Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
Revolusi Mental Antara Indonesia dan Korea | binaswadaya.org      

Revolusi Mental Antara Indonesia dan Korea

”Indonesia harusnya lebih baik dari hari ini. Korea (Selatan) saja bisa maju, mengapa Indonesia tidak?” kata Koh Young-hun, seorang profesor di Program Studi Melayu-Indonesia dari Universitas Hankuk, saat ditemui di Seoul, baru-baru ini.

Bambang Ismawan mewakili Bina Swadaya

Bambang Ismawan mewakili Bina Swadaya

Bambang Ismawan selaku pendiri sekaligus Ketua Pembina Yayasan Bina Swadaya, sebuah lembaga swadaya masyarakat tertua di Indonesia, diundang untuk memberikan kuliah umum di Graduate School of International Studies di Universitas Yonsei di Seoul, Selasa (24/3). Bambang Ismawan berbagi pengalaman dalam pembangunan masyarakat dan pengentasan masyarakat dari kemiskinan. Selain itu, dia juga mengajak masyarakat dunia untuk berkolaborasi membangun dunia yang lebih baik dari sisi moral dan ekonomi.

”Tiga puluh tahun yang lalu, saya mendengar dari profesor saya di ruang kelas bahwa Indonesia punya potensi besar dengan kekayaan sumber daya alam dan manusianya. Tiga puluh tahun sudah lewat, saya sudah menjadi profesor, tetapi saya masih mengatakan hal yang sama ke murid-murid saya,” kata Koh.

Koh mulai khawatir dirinya akan mengulang-ulang pernyataan bahwa Indonesia punya potensi besar. Tentu saja tidak salah apabila negeri ini punya potensi besar. Persoalannya, buat apa memiliki potensi besar jika tidak mampu direalisasikan?

Apabila indikatornya Laporan Daya Saing Global (Global Competitiveness Report) versi World Economic Forum, tahun 2014-2015, Korea Selatan menempati peringkat ke-26. Peringkat Korea Selatan lebih baik dibandingkan dengan Indonesia di peringkat ke-34. Padahal, ”modal” Indonesia lebih baik. Populasi Indonesia mencapai 250 juta orang, lima kali lebih banyak dari penduduk Korea Selatan. Korea Selatan juga tergolong miskin ”sumber daya alam” dengan hanya ada sedikit bahan tambang dan areal pertanian yang sempit. Jangan bandingkan dengan Indonesia, yang dikaruniai Tuhan dengan aneka macam sumber daya alam.

Dalam perjalanan rombongan Yayasan Bina Swadaya—peraih penghargaan dari Yayasan Posco 2015—dan Kompas ke Seoul pada Maret 2015, sesungguhnya dijumpai banyak kesan positif dari warga Korea. ”Saya paham Indonesia negara besar,” kata Yul Sohn, Dekan Program Studi Internasional dari Universitas Yonsei.

Sohn terkesan dengan modal sosial orang Indonesia. Suatu hari, dia berkunjung ke sebuah pabrik di Bandung, tetapi mobil yang dikendarainya terjebak banjir. ”Tiba-tiba ada beberapa orang yang mendorong mobil kami tanpa diminta sehingga baju mereka sampai benar-benar basah. Saya sangat terkesan dengan bantuan itu,” katanya.

”Kami namakan itu dengan gotong royong,” kata Bambang Ismawan, pendiri dan Ketua Pembina Bina Swadaya. Menurut Bambang Ismawan, sifat itu melekat pada warga Indonesia.
Setelah Bambang Ismawan memberi penjelasan, jujur saja ada suasana hening. Dalam benak Kompas, dan mungkin juga di benak anggota rombongan lain, terngiang-ngiang pertanyaan, ”benarkah bangsa Indonesia masih memiliki sifat gotong royong dan nilai-nilai adiluhung lain?”
Manusia Korea

Nilai-nilai adiluhung bangsa memang tiada salahnya dilestarikan dan diterapkan dalam kehidupan, becermin pada pengalaman Korea Selatan. Sejak 1970-an, kata Koh, Pemerintah Korea Selatan membangun empat karakter manusia Korea Selatan.

Pertama, sikap rajin bekerja, yang lebih menghargai kerja tuntas daripada pidato yang muluk-muluk tanpa realisasi. Kedua, sikap hemat sebagai buah dari sikap rajin bekerja. Ketiga, sikap self-help yang berusaha mengembangkan sifat mandiri dan rasa percaya diri. Keempat, sikap mau bekerja sama mempersatukan individu dan masyarakatnya.

Sosiolog Universitas Indonesia, Profesor Paulus Wirutomo, yang juga Ketua Pengurus Yayasan Bina Swadaya, mengatakan, bangsa Indonesia jangan kehilangan harapan untuk tumbuh lebih baik. ”Pemimpin kita Joko Widodo telah memperkenalkan ’revolusi mental’. Itu saja dulu dijalankan jika kita ingin negara kita ’melejit’ seperti halnya Korea Selatan,” kata Paulus.

Internalisasi nilai memang harus diseriusi oleh bangsa Indonesia jika ingin mengekor, bahkan menyalip keperkasaan Korea Selatan. Hari proklamasi kemerdekaan RI, misalnya, hanya telat dua hari dari Korea Selatan. Namun, tanpa determinasi diri yang kuat, kini Indonesia tertinggal.

Bicara soal internalisasi nilai, Korea Selatan luar biasa. Bina Swadaya dan Kompas sempat melihat langsung pabrik baja Posco di Pohang (255 kilometer dari Seoul). Posco mengagumkan karena menjadi salah satu pabrik baja terbesar di dunia walau sumber dayanya terbatas. Bahan baku bijih besi (iron ore) antara lain diimpor Posco dari Brasil, selain juga batubara sebagai penggerak mesin.

Kemajuan Posco mencerminkan kemajuan Korea Selatan. Kemajuan itu buah dari determinasi pendiri Posco, Park Tae-joon, yang ucapannya dituliskan di gerbang Posco. ”Resources are limited, creativity is unlimited, ’sumber daya terbatas, tetapi kreativitas tidak terbatas’,” ujar Park.

Nilai-nilai positif yang diterapkan pekerja Posco, dan kini oleh sebagian besar orang Korea, yang sukses menumbuhkan industri kreatifnya, tidak ditanamkan dalam semalam. Bambang Ismawan, yang pertama kali mengunjungi Korea Selatan pada 1976, mengenang betapa internalisasi nilai-nilai luhur manusia Korea Selatan dikerjakan sejak bangku sekolah dasar.

Masyarakat madani

Nilai-nilai yang diinternalisasikan dalam payung revolusi mental, kata Paulus, sebaiknya mampu diukur dalam indikator-indikator yang mampu dianalisis setiap akhir tahun. ”Ambil satu nilai dulu, misalnya gotong royong dalam perekonomian, politik, dan kehidupan beragama,” ujarnya.

Tanpa revolusi mental, internalisasi nilai atau apa pun namanya, terjadilah paradoks dalam kehidupan berbangsa. Republik ini mendirikan Komisi Pemberantasan Korupsi, tetapi koruptor bermunculan bak jamur di musim hujan. Dulu ada masanya ketika budaya militeristik dimusuhi, tetapi setelah lebih dari satu dekade ternyata budaya kekerasan belum menghilang.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama juga mengalami dilema saat melakukan penertiban. Masyarakat yang sudah ditertibkan kerap kembali berjualan secara ilegal lagi. ”Kami ini jadi mirip Tom dan Jerry (dengan masyarakat dan PKL yang ditertibkan),” ujar Basuki.

Dari mana harus memulai revolusi mental? Waktu masih menjadi calon presiden, di harian ini Joko Widodo pernah menulis, ”harus dimulai dari lingkungan keluarga, tempat tinggal, lingkungan kerja, dan kemudian meluas menjadi lingkungan kota dan lingkungan negara”.

Tentu saja, lebih baik lagi jika nilai-nilai luhur diinternalisasikan saat negara dalam stabilitas yang baik. Stabilitas sangat penting supaya pemerintahan yang baru seumur jagung ini dapat merealisasikan janji-janji. ”Ya, lebih baik dibiarkan kerja dulu. Baru mulai, belum bisa dievaluasi,” kata Koh.

Ketika partai-partai politik sibuk cakar-cakaran, para birokrat digoyang ke kanan ke kiri, sebenarnya masih ada masyarakat madani. Kelompok-kelompok masyarakat sipil tersebut yang seharusnya dapat menjadi agen perubahan bagi internalisasi nilai-nilai luhur bangsa. Hanya dengan internalisasi nilai-nilai tersebut, kita dapat mengatasi ketertinggalan dari Korea Selatan. (HARYO DAMARDONO, dari Seoul)

http://print.kompas.com/baca/2015/04/02/Revolusi-Mental-Antara-Indonesia-dan-Korea

Pertanianku — Saat memakan buah apel, umumnya kita membuang bagian kulit, teruta [...]

Pertanianku — Hari raya Idul Adha identik dengan daging kurban. Biasanya, kita a [...]

Pertanianku — Beragam jenis makanan sehat banyak menjadi asupan pada saat seseor [...]

Pertanianku — Menghilangkan bekas getah pisang pada baju cukup sulit dilakukan. [...]

Pertanianku — Jeruk memiliki keunikan rasa manis dan asam yang membuatnya terasa [...]

Pertanianku — Bawang merah dan cabai merupakan dua jenis tanaman yang bernilai e [...]

Pertanianku — Ayam arab adalah ayam jenis petelur unggul yang banyak diidolakan [...]

Pertanianku — Tanaman bunga kerap dijadikan tanaman penghias pekarangan rumah. N [...]

Pertanianku — Trik menyimpan buah pisang bisa diterapkan agar buah ini bisa disi [...]

Pertanianku — Buah plum digemari karena dipercaya bisa membantu menurunkan berat [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10001 milliseconds