Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
PNPM Solusi Atasi Urbanisasi | binaswadaya.org      

PNPM Solusi Atasi Urbanisasi

Ketika orang desa beramai-ramai datang ke kota, mencari penghidupan baru di luar dari keahlian mereka seperti bertani, nelayan, berkebun dan lainnya.

Oleh: Rika Suartiningsih

Mereka terpaksa memburu rupiah walau hanya bergaji murah, ada yang menjadi babu, tukang kebun, walau dibayar dengan murah tanpa memiliki posisi tawar.

Bahkan tak sedikit anak-anak desa yang akhirnya terjebak ke kota untuk menjadi korban prostitusi diperdagangkan. Mereka datang untuk mengabdikan diri menjadi orang pinggiran baru di kota, kaum marjinal.

Tinggal di antara pengapnya kota, bersempit-sempit di tempat yang sudah tidak ada lagi lahan, ikut merusak tatanan sosial.

Dari hari ke hari, bulan ke bulan, terus seperti itu hingga dari tahun ke tahun. Lonjakan penduduk akibat urbanisasi ini tidak terkendalikan. Jakarta adalah contoh kongkrit ledakan penduduk yang kian tidak bisa diatasi, dengan berbagai dampak sosial yang nyaris tidak dapat dihindari.

Tidak ada yang bisa menghalangi perpindahan tersebut, sekalipun kota sebagai tempat para pendatang sudah membentengi dengan sebuah aturan kependudukan.

Desakan akan terus datang, selama desa kian tidak menjanjikan bagi kehidupan. Di Desa tidak ada lagi lapangan pekerjaan, tanah tak lagi subur, akses jalan semakin terpuruk, anak-anak terpaksa berhenti bersekolah, kesehatan tidak terjamin.

Faktor penarik terjadinya urbanisasi di antaranya kehidupan kota yang lebih modern. Kelengkapan sarana dan prasarana kota yang lebih lengkap. Keterbukaan lapangan pekerjaan di kota. Pendidikan sekolah dan perguruan tinggi lebih baik dan berkualitas.

Urbanisasi adalah masalah yang cukup serius bagi kita semua persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota akan menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan.

Jumlah peningkatan penduduk kota yang signifikan tanpa didukung dan diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan, fasilitas umum, aparat penegak hukum, perumahan, penyediaan pangan dan lain sebagainya tentu adalah suatu masalah yang harus segera dicarikan jalan keluarnya.

Pemberdayaan Masyarakat Perdesaan

Desa atau udik menurut definisi universal adalah sebuah aglomerasi permukiman di area perdesaan (rural). Ia adalah bagian penting dari sebuah negara di Indonesia  Karena desa adalah sumber kehidupan, tempat kita menumpukan harapan terhadap pangan, siklus alam dan lainnya.

Jika ini tidak terjaga dan orang desa tetap saja berlomba-lomba pada kehidupan fatamorgana di kehidupan kota yang terlihat menjanjikan, bisa dibayangkan bagaimana ketimpangan yang akan terjadi di negeri ini.

Lantas cukupkah  hanya membalikan telapak tangan untuk mengubah mimpi dan harapan masyarakat yang berlomba-lomba berangkat ke kota? Tentu saja desa yang selama ini seperti dianaktirikan harus menjadi perhatian serius pemerintah.

Sehingga masyarakat tidak menjadikan kota sebagai sumber kehidupan baru laksana fatamorgana.

Di desalah tempat bercocok tanam, berkebun atau berladang, memanfaatkan sumber daya alam,  tanah dan air yang masih membentang luas dan bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya.

Merekalah yang bisa menjaga hutan agar ketersediaan air tetap terjaga. Dengan berbagai tata dan cara kearifan lokal di dalamnya.

Namun pertanyaannya, apakah semua pembenahan ini akan selesai dalam  sekejap mata, ketika selama ini desa sudah merasa dianaktirikan. Pembangunan tidak merata, kota menjadi anak yang diistimewakan dengan kalimat kamuflase demi perwajahan dan persolekan di mata pengunjung.

Seperti bayi yang baru lahir, kita harus berhadapan kembali untuk menata peradaban desa. Melihat kembali persoalan kemiskinan desa yang nyaris sudah berurat dan berakar.

Pembangunan yang selama ini tidak mendukung bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kondisi jalan, banyak desa yang tidak bisa mengakses jalan sehingga hasil pertanian mereka tidak bisa dikembangkan, baik dijual ke luar desa atau pun dikelola menjadi produksi yang lebih menjanjikan.

Para perempuan di desa menjadi tidak kreatif karena di desa selama ini tidak mendapatkan ketrampilan, bahkan minim pengetahuan untuk memajukan pertumbuhan ekonomi keluarga. Sebuah persoalan yang cukup kompleks.

10 Tahun Keberadaan PNPM Mandiri Perdesaan

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan adalah sebuah cikal bakal dari Inpres Desa Tertinggal. Program ini dulu cukup populer di masa Soeharto.

Di tahun 1998 program tersebut berganti dengan PPK (Program Pengembangan Kecamatan). PPK merupakan salah satu mekanisme program pemberdayaan masyarakat yang digunakan PNPM Mandiri dalam upaya mempercepat penanggulangan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja di wilayah perdesaan. PNPM Mandiri Perdesaan mengadopsi sepenuhnya mekanisme dan prosedur Program Pengembangan Kecamatan (PPK).

PNPM Mandiri sendiri dikukuhkan secara resmi Presiden RI pada 30 April 2007 di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Program pemberdayaan masyarakat ini dapat dikatakan sebagai program pemberdayaan masyarakat terbesar di Tanah Air. Dalam pelaksanaannya, program ini memusatkan kegiatan bagi masyarakat Indonesia paling miskin di wilayah perdesaan.

Sekarang kita melihat pembangunan jalan rabat beton di sebagian besar desa. Jembatan penyeberangan antar desa, pembuatan rakit penyeberangan yang bisa diakses roda empat agar biaya jual hasil pertanian tidak termakan biaya bongkar muat. Bangunan sekolah, poliklinik desa, dermaga dan lainnya.

Tidak hanya itu, program PNPM juga memberikan keberpihakan kepada kaum perempuan, yakni dengan dibuka program SPP (Simpan Pinjam Perempuan) yang dikelola kelompok perempuan untuk berdikari dan bisa menambah pendapatan rumah tangga.

Program lainnya yang dulu cukup popular adalah Ruang Belajar Masyarakat (RBM) bahkan di program RBM ini ada kelompok-kelompok kerja yang sudah terbentuk untuk meningkatkan SDM masyarakat perdesaan, di antaranya Pokja Media.

Ada hal yang menarik dari program ini, yakni pemberdayaan. Program ini mengikuti alur yang melibatkan masyarakat tanpa diskriminasi, semua memiliki kedudukan yang sejajar.

Membuka ruang bagi warga desa untuk memberikan pendapatnya. Semua diputuskan berdasarkan skala prioritas.

Dan semuanya dilakukan dengan transparan, papan informasi adalah salah satu kewajiban bagi pengelola program PNPM Mandiri perdesaan untuk selalu diaktifkan.

Pengawasan

Dalam pelaksanaan program, bukan tidak mungkin ada cela untuk melakukan ketidakadilan. Demikian juga di PNPM Mandiri Perdesaan. Untuk meminimalisir ini semua, ada  pengawasan yang dilakukan secara berjenjang melalui monitoring keberlangsungan program.

Membuat kontak pengaduan dan lainnya. Akan tetapi monitoring saja tidak cukup untuk menjangkau semua desa yang ada di Riau. Pelibatan masyarakat terdekat adalah hal yang paling diperlukan. Termasuk lembaga swadaya masyarakat, juga media massa yang memiliki fungsi sebagai sosial pemantauan.

Program pemberdayaan masyarakat sebagai solusi mengatasi masalah urbanisasi di negara ini adalah hal paling tepat dilakukan dan berkesinambungan.

Sudah saatnya kita bangga membangun desa. Karena desa adalah sumber kehidupan, tempat anak cucu kita hidup dengan sejahterah.

Dan tak ada lagi mimpi tinggal di kota besar, bila hanya untuk menghantarkan hidup menjadi manusia yang marjinal. Sebab kitalah yang harus membesarkan desa kita. Karena di situ mimpi kita akan terwujut. Ayo, bangga membangun desa. (*)

Spesialis Informasi, Edukasi dan Komunikasi PNPM Mandiri Perdesaan Riau

Sumber : http://www.metrosiantar.com/

Pertanianku — Beragam jenis makanan sehat banyak menjadi asupan pada saat seseor [...]

Pertanianku — Menghilangkan bekas getah pisang pada baju cukup sulit dilakukan. [...]

Pertanianku — Jeruk memiliki keunikan rasa manis dan asam yang membuatnya terasa [...]

Pertanianku — Bawang merah dan cabai merupakan dua jenis tanaman yang bernilai e [...]

Pertanianku — Ayam arab adalah ayam jenis petelur unggul yang banyak diidolakan [...]

Pertanianku — Tanaman bunga kerap dijadikan tanaman penghias pekarangan rumah. N [...]

Pertanianku — Trik menyimpan buah pisang bisa diterapkan agar buah ini bisa disi [...]

Pertanianku — Buah plum digemari karena dipercaya bisa membantu menurunkan berat [...]

Pertanianku — Biasanya, konsumen menyukai membeli buah yang belum terlalu matang [...]

Pertanianku — Penyakit tular tanah terdiri atas berbagai jenis jamur, bakteri, n [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10001 milliseconds