan asam yang membuatnya terasa [...]

Pertanianku — Bawang merah dan cabai merupakan dua jenis tanaman yang bernilai e [...]

Pertanianku — Ayam arab adalah ayam jenis petelur unggul yang banyak diidolakan [...]

Pertanianku — Tanaman bunga kerap dijadikan tanaman penghias pekarangan rumah. N [...]

Pertanianku — Trik menyimpan buah pisang bisa diterapkan agar buah ini bisa disi [...]

Pertanianku — Buah plum digemari karena dipercaya bisa membantu menurunkan berat [...]

Pertanianku — Biasanya, konsumen menyukai membeli buah yang belum terlalu matang [...]

Pertanianku — Penyakit tular tanah terdiri atas berbagai jenis jamur, bakteri, n [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10000 milliseconds