Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
REVOLUSI MENTAL UNTUK INDONESIA | binaswadaya.org      

REVOLUSI MENTAL UNTUK INDONESIA

Oleh: Paulus Wirutomo

Revolusi Mental pernah bergaung di pelosok negeri ini dan telah menjadi daya pikat Jokowi sebagai kandidat presiden pada kampanye Pemilu yang baru lalu. Retorika semacam ini memang selalu rentan untuk menjadi slogan belaka, apalagi dilontarkan pada saat kampanye. Tetapi sebagian masyarakat sampai saat ini ternyata masih tetap menunggu bagaimana realisasinya.

Pemerintahan Jokowi sebenarnya juga tidak memperlakukan Revolusi Mental sebagai slogan, buktinya sebagai bagian dari Nawacita konsep dan strategi Revolusi Mental telah digodok dalam suatu Kelompok Kerja di Rumah Transisi. Kehendak Politik ditunjukkan dengan dikeluarkannya instruksi pada seluruh Birokrasi Pemerintah untuk melaksanakannya dan menugaskan Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan sebagai koordinator.

revmen-1Tetapi, bagaimanapun Pemerintah harus mengakui bahwa sampai sekarang tidak terasa ada gebrakan Revolusi Mental yang “menggairahkan” di Masyarakat.

Mungkin ada kegamangan dari pihak Pemerintah untuk mencanangkan hal yang berbau slogan ditengah hiruk pikuk politik belakangan ini. Namun bila sikap “pesimis” ini yang dipilih maka Pemerintahan Jokowi justru akan kehilangan ciri atau karakter yang menjadi daya pikat rakyat.

Sebetulnya Pemerintah baru justru akan dapat mengangkat kembali popularitasnya di masyarakat melalui Revolusi Mental sebab ini adalah “trademark” pemerintahan Jokowi, disinilah nilai-nilai yang akan diperjuangkan rezim ini menjadi jelas di Masyarakat. Memang ada konsekwensi yang harus dipenuhi yaitu Pemerintah harus benar-benar konsekwen dengan semangat nillai-nilai yang diusung oleh Revolusi Mental. Bukan membiarkan dirinya terombang-ambing oleh rayuan dan hasutan politik disana sini

Mengapa Revolusi Mental?

Saat ini bila ada survei internasional untuk mengukur kualitas bangsa-bangsa, maka Indonesia selalu berada diurutan atas dalam hal yang tidak baik (negara paling macet, paling bepolusi, paling banyak korupsi dsb.), sementara dalam hal yang baik (negara teraman, negara terbersih dsb.) kita selalu berada diurutan bawah.

Mungkin kita merasa kesal terhadap hasil survey itu, tetapi bila kita tanya pada orang-orang di jalanan, apakah bangsa kita semakin disiplin, semakin rukun, semakin toleran, semakin kreatif?, maka jawaban mereka hampir bisa dipastikan: ”Tidak!”. Itu artinya kita sedang mengalami degradasi karakter secara obyektif maupun subyektif.

Sekitar 300 pakar dan tokoh masyarakat yang diundang oleh Pokja Revolui Mental di Rumah Transisi bersepakat bahwa bangsa kita memang membutuhkan suatu “revolusi mental”.

Memang ada yang cenderung menanggapi secara skeptis dan menganggap mental tak mungkin dirubah secara revolusioner, namun banyak pula yang secara pragmatis dan praktis menerima ide ini sebagai sesuatu yang harus segera dilaksanakan.

Mereka yakin bangsa kita juga bisa melakukan pembangunan karakter secara berhasil seperti misalnya Jepang, Korea, Singapore dan lain-lain. Mereka juga yakin bahwa karakter adalah sesuatu yang bisa dirubah, bukan ciri abadi suatu bangsa. Kita memang sudah terlambat dibanding negara-negara lain bahkan negara-negara tetangga kita, tetapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Konsep Revolusi Mental.

Para tokoh dan pakar bersepakat bahwa hakekat Revolusi Mental adalah “mengembangkan nilai-nilai”. Agar perubahan bisa bersifat revolusioner maka nilai yang akan dikembangkan tidak boleh terlalu banyak dan harus bersifat “strategis-instrumental” artinya bila dikembangkan akan mampu mengangkat kualitas dan daya saing bangsa secara keseluruhan. Nilai-nilai itu tidak perlu disakralkan dan harus bersifat lintas agama agar tidak menyulut perdebatan antar golongan.

Revolusi Mental sebaiknya tidak mentargetkan suatu moralitas privat seperti kesalehan pribadi, kerajinan menjalankan ibadah dsb., namun lebih diarahkan untuk membenahi moralitas publik misalnya kedisiplinan di tempat umum, membayar pajak, tidak korupsi, tidak menghina, apalagi menganiaya kelompok lain dsb.

Moralitas privat memang penting tetapi itu sebaiknya masuk ke ranah privat dan ranah agama yang sudah berurat berakar di masyarakat kita. Revolusi Mental cukup mengurus ranah publik.

Melalui diskusi yang hangat dan dengan mengacu pada Pancasila dan Trisakti, maka disepakati bahwa nilai yang akan dikembangkan berjumlah enam yaitu:

1. Nilai Kewargaan:
Nilai ini perlu dikembangkan agar orang Indonesia tidak merasa hanya menjadi “penduduk” tetapi warganegara yang punya kesadaran yang seimbang antara hak dan kewajiban. Ini artinya harus ada keseimbangan yang adil antara peran Pemerintah (yang harus benar-benar hadir melayani) dengan peran civil society yang harus patuh hukum dan berdisiplin. Di samping itu nilai kewargaan juga mencakup pengembangan rasa identitas nasional kita sebagai bangsa Indonesia.

2. Nilai bisa dipercaya:
Inilah nilai yang paling terbengkelai dan terabaikan di masyarakat kita akhir-akhir ini. Banyak orang melakukan kebohongan Publik, rakyat menipu Pemerintah dan Pemerintah membohongi rakyat, korupsi merajalela. Nilai ini perlu dibangkitkan lagi dengan semangat dan komitment yang tinggi baik di kalangan rakyat maupun di dalam birokrasi Pemerintah, agar tercipta Indonesia bebas korupsi dan tercipta kejujuran publik.

3. Nilai Kemandirian:
Saat ini sebagai bangsa kita amat tergantung pada bangsa lain, mulai dari ketergantungan teknologi, ilmu pengetahuan sampai pangan. Nilai kemandirian perlu dibangun kembali, bukan hanya oleh masyarakat tetapi terutama komitmen Pemerintah untuk memfasilitasinya melalui pembenahan kebijakan Pembangunan dan regulasi yang mendorong kemandirian.

4. Nilai Kreativitas:
Kita harus menyadari bahwa sumberdaya alam terbatas, tetapi kreativitas tidak terbatas. Karena itu banyak bangsa berlomba-lomba mengasah kreativitasnya. Kebudayaan Nusantara sebenarnya telah menunjukkan berbagai kreativitas sejak jaman dulu, namun di masa kini banyak kebijakan dan regulasi yang menghambat kreativitas di masyarakat. Dengan Revolusi Mental kita harus membangkitkan nilai kreativitas bangsa sampai pada titik yang membanggakan secara internasional.

5. Nilai Gotong Royong:
Ini adalah inti dari Pancasila, nilai ini adalah andalan bangsa kita sejak dulu kala, tetapi kita merasakan kemerosotan yang dahsyat baik di komunitas kecil sampai ke sistem ekonomi dan politik kita yang serba liberal, oligarkis dan monopolistik. Revolusi mental harus mengembalikan karakter gotongroyong bangsa ini pada tingkat komunitas sampai tingkat sistem pollitik dan ekonomi yang lebih makro dalam bentuk yang lebih modern.

6. Nilai saling menghargai:
Sebagai bangsa majemuk, kelangsungan hidup bangsa Indonesia sangat bergantung pada nilai ini. Namun kita menyaksikan toleransi dan kesetiakawanan sosial semakin merosot. Kelompok-kelompok ekstrim di masyarakat saat ini tanpa malu-malu menunjukkan di depan publik bahwa mereka tidak bisa menerima kehadiran kelompok lain yang berbeda agama, ras, suku dsb. Revolusi mental harus mampu mengembalikan karakter bangsa yang dikenal bertenggang rasa dan bersahabat ini.

Kesepakatan Nasional tentang nilai-nilai strategis yang perlu “direvolusi” adalah sangat penting, sebab Revolusi membutuhkan fokus dan komitmen. Memang masih banyak nilai lain yang penting, tetapi kita harus memilih yang paling strategis, yaitu paling mendesak dan dibutuhkan untuk kebangkitan budaya dan peradaban bangsa saat ini.

Nilai-nilai yang lain masih tetap bisa dikembangkan oleh masing-masing orang atau kelompok dalam kehidupan sehari-hari, tetapi enam nilai strategis tadi harus menjadi fokus sasaran dari Revolusi mental di semua pelosok tanah air. Hanya dengan cara itu Revolusi Mental secara nasional bisa terjadi.

Bangsa Korea dengan gerakan Semaul Undong sejak beberapa puluh tahun lalu hanya mengangkat tiga nilai saja: kerjasama, kemandirian dan kerja keras. Mereka berhasil karena melaksanakannya secara konsisten dan persisten.

revmen-3

Agar tidak berhenti menjadi slogan dan retorika kosong belaka, Pokja Revolusi Mental dari Rumah Transisi telah mengusulkan delapan prinsip Revolusi Mental, yaitu:

Bukan Proyek Pemerintah, tetapi Gerakan Masyarakat yang difokuskan pada pengembangan 6 nilai strategis di atas.

Harus ada komitmen penuh dari Pemerintah (political will) yang ditandai dengan Reformasi Birokrasi yang bisa mendorong dan memfasilitasi perubahan sikap dan perilaku masyarakat terutama dalam merealisasi enam nilai strategis.

Revolusi Mental harus dilaksanakan secara lintas sektor, tidak boleh hanya menjadi urusan satu Kementerian saja.

Revolusi Mental harus direncanakan dan dilaksanakan secara partisipatoris, Pemerintah harus menjalin kerjasama dengan kekuatan rakyat dari seluruh golongan dan daerah.

Melakukan “value attack” (gempuran nilai) yaitu penanaman nilai secara bertalu-talu melalui: kampanye, aksi sosial, iklan layanan masyarakat, celotehan di media sosial, film pendek, sinetron, games, aplikasi, layar tancap, pengumuman terus menerus di tempat-tempat umum misalnya untuk menjaga kebersihan, untuk antri dsb.

Disain program harus “user friendly” artinya mudah dilaksanakan, popular bagi semua usia, sesuai gaya hidup setempat.
Enam nilai strategis Revolusi Mental bertujuan mengatur kehidupan sosial (moralitas publik) bukan moralitas privat.

Hasil gerakan Revolusi Mental harus dapat diukur dampaknya pada perilaku masyarakat. Pengukuran akan dilakukan setiap tahun secara nasional, sehingga dapat dipantau bersama Kabupaten/Kota mana yang paling berhasil mengembangkan Revolusi Mental, Departemen apa yang kebijakan dan regulasinya mendukung atau justru menghambat pengembangan enam nilai Revolusi Mental. Secara nasional bahkan presiden Jokowi bisa melihat sejauhmana pemerintahannya berhasil mengimplementasikan Revolusi Mental secara nyata di Indonesia.

Bangsa kita saat ini memang sedang mengalami kemerosotan karakter, tetapi kita bisa berubah. Perubahan harus dilakukan bukan hanya secara individual tetapi secara nasional dan sistemik. Kita harus berubah sekarang juga, sebab bangsa lain sudah banyak yang mendahului kita.

Revolusi Mental perlu segera dipersiapkan pelaksanaanya, bukan untuk dikaji secara berkepanjangan atau bahkan dipertengkarkan. Bangsa-bangsa lain sedang berubah, bangsa ini juga bisa. Apapun alasannya, Pemerintahan Jokowi tidak boleh merasa gamang untuk melaksanakan Revolusi Mental, sebab ini telah menjadi janji yang disambut antusias oleh Rakyat…”sekali layar terkembang, pantang kita bersurut…”

Demikian paparan dari pak Pulus Wirutomo yang juga sekaligus sebagai ketua Yayasan Bina Swadaya saat ini dalam seminar sehari pengembangan wawasan di kampus Diklat Bina Swadaya, Wisma Hijau. Pak Paulus juga mengajak semua warga Bina Swadaya untuk memulai “revolusi mental” dari diri sendiri, dengan memberi contoh misalnya merokok jangan merugikan orang lain dengan asapnya, mematikan lampu di siang hari seperti di ruangan/toilet yang tidak sedang digunakan.

(Paulus Wirutomo adalah mantan ketua Pokja Revolusi Mental pada Rumah Transisi Jokowi-JK)

Pertanianku — Saat memakan buah apel, umumnya kita membuang bagian kulit, teruta [...]

Pertanianku — Hari raya Idul Adha identik dengan daging kurban. Biasanya, kita a [...]

Pertanianku — Beragam jenis makanan sehat banyak menjadi asupan pada saat seseor [...]

Pertanianku — Menghilangkan bekas getah pisang pada baju cukup sulit dilakukan. [...]

Pertanianku — Jeruk memiliki keunikan rasa manis dan asam yang membuatnya terasa [...]

Pertanianku — Bawang merah dan cabai merupakan dua jenis tanaman yang bernilai e [...]

Pertanianku — Ayam arab adalah ayam jenis petelur unggul yang banyak diidolakan [...]

Pertanianku — Tanaman bunga kerap dijadikan tanaman penghias pekarangan rumah. N [...]

Pertanianku — Trik menyimpan buah pisang bisa diterapkan agar buah ini bisa disi [...]

Pertanianku — Buah plum digemari karena dipercaya bisa membantu menurunkan berat [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10000 milliseconds