Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
Pemerintah Sakiti Hati Petani Dengan Impor 600 Ribu Ton Gula | binaswadaya.org      

Pemerintah Sakiti Hati Petani Dengan Impor 600 Ribu Ton Gula

Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) tantang Kementerian Perdagangan mengenai angka yang pasti dari kebutuhan gula mentah, bahan baku industri makanan minuman (mamin). APTRI juga mendesak agar ada pengakuan bahwa kebutuhan dan serapan industri mamin hanya 1,8 juta ton per tahun.

“Belum ada teriakan (industri mamin) kekurangan bahan baku. Tetapi pemerintah tetap berencana impor (600 ribu ton untuk triwulan I 2015), Sejak era Gita Wiryawan (mantan menteri perdagangan), keluar realisasi impor. Era M. Lutfi (mantan menteri perdagangan) keluar lagi (izin impor) dan sampai sekarang,” ujar ketua umum APTRI Soemitro Samadikoen usai bertemu Sekjen Kemendag, di Jakarta, Selasa (16/12/2014).

Soemitro menyatakan, saat ini ada lima pabrik gula yang sudah tutup. Penutupan pabrik terus bertambah kalau realisasi impor terjadi. APTRI mengaku bahwa sudah ada pengecekan di lapangan mengenai berapa kebutuhan industri mamin terhadap bahan baku gula.

“Kebutuhan industri mamin sampai 2,8 juta ton per tahun, tidak terbukti. Itu ‘hantu’ statement (pernyataan, red). Gula rafinasi beredar di pasar konsumsi. Ini bukti yang mudah, bahwa serapan (industri mamin) tidak sampai 2,8 juta ton,” tegasnya.

Pernyataan yang diibaratkan dengan ‘hantu’ juga semakin tidak jelas juntrungannya. Karena Pemerintah sudah berencana impor 600 ribu ton di tengah kondisi yang sangat tidak menguntungkan bagi petani. Kalau pemerintah konsisten dan berpihak pada petani, sebaiknya mengakui bahwa kebutuhan hanya 1,8 juta ton untuk industri mamin.

“Tetapi kalau memang kurang, impor lagi. Koreksi dengan data yang benar,” pintanya.

Kesalahan pemerintah, dalam hal ini Kemendag tidak mau mencabut Peraturan Menteri (Permen) mengenai pemasaran gula rafinasi. Permen tersebut jelas memperbolehkan peran distributor untuk peredaran gula rafinasi. Praktinya semua distributor sedari awal merembeskan gula tersebut ke pasar konsumsi.

“Permen tersebut harus dicabut, (petani) bisa langsung jual ke pabrik. Itu selamat bagi kami,” ungkapnya.

Gula yang tidak terserap pasar bukan milik pedagang, melainkan petani. Jumlah gula tersebut mencapai sekitar 400 ribu ton, dan statusnya ‘milik petani’. APTRI merasa perlu ada koreksi dari pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang keliru. Gula tersebut milik petani, dan belum ada yang akan membelinnya. Karena kalau ternyata pembelian berjalan, ada resiko gagal penyerapan pasar.

6 November 2014 yang lalu, APTRI mengaku sempat bertemu dengan Mendag Rahmat Gobel. Lalu pertemuan berlanjut dengan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman. Kedua menteri sepakat untuk beli gula dengan Harga Pokok Pembelian (HPP) yakni Rp8.500.

“Tetapi tidak ada (realisasinya). Kami butuh, mau telpon, sms, tapi tidak dijawab. Di tengah kekecewaan,ada pernyataan mau impor 600 ribu ton. Mau jadi apa gula kami yang tidak laku, tetapi mau impor juga,” tuturnya.

Selama ini ada 62 pabrik pengolahan, dimana 52 di antaranya milik BUMN dan 10 dikelola swasta. Kalau impor terealisasi, gula petani akan semakin tidak jelas nasibnya. Karyawan yang bekerja di sektor perkebunan tebu rakyat mencapai ratusan ribu. Sementara PT PN (Perkebunan Nusantara) X (sepuluh) saja sudah mempekerjakan 25 ribu karyawan.

“Kita belum impor saja, gula kita (petani) tidak laku,” ungkap Soemitro.

APTRI juga mengaku sudah bertemu dengan Sekjen Kemendag Gunaryo. Pada pertemuan tersebut, ada lima solusi ke depan untuk peningkatan kesejahteraan petani tebu. Salah satu dari lima solusi tersebut, yakni penetapan HPP dengan tegas. Impor juga harus ditunda sebelum masalah dengan petani selesai. Sementara kondisi kesejahteraan petani semakin terhimpit dengan inflasi.

Menurut Soemitro, harga kebutuhan terus meroket. Sebaliknya, gula petani mengalami deflasi. Tahun 2013, harga gula turun. Lelang tertinggi Rp10 ribu, tapi harga turun. Tahun 2014, kondisinya semakin terpuruk. HPP sempat dinaikkan menjadi Rp8.500, menjadi yang terendah pada pelelangan gula.

“Kalaupun (harga terendah pada lelang) dilepas, itu karena terpaksa. Bahkan ada yang buka harga Rp7.455, tertinggi Rp8.600, rendemen tetap tapi harga merosot,” pungkasnya.

http://harianterbit.com/read/2014/12/17/14081/21/21/Pemerintah-Sakiti-Hati-Petani-Dengan-Impor-600-Ribu-Ton-Gula

Pertanianku — Beragam jenis makanan sehat banyak menjadi asupan pada saat seseor [...]

Pertanianku — Menghilangkan bekas getah pisang pada baju cukup sulit dilakukan. [...]

Pertanianku — Jeruk memiliki keunikan rasa manis dan asam yang membuatnya terasa [...]

Pertanianku — Bawang merah dan cabai merupakan dua jenis tanaman yang bernilai e [...]

Pertanianku — Ayam arab adalah ayam jenis petelur unggul yang banyak diidolakan [...]

Pertanianku — Tanaman bunga kerap dijadikan tanaman penghias pekarangan rumah. N [...]

Pertanianku — Trik menyimpan buah pisang bisa diterapkan agar buah ini bisa disi [...]

Pertanianku — Buah plum digemari karena dipercaya bisa membantu menurunkan berat [...]

Pertanianku — Biasanya, konsumen menyukai membeli buah yang belum terlalu matang [...]

Pertanianku — Penyakit tular tanah terdiri atas berbagai jenis jamur, bakteri, n [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10001 milliseconds