Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
NPK Bersubsidi Langka, Nonsubsidi Harga Naik | binaswadaya.org      

NPK Bersubsidi Langka, Nonsubsidi Harga Naik

Petani di beberapa desa di Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon mengeluhkan sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi, terutama jenis NPK. Akibatnya, petani terpaksa berjudi dengan menggunakan pupuk non subsidi meskipun harganya melambung tinggi.

Salah seorang petani Desa Girinata, Narita (60) mengatakan, saat ini ia terpaksa membeli pupuk NPK non subsidi dari salah satu agen terdekat.

Dengan kelonggaran tempo pembayaran yang ditangguhkan sampai waktu panen, Narita rela berutang sampai Rp 11.000 per kilogram pupuk NPK yang ia dapatkan.

“Kalau bayar di muka sih harganya bisa sampai Rp 9.000 per kilogram. Namun saya tak punya uang saat ini, jadi ngutang dulu. Bayarnya nanti setelah panen dengan kelebihan Rp 2.000 per kilogram,” ujarnya.

Narita mengatakan, untuk satu hektar lahan yang digarap saat ini, dirinya membutuhkan pupuk NPK sekitar 300 kilogram. Artinya ia harus berutang sekitar Rp 3,3 juta pada musim tanam kali ini.

Padahal biasanya ia hanya membutuhkan Rp sekitar 690.000, karena NPK bersubsidi bisa diperoleh dengan harga Rp 2.300 per kilogram.

Hal serupa dirasakan oleh petani Desa Cipanas, Solikun (45). Ia mengaku sudah berkeliling mencari pupuk NPK bersubsidi, namun hasilnya nihil. “Yang bisa saya temui hanya NPK non subsidi yang harganya naik dari Rp 7.500 menjadi Rp 9.000 per kilogram,” ujarnya.

Solikun mengaku tak punya pilihan lain dan terpaksa membeli pupuk non subsidi demi mengejar tutup tanam secepat mungkin. Jika ditunda-tunda, ia khawatir tanaman padinya bisa mengalami kekeringan saat panen yang diperkirakan jatuh pada musim kemarau.

 

Solikun hanya berharap pada saat panen nanti, harga jual gabah di tingkat petani tidak anjlok seperti panen sebelumnya. “Kemarin saat panen, saya hanya bisa menjual gabah seharga Rp 3.800 per kilogram, padahal sebelumnya bisa mencapai Rp 5.000 per kilogram. Turunya sangat drastis, padahal harga pembelian pemerintah masih Rp 4.000,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kelangkaan pupuk NPK bersubsidi di Kabupaten Cirebon memang diperkirakan bakal terjadi. Soalnya, kuota yang diberikan pemerintah pusat sangat jauh dari kebutuhan petani tahun ini.

Kepala Bidang Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon Wasman mengatakan, kuota NPK bersubsidi untuk Kabupaten Cirebon 2014 hanya mencapai 18.384 ton. Padahal kebutuhan petani mencapai 47.000 ton. Artinya masih ada kekurangan sekitar 28.616 ton atau sekitar 61 persen dari kebutuhan.

Selain NPK, kuota minim juga terjadi pada pupuk SP36 yang hanya mencapai 4.613 ton dari kebutuhan 13.000 ton. Begitu pula dengan pupuk ZA dengan kuota 8.880 ton dari kebutuhan 18.000 ton serta pupuk organik 3.699 tondari kebutuhan 58.000 ton. (A-178/A-89)***

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/node/277991

Pertanianku — Lahan sempit bukan penghalang bagi Anda yang ingin memulai bertana [...]

Pertanianku — Bertanam sayuran dalam pot banyak dilakukan oleh rumah tangga, ter [...]

Pertanianku — Pupuk bokashi berasal dari Jepang. Arti nama ‘bokashi’ dalam bahas [...]

Pertanianku — Usaha ternak kelinci dapat dilakukan dalam kandang kelinci sistem [...]

Pertanianku — Siapa sangka, manfaat kulit buah naga merah manjur menanggulangi s [...]

Pertanianku — Kaktus merupakan salah satu tanaman hias yang cukup populer. Ini k [...]

Pertanianku — Populasi sapi perah yang ada di Indonesia saat ini kebanyakan dida [...]

Pertanianku — Stres dan depresi dapat menekan kesehatan mental seseorang hingga [...]

Pertanianku — Budidaya kelinci banyak dilakukan untuk kebutuhan peliharaan dan k [...]

Pertanianku — Budidaya melon patut dicoba karena berbagai keuntungan yang bisa A [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10001 milliseconds