Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
Paulus Wirutomo: Perlu Belajar Revolusi Mental dari Korea | binaswadaya.org      

Paulus Wirutomo: Perlu Belajar Revolusi Mental dari Korea

Bina Swadaya

Perubahan menuju Indonesia yang lebih baik tidak hanya dilakukan dengan pembangunan fisik dan ekonomi. Perubahan tersebut juga harus tercermin dalam pembangunan sosial dan budayanya. Hal ini disampaikan oleh Sosiolog Paulus Wirutomo dalam WOW Talk di studio Marketeers Radio di masa Pemilu Presiden yang lalu.

Indonesia saat ini, menurut Paulus, memiliki pertumbuhan ekonomi yang terbilang lumayan. Namun, bila dilihat dari kehidupan sosial dan budaya, masyarakat Indonesia tampak gelisah dan bahkan marah. Dengan demikian, ada sesuatu selain ekonomi yang saat ini menjadi masalah di Indonesia.

“Jokowi saat itu pernah menulis tentang Revolusi Mental di Kompas dan mengatakan adanya semacam keadaan bertolak belakang dengan ekonomi. Itulah sebabnya, kita sebagai Bangsa, jangan lagi berputar-putar tanpa arah. Sebab itu, kata “revolusi” itu cukup bagus,” kata Paulus.

Sementara itu, kata “Mental” mengacu pada sifat, sikap, maupun cara berperilaku masyarakat Indonesia. Melihat fenomena sosial saat ini, Paulus mengatakan sistem nilai masyarakat Indonesia sedang dalam keadaan kacau balau. Dari situasi kacau balau tersebut, Indonesia diharapkan mampu bangkit menjadi negara besar dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Revolusi Mental, bagi Paulus, menjadi konsep dan langkah yang tepat.

Paulus mencontohkan Korea Selatan. Dulu, masyarakat Korea Selatan dipandang sebelah mata sebagai bangsa yang tertinggal. Namun, perubahan terjadi di Negeri Gingseng tersebut secara revolusioner. Orang Korea saat ini boleh dibilang mampu mengalahkan orang Jepang dalam hal budaya dan kreativitas. Hal ini dikarenakan adanya gerakan untuk mengimplementasikan sistem nilai yang kuat di sana.

Uniknya, sambung Paulus, perubahan di Korea tidak menggantungkan pada perubahan perilaku masyarakat, tetapi pemerintah sepenuhnya hadir untuk mendukung gerakan perubahan tersebut. “Korea Selatan mampu bangkit karena secara kontinu mengedukasi semua lapisan dengan nilai kemandirian,” kata Paulus.

Dengan semangat kemandirian, orang Korea tidak silau dengan gemerlap mobil-mobil asal Jepang. Mereka berpikir dan berupaya untuk membuat mobil-mobilnya sendiri. “Kita perlu belajar seperti orang Korea. Kita juga perlu membuat pengertian yang gampang dipahami. Intinya, kalau kita mau melakukan Revolusi Mental, marilah kita melakukan perubahan yang cepat dengan mengembangkan sistem nilai,” kata Paulus.

Selain itu, agar mudah ditangkap, Paulus mengusulkan nilai-nilai yang akan diperjuangkan tersebut jangan terlalu banyak. Paulus mengingatkan agar Indonesia tidak mengulangi kesalahan lagi seperti di era Soeharto. Di era Soeharto, dikenal dengan penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dengan puluhan nilai dan berjalan secara tidak efektif.

“Kalau Korea memiliki tiga nilai utama, Indonesia mungkin akan menentukan lima atau enam nilai saja. Tentu, dipilih nilai-nilai yang strategis untuk perubahan tersebut,” kata Paulus.

Paulus menambahkan, Revolusi Mental yang akan berlangsung bukan seperti penataran P4 tersebut. Revolusi Mental ini nantinya akan menjadi gerakan bersama. Akan ada kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sipil. Termasuk juga, kalangan media, LSM, seniman, swasta, dan sebagainya.

“Semua bergerak bersama dengan nilai-nilai yang sama. Misalnya, nilai kemandirian. Kemandirian ini nantinya tidak diproyekkan atau dipelajari di bangku sekolah. Tetapi, dibutuhkan kolaborasi untuk mewujudkan kemandirian secara konkret,” kata Paulus.

Dalam perjalanan waktu, Paulus Wirutomo bersama tim Kelompok Kerja terus menggodog konsep Revolusi Mental tersebut. Sampai akhirnya ditemukan enam nilai strategis yang layak menjadi perhatian utama dari Revolusi Mental tersebut, antara lain trustworthiness, citizenship, independency, creativity, mutual respect, dan collaboration.

http://marketeers.com/article/paulus-wirutomo-perlu-belajar-revolusi-mental-dari-korea.html

Pertanianku — Hidroponik menjadi solusi pertanian di perkotaan atau sering diseb [...]

Pertanianku — Salah satu faktor kesukesan dalam beternak ayam ialah pemilihan DO [...]

Pertanianku — Saat ini, lahan pertanian semakin sempit karena banyaknya pendiria [...]

Pertanianku — Olahan daun pepaya terkenal memiliki cita rasa pahit yang kurang d [...]

Pertanianku — Mengupas, mengiris, dan mencuci cabai dalam jumlah banyak bisa mem [...]

Pertanianku — Pengawetan cabai bisa dilakukan agar cabai bisa awet dan tahan lam [...]

Pertanianku — Tanaman hias biasa digunakan untuk mempercantik halaman rumah. Ben [...]

Pertanianku — Pupuk organik yang diolah secara modern diyakini dapat kembali mer [...]

Pertanianku — Kementerian Pertanian (Kementan) mensosialisasikan aplikasi Sistem [...]

Pertanianku — Selain produk pertanian, ekspor sektor peternakan juga menjadi kom [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10001 milliseconds