Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
Menjaring ikan kering di Pantai Bengkulu | binaswadaya.org      

Menjaring ikan kering di Pantai Bengkulu

Jika Anda tengah singgah ke Kota Bengkulu, jangan  lupa mengunjungi objek-objek wisata pantai yang ada di salah satu provinsi di bagian selatan Pulau Sumatra ini. Ada banyak objek wisata pantai di kota ini, seperti Pantai Panjang, Pantai Zakat, dan Pantai Kualo.

Jika berkunjung ke sini, Anda tidak hanya disuguhi pemandangan pantai yang indah. Sepanjang perjalanan, tepatnya di antara Pantai Zakat dan Pantai Panjang, Anda akan menemukan sentra produksi dan penjualan ikan asin.

Tentu saja, ikan asin hasil tangkapan nelayan ini bisa dijadikan oleh-oleh untuk dibawa pulang. Sentra produksi ikan asin ini terletak di Jalan Pariwisata Kelurahan Malabro Kecamatan Teluk Segara.

Awalnya, lokasi ini dinamakan Jalan Pelabuhan Lama. Lalu namanya diganti sejak Pemerintah Kota Bengkulu ingin mengembangan objek wisata pantai yang berada di sepanjang jalan menuju sentra ini.

Sentra ikan asin ini sendiri sudah ada sejak tahun 80-an. Ada belasan kios ikan asin berjejer rapi di sepanjang jalan. Awalnya, tempat ini hanya memproduksi ikan asin dan dijual ke pasar atau pedagang pengumpul (pengepul).

Namun sejak  lima tahun belakangan, sebagian produsen memilih membuka kios. “Kami berjualan setelah Jalan Pariwisata ramai dilalui orang,” kata Yusnaedi (62), produsen ikan asin di sentra ini. Ia mengaku, telah menekuni usaha ini sejak usianya masih 20 tahunan.

Awalnya ikan asin yang ia produksi dijual ke Pasar Minggu, salah satu pasar terbesar di Kota Bengkulu. Namun, sejak Pemerintah Bengkulu gencar mempromosikan objek wisata di daerah ini, ia tidak lagi berjualan di pasar.

Ia pun menjual langsung ke konsumen dengan membuka kios. “Saya sudah lima tahun jualan disini. Awalnya hanya pakai meja tapi sejak setahun terakhir sudah bangun kios sendiri,” ujar Yusnaedi.

Di kiosnya berukuran 3 meter (m) x 3 m, Yusnaedi menjual aneka ikan kering, baik ikan asin maupun ikan tawar, seperti baledang, layur, kakap, dan lain-lain. Ikan tersebut didapatnya dari para nelayan lalu diolah dan  dikeringkan.

Dalam menekuni usaha ini, ia dibantu istri dan anaknya. Ikan asin itu dihargai mulai Rp 35.000–Rp 70.000 per kilogram (kg), tergantung dari jenis ikannya. Ia bilang, bisa meraup omzet rata-rata sebesar Rp 3 juta per bulan.

Namun, saat hari libur,  omzetnya bisa naik berkali–kali lipat. “Kalau Lebaran, penjualan sehari aja bisa mencapai Rp 1 juta,” katanya. Syarial (55), produsen lainnya, bilang, saat hari sepi, omzetnya berkisar antara Rp 400.000–Rp 500.000 per hari.

Namun, jika sedang ramai bisa meraup omzet hingga Rp 10 juta per hari. Sama halnya Yusnaedi, Syarial juga telah menggeluti usaha ini sejak muda. Awalnya, ia seorang nelayan dan kemudian beralih menjadi pengolah ikan asin.

Syarial menjual 10 macam jenis ikan kering, baik tawar maupun asin. Ikan-ikan itu disusun di atas meja dan sebagian ada yang telah dikemas dalam kemasan plastik lalu digantung di kios. Harga ikan di kios ini dibanderol Rp 35.000–Rp 50.000 per kg.

Olah ikan mengandalkan terik sinar mentari

ikan2

Sentra produksi ikan asin Jalan Pariwisata, Bengkulu, persis berbatasan dengan pantai. Rata-rata pekerjaan penduduk yang tinggal di sini berhubungan dengan laut: sebagai nelayan atau sebagai pengolah ikan asin.

Itu sebabnya, produsen ikan asin tak perlu pusing mencari bahan baku ikan yang akan diolah. Mereka tinggal membelinya dari para nelayan.
Proses pengolahan ikan asin dan ikan kering tawar lainnya dilakukan setiap hari.  Biasanya mereka akan berbelanja ikan pada pagi hari saat para nelayan  pulang dari laut. Sebelumnya, para nelayan telah memisahkan ikan berdasarkan jenisnya, sehingga pengolah ikan tidak perlu kewalahan untuk memilih ikan.

Ikan yang diolah masih berupa ikan segar. Biasanya para pengolah ikan segar ini membeli ikan yang masih ada di dalam  boks. Jika modal usaha banyak, mereka bisa membeli hingga dua atau tiga boks ikan dari nelayan untuk diolah menjadi ikan kering.

Yunaedi, salah satu produsen ikan asin, membawa pulang ikan dari nelayan ke rumah. Sebelum diolah menjadi ikan asin atau ikan kering tawar, semua ikan tersebut terlebih dahulu dicuci hingga bersih. Setelah itu, ikan dicampur dengan garam jika ingin mengolah ikan asin. Sedangkan untuk membuat ikan kering tawar, tak perlu diberi garam.

Lantas, ikan-ikan tersebut siap dijemur di bawah terik sinar matahari. Namun, untuk ikan yang berukuran besar, seperti ikan kakak, sebelum diberi garam harus dibelah dulu dan isi perutnya dikeluarkan agar ikan itu bisa betul-betul kering.

Yunaedi bilang, untuk mengolah ikan asin perlu dua hari dijemur di bawah sinar matahari. Namun, jika matahari tidak terlalu terik, proses pengeringannya bisa lebih lama lagi. Ikan tersebut biasanya dijemur di halaman rumah. Bila sudah kering, maka ikan siap dijual di kios yang ada di sentra ini.   “Sementara, yang tidak punya kios di sini ada yang menjualnya ke pasar,”  kata dia.

Selain mengolah sendiri ikan yang dijual, Yunaedi juga membeli ikan asin dari Pelabuhan Pulau Baai. Di sini adalah pusat produksi ikan asin di Kota Bengkulu. Dia perlu menambah jenis ikan yang dijual karena tidak semua jenis ikan bisa didapatkan dari nelayan.

Syarial, produsen dan sekaligus penjual ikan asin di sentra ini, mengatakan, pembeli yang datang biasanya masyarakat Bengkulu atau orang-orang pendatang yang sedang jalan-jalan ke wilayah pantai. “Pembeli akan ramai pada akhir pekan serta hari-hari libur seperti Lebaran,” kata Syarial.

Untuk menambah pasokan ikan kering ketika liburan, biasanya Syarial juga  membeli ikan kering dari Pelabuhan Pulau Baai. Saat Lebaran, misalnya, Syarial mengaku bisa meraih omzet Rp 10 juta per hari. Padahal di hari biasa omzet rata-rata Rp 500.000. Yunaedi pun bisa mendapatkan omzet berlipat. Bila rata-rata Rp 200.000 per hari, jelang Lebaran bisa meraih Rp 1 juta per hari.

Produsen ikan asin khawatir digusur

ikan3

Kendati lokasi sentra produksi ikan asin di Jalan Pariwisata Kota Bengkulu cukup strategis dan selalu ramai dikunjungi pembeli, bukan berarti tidak ada kendala yang dihadapi para produsen dan pedagang ikan asin di tempat ini.

Syarial (55), salah satu produsen sekaligus penjual ikan asin, mengaku, selalu khawatir pemerintah setempat melakukan penggusuran kios-kios pedagang.

Menurut Syarial, kekhawatiran itu muncul karena sempat ada isu bahwa pedagang ikan asin di Jalan Pariwisata bakal digusur. Alasannya, pemerintah ingin membersihkan wilayah pantai untuk kepentingan pariwisata.

Memang, kata Syarial, sejak beberapa tahun terakhir pemerintah setempat gencar mengembangkan daerah ini menjadi destinasi wisata di Kota Bengkulu.

Ia menyatakan setuju dengan program pemerintah itu. Namun, menurutnya, pedagang jangan dikorbankan, karena tidak mengganggu wilayah pantai. Apalagi, kios-kios penjaja ikan asin tertata rapi.

“Sekarang kios kami sudah semakin rapi, warnanya saja sengaja kami buat biru semua biar tidak mengurangi keindahan pantai,” tuturnya.

Menurut dia, keberadaan produsen sekaligus pedagang ikan asin di lokasi itu justru bisa menambah daya tarik wisatawan untuk berkunjung. Selain berwisata ke pantai, pengunjung juga bisa belanja oleh-oleh ikan asin.

Menurut Syahrial, pedagang bersedia bila pemerintah mengimbau mereka membangun kios lebih bagus lagi. Bahkan jika dikenakan pajak sekalipun, mereka tidak keberatan asalkan tidak melakukan penggusuran.

Selain khawatir penggusuran, kendala lain yang mereka hadapi adalah pengadaan bahan baku. Saat musim hujan dan badai, nelayan jarang pergi melaut. Akibatnya, produsen ikan asin kesulitan mendapatkan bahan baku ikan segar.

Yusnaedi (62), produsen sekaligus pedagang ikan asin, bilang, di Bengkulu sering terjadi badai sehingga nelayan takut pergi melaut. “Kalau badai, mana ada nelayan melaut,” katanya.

Jika pasokan ikan segar berkurang, tentu berpengaruh pada pendapatan mereka. Ia mengakui, saat itu harga ikan asin ikut melambung karena pasokan ikan segar sedikit. Tapi kondisi seperti itu tidak membuat pendapatan mereka naik. “Soalnya konsumen kami juga berkurang jika harganya  mahal,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Yusnaedi, proses pengeringan ikan juga terkendala saat musim hujan tiba. Ikan asin harus dijemur selama dua hari di tengah terik matahari. Jika tidak benar-benar panas, warnanya terlihat kurang bagus. “Warnanya agak hitam, terlihat tidak segar,” kata dia.

Ia malah berharap ada bantuan permodalan agar bisa mengembangkan usaha. Yang paling dibutuhkan adalah oven atau pemanas buat pengeringan ikan. Mereka juga butuh bantuan pengemasan agar tampilan produk lebih menarik.

Sumber :

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/menjaring-ikan-kering-di-pantai-bengkulu-1/2014/05/13

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/olah-ikan-mengandalkan-terik-sinar-mentari-2/2014/05/13

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/produsen-ikan-asin-khawatir-digusur-3

Pertanianku — Beragam jenis tanaman buah biasa dibudidayakan dengan berbagai car [...]

Pertanianku — Cara menyuburkan tanah bisa dilakukan dengan pemberian pupuk. Sela [...]

Pertanianku — Penggunaan bahan alami untuk menyuburkan tanah sudah digunakan sej [...]

Pertanianku — Bagaimana trik agar jagung manis berbuah lebat? Ya, siapa yang tid [...]

Pertanianku — Ada beberapa jenis anggur yang tersebar di seluruh dunia. Salah sa [...]

Pertanianku — Bisnis beternak ayam kampung sangat menjanjikan. Bagaimana tidak? [...]

Pertanianku — Sejak dulu, daun jambu biji dipercaya dapat mengatasi diare. Untuk [...]

Pertanianku — Apakah Anda ingin memelihara tanaman hias air? Ada banyak jenis ta [...]

Pertanianku — Jenis sapi perah alias sapi penghasil susu ada banyak jenisnya. Sa [...]

Pertanianku — Berbagai cara mengupas mangga bisa dipraktikkan untuk menikmati bu [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10001 milliseconds