Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
Nuraeni dan Leliyanto Mengubah Sampah Jadi Rupiah | binaswadaya.org      

Nuraeni dan Leliyanto Mengubah Sampah Jadi Rupiah

Dipanggul di punggung, botol plastik seberat 2,5 kilogram dalam kantong hitam itu lebih besar ketimbang tubuh kurus Atikah (60). Namun, hal itu tak mengurangi kecepatan langkahnya. Dia tak sabar mengubah sampah menjadi rupiah lagi.

”Ini mau ditabung di bank sampah,” kata warga Linggawastu, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, itu.

Sekitar 10 menit kemudian, setelah melintasi labirin gang Linggawastu, Atikah tiba di bank sampah yang dituju. Letaknya di beranda rumah milik Leliyanto (54) dan Nuraeni (45), suami-istri warga Linggawastu.

Tiasa keneh? (Masih bisa?)” tanya Atikah.

Tiasa. Sok langsung ditimbang we (Bisa, Langsung ditimbang saja),” jawab Nuraeni.

Senyum lantas tersungging di bibir Atikah setelah mengetahui hasil timbangannya. Jarum timbangan kecil menunjukkan angka 2,5 kg. Berdasarkan harga jual botol plastik yang ditetapkan pengepul, Atikah berhak mendapat Rp 6.000.

Nambah deui tah tabungan na. Teu kedah nambut ka rentenir deui nya. (Tambah lagi tabungannya. Tidak perlu pinjam ke rentenir lagi, ya),” kata Nuraeni.

Muhun (Iya). Sekalian, ini simpan lagi uang Rp 5.000 agar tabungan saya jadi tambah banyak,” kata Atikah, yang mengaku tak punya tabungan di bank konvensional.

Hasil manis

Berada di antara labirin sempit, Nuraeni mengatakan, bank sampah yang diberi nama Sabilulungan itu hadir sejak Januari 2011. Dalam bahasa Indonesia, sabilulungan artinya ’bersama-sama’. Bermula dari hanya lima orang, kini bank sampah menjadi tumpuan bagi 100 warga Linggawastu. Apabila modal awalnya hanya Rp 400.000, kini omzetnya berlipat ganda. Tahun lalu, omzet bank sampah mencapai Rp 28 juta.

”Ide awal dari suami saya ketika menjabat ketua RT. Banyak warga kerap kesulitan modal lantas terjerat utang besar kepada rentenir. Saat bersamaan, di sini sampah menjadi masalah yang sulit dipecahkan,” katanya.

Strategi mewujudkannya pun lantas dimulai. Nuraeni dan Leliyanto bergerilya. Keduanya dibantu Nuraida dan Dedeh Setiawati, kerabat dan tetangganya.

Mereka mulai bergerak dari mencari pengepul sampah hingga mengabarkan kepada warga. Ada yang menyambut baik, tetapi tak sedikit yang mencibirnya. Pekerjaan mengumpulkan sampah dianggap menjijikkan dan sulit mendapatkan uang besar seketika.

Mendapat cemoohan, Nuraeni dan Leliyanto tak menyerah. Mereka ngotot bank sampah mampu menjadi solusi. Memulai dengan menjual sampah plastik yang telah dipilah sendiri, beberapa warga cepat mengikuti jejak mereka tak lama kemudian.

Seperti bank sampah lainnya, uang hasil penjualan tidak bisa langsung dicairkan nasabah. Semuanya dicatat dalam buku keuangan. Uang baru dicairkan saat menjelang Lebaran. Semuanya dilakukan agar efeknya bisa dirasakan warga dalam satu kesempatan besar.

”Kalau langsung diberikan, kami khawatir uangnya akan lekas habis sehingga manfaat bank sampah tak terasa,” ujar Leliyanto.

Akan tetapi, bank sampah ini juga fleksibel memberikan keringanan kepada nasabah. Setiap nasabah juga bisa meminjam uang antara Rp 2 juta dan Rp 2,5 juta. Cara membayarnya bisa mencicil melalui sampah yang disetorkan.

Tidak ada bunga dan batas pengembalian. Namun, Nuraeni mengingatkan uang pinjaman itu juga milik nasabah lain. Semuanya harus dipertanggungjawabkan dengan cara mencicilnya lewat uang hasil penyetoran sampah.

Nuraeni

Lahir:

Ciamis, 5 Agustus 1971

Pendidikan:

  1. SD Banjarsari (lulus 1984)
  2. SMP Muhammadiyah Banjar (lulus 1987)
  3. SMK Pasundan Banjar (lulus (1990)

 

Leliyanto

Lahir:

Indramayu, 15 Juli 1962

Pendidikan:

  1. SD Kertasmaya (lulus 1975)
  2. SMP Jatibarang (lulus 1978)
  3. SMA 2 Cirebon (lulus 1981)
  4. Teknik Pertambangan Universitas Islam Bandung (lulus 1990)

 

”Warga lekas paham. Hingga kini tidak ada yang menunggak,” katanya.

Usahanya berbuah manis. Uang hasil setoran sampah dinikmati warga, mulai dari tambahan modal usaha, ongkos mudik Lebaran, hingga biaya pemasangan air bersih. Jika sebelumnya warga mengandalkan biaya itu semua melalui rentenir dengan bunga berlipat ganda, sampah menyelamatkan mereka.

Bonus lingkungan yang bersih juga muncul di Linggawastu. Gang padat penduduk yang semula kumuh juga kini jauh lebih bersih.

Nuraeni mengatakan, kebiasaan warga membuang sampah ke Sungai Cikapundung juga jauh berkurang.

Kiprah Nuraeni dan rekan-rekannya ini kemudian tercium banyak pihak. Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Jawa Barat serta Dinas Tata Ruang dan Permukiman Jabar mengundang mereka membagi pengalaman dalam program menjaga sungai, Citarum Bersih Sehat Indah Lestari (Citarum Bestari).

Organisasi yang bergerak dalam kegiatan kreatif Kota Bandung, Bandung Creative City Forum (BCCF), juga tertarik membesarkan Bank Sampah Sabilulungan. BCCF membidik kreativitas pengelolaan sampah kertas yang dinamakan seni pilin. Warga mendapat pelatihan lanjutan, akses pasar baru, dan potensi permodalan guna mengembangkan kerajinan yang telah mereka lakukan sejak 2011 itu.

Lebih rajin

Sekitar pukul 12.00, perlahan aktivitas bank sampah yang ramai sedari pagi berangsur sepi.

Merasa tak ada lagi warga yang hendak menyetorkan sampah, Nuraeni lantas menutup buku kas keuangan. Jumlah sampah dan uang milik warga sudah ia catat rapi. Dia lantas memanggil Ny Ade, salah seorang nasabah, sembari mengambil uang dari dompet kas bank sampah.

Sok Bu, kadieu. Artosna bade dicairkeun (Sini Bu. Uangnya mau dicairkan),” kata Nuraeni.

Ny Ade mendekat dengan muka semringah. Wajahnya semakin cerah saat Nuraeni memberikan uang Rp 2 juta dalam pecahan Rp 50.000 dan Rp 100.000.

Ny Ade mengatakan bukan sekali ini saja mendapat pinjaman. Setahun lalu, dia sudah mendapat modal pinjaman Rp 1 juta untuk membiayai suaminya berjualan cilok. Utang itu sudah ia bayar lunas menggunakan sampah.

”Kalau dulu saya mengandalkan pinjaman dari rentenir. Bunga berlipat ganda. Pinjam ke bank sampah mah tidak pakai bunga,” katanya.

Nuraeni mengatakan tidak segan meminjamkan uang sebesar itu kepada Ade ataupun nasabah lainnya. Mereka selalu bertanggung jawab mencicilnya lewat sampah yang disetorkan setiap minggu.

Tanggung jawab Ny Ade jadi contoh. Ikut menjadi nasabah sejak tiga tahun lalu, Ny Ade berhasil menjadi nasabah dengan simpanan tertinggi, mencapai Rp 2,3 juta dalam setahun.

Atas prestasinya, Ny Ade berhak mendapat 1 unit dispenser, 2 dus mi instan, 5 liter minyak goreng, dan beberapa lusin piring. Semuanya dibeli lewat iuran wajib Rp 3.000 yang dibayarkan warga dengan sampah setiap bulan.

”Sampai sekarang saya tidak menyangka sampah ternyata bisa jadi uang. Sekarang tinggal lebih rajin cari sampah supaya utang lekas lunas,” kata Ny Ade sembari mengibaskan lembaran uang itu dengan bangga.

Sumber: http://print.kompas.com

Pertanianku — Cara memberantas rumput liar sebenarnya mudah. Tetapi, jenis gulma [...]

Pertanianku — Apakah Anda salah satu pencinta tanaman kaktus hias? Tanaman yang [...]

Pertanianku — Tanaman hias tak hanya diletakkan di taman ataupun sudut ruang tam [...]

Pertanianku — Bisnis peternakan ayam selalu menjadi incaran peternak pemula. Kin [...]

Pertanianku — Berkebun merupakan kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat untuk [...]

Pertanianku — Hortikultura diartikan sebagai tanaman kebun. Biasanya, tanaman ya [...]

Pertanianku — Ada berbagai cara mengupas kiwi yang bisa Anda lakukan sebelun men [...]

Pertanianku — Proses pematangan mangga seringkali belum sempurna ketika buah ini [...]

Pertanianku — Kolam ikan akan lebih hidup jika ditambahkan dengan tanaman hias a [...]

Pertanianku — Fenomena harga cabai yang melambung tinggi terjadi lagi. Ikatan Pe [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10001 milliseconds