Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
Sedekah Sampah untuk Pendidikan | binaswadaya.org      

Sedekah Sampah untuk Pendidikan

Alur kehidupan Adi Putra (37) begitu lekat dengan sampah. Bertahun-tahun melewati masa kecil sebagai pemulung, Adi kini berjuang menyelamatkan pendidikan bagi anak-anak usia dini hingga siswa sekolah menengah atas. Dana kegiatannya berasal dari sedekah sampah.

Sejak kecil, Adi hidup dalam keterbatasan ekonomi. Penghasilan ayahnya yang bekerja sebagai buruh bangunan tidak cukup untuk membiayai pendidikan bagi empat anaknya, termasuk Adi. Namun, Adi tetap bertekad untuk sekolah. Tekad itulah yang mendorong dia mencari uang sendiri untuk biaya sekolah dengan memulung sampah. Ia melakukannya sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Setiap hari selepas pulang sekolah, ia mampir ke tepian Sungai Batanghari, Jambi. Kaleng dan botol plastik bekas ia kumpulkan dari sungai itu, lalu dijual ke pasar. ”Hasilnya lumayan untuk membeli perlengkapan dan kebutuhan sekolah,” ujarnya, Rabu (21/9), di Kota Jambi.

Ketika beranjak remaja, ia menyadari bahwa biaya pendidikan semakin besar. Sementara uang yang bisa ia kumpulkan dari memulung tidak memadai. Ia pun melirik pekerjaan lain sebagai penjual ikan di Pasar Angso Duo, Kota Jambi.

Setiap hari, ia menjaring ikan di sungai. Hasilnya ia jual ke pasar yang mulai ramai pembeli menjelang dini hari. Tak jarang ia baru selesai berjualan ikan pukul 05.00. Setelah itu, Adi langsung bergegas ke sekolah.

Beberapa kali ia terlambat masuk kelas, beberapa kali pula guru menegurnya. Adi akhirnya mengatakan kepada gurunya bahwa ia sering terlambat karena harus berjualan ikan di pasar. Sang guru tidak memercayai begitu saja pengakuan Adi.

”Suatu kali guru saya mengecek langsung ke pasar apa benar saya berjualan ikan. Beliau benar-benar terkejut sewaktu melihat saya di sana,” ujar Adi yang berjualan ikan hingga lulus SMA.

Dari berjualan ikan pula Adi bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ketika ikan tangkapan dari sungai semakin berkurang, ia banting setir berjualan es tebu, berdagang pisang goreng, hingga menjadi tukang ojek, agen koran, penyiar radio, dan tukang cuci sepeda motor. ”Semuanya saya lakukan agar lulus kuliah,” lanjutnya.

Donatur sampah

Singkat cerita, Adi berhasil menggapai mimpinya menjadi sarjana dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi pada 2006. Namun, ia tidak cepat puas sebab ia melihat banyak anak dari keluarga miskin seperti dirinya tidak bisa mengakses pendidikan. Ia pun bertekad membantu mereka agar bisa sekolah.

Ia mewujudkan tekadnya dengan membuka Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Tamak Kanak-kanak Al-Kausar di Kota Jambi pada 2014. Saat itu, kondisi ekonomi Adi sebenarnya belum stabil. Gajinya sebagai penyiar radio berstatus honorer hanya Rp 300.000 per bulan. Uang sejumlah itu tak akan bisa menutup kebutuhan PAUD dan TK.

Namun, Adi tidak kehilangan akal. Berbekal pengalamannya sebagai pemulung di masa kecil, ia mencoba memanfaatkan sampah sebagai sumber pendanaan sekolah. Ia tidak menarik uang pendaftaran atau biaya sekolah kepada orangtua yang ingin menyekolahkan anaknya di PAUD atau TK Al-Kausar. Mereka cukup menyedekahkan barang bekas, seperti koran, botol plastik, kaleng minuman, besi tua, dan barang elektronik rongsokan. ”Berapa pun sampah yang mereka setor pasti kami terima,” kata ayah dua anak itu.

Adi Putra

Lahir:

Jambi, 28 Juni 1979

Istri:

Astuti (30)

Anak:

  1. Kaisar (6)
  2. Hafizah (3)

Pendidikan:

  1. SDN 91 Jambi (1986-1993)
  2. SMPN 19 Jambi (1993-1996)
  3. SMAN 4 Jambi (1996-1999)
  4. Sarjana Jurusan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi (1999-2006)

Pekerjaan dan Kegiatan:

  1. Penyiar RRI (2006-sekarang)
  2. Pendiri dan pengelola sekolah bank sampah PAUD dan TK Al-Kausar
  3. Merintis berbagai model sekolah bank sampah di sejumlah sekolah

 

Setiap sampah yang mereka setor akan dinilai harganya. Dalam satu bulan, orangtua diharapkan dapat mengumpulkan sampah hingga mencapai nilai Rp 40.000. Jika tidak tercapai, orangtua akan mendapatkan bantuan dari para donatur sampah, yakni sejumlah pebisnis dan lembaga pemerintah.

Para donatur tidak perlu memberikan uang, tetapi kertas, koran, kain, atau buku bekas. Hasil penjualan sampah yang dikumpulkan dari orangtua dan para donatur ternyata cukup untuk menutup biaya operasional sekolah, termasuk membayar honor tiga guru dan satu kepala sekolah.

Adi bahkan masih bisa menyisihkan sebagian sampah plastik untuk diolah menjadi alat peraga pendidikan dan aneka kerajinan, seperti hiasan dinding, lampu kamar, dan cendera mata. Dengan demikian, bahan bekas itu bisa memiliki nilai jual lebih.

Orang aneh

Awalnya gagasan Adi untuk membangun lembaga pendidikan yang dibiayai bank sampah tidak mudah diterima warga. Mereka sangsi dengan gagasan Adi. ”Apa betul ini sekolah serius?” ujar Ririn, salah satu warga.

Meski sangsi, ia tetap mendaftarkan anaknya, Azkah (5), dengan menyetor barang bekas sebagai ganti uang pendaftaran. Ririn menyaksikan sendiri bahwa kualitas pendidikan PAUD dan TK Al-Kausar yang didirikan Adi sama dengan sekolah lain. Bahkan, anak-anak sejak dini diajarkan untuk menghargai sampah. Mereka juga dilatih keterampilan mengolah gelas plastik bekas menjadi topi, mainan sederhana, dan alat peraga di kelas.

Seiring waktu, lembaga pendidikan berbasis bank sampah yang digagas dan dikelola Adi terus berkembang. Belasan instansi swasta dan pemerintah daerah berbondong-bondong melibatkan diri sebagai donatur sampah. Bank Indonesia bahkan ikut menyumbang kendaraan bermotor yang bisa digunakan untuk menjemput sampah dari rumah warga.

Konsep sekolah yang dibiayai sampah belakangan dicangkokkan oleh Adi ke empat sekolah lain, yakni Sekolah Dayung Bank Sampah di kawasan Sipin; Sekolah Bank Sampah Perempuan di kawasan Palmerah, Kota Jambi; serta SMP dan SMA Arradal Haq di pelosok Kecamatan Pematang Lumut, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. Hasilnya cukup menggembirakan.

Adi juga mengembangkan Lembaga Keterampilan Keliling, yaitu program pengolahan sampah menjadi barang kerajinan, yang digelar dari kampung ke kampung. Dengan kegiatan itu, ia berharap semakin banyak warga yang sadar untuk tidak membuang barang bekas begitu saja, namun mengolahnya menjadi barang bernilai ekonomi.

Adi tidak berhenti di situ. Di otaknya banyak rencana lain yang akan dijalankan, seperti membangun workshop pengolahan sampah, museum sampah, perpustakaan sampah, dan pasar wisata sampah. Pokoknya semua berbasis sampah.

Sumber : http://print.kompas.com

Pertanianku — Beragam jenis makanan sehat banyak menjadi asupan pada saat seseor [...]

Pertanianku — Menghilangkan bekas getah pisang pada baju cukup sulit dilakukan. [...]

Pertanianku — Jeruk memiliki keunikan rasa manis dan asam yang membuatnya terasa [...]

Pertanianku — Bawang merah dan cabai merupakan dua jenis tanaman yang bernilai e [...]

Pertanianku — Ayam arab adalah ayam jenis petelur unggul yang banyak diidolakan [...]

Pertanianku — Tanaman bunga kerap dijadikan tanaman penghias pekarangan rumah. N [...]

Pertanianku — Trik menyimpan buah pisang bisa diterapkan agar buah ini bisa disi [...]

Pertanianku — Buah plum digemari karena dipercaya bisa membantu menurunkan berat [...]

Pertanianku — Biasanya, konsumen menyukai membeli buah yang belum terlalu matang [...]

Pertanianku — Penyakit tular tanah terdiri atas berbagai jenis jamur, bakteri, n [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10001 milliseconds