Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
Meninggalkan Pekerjaan di Luar Negeri, Membangun Desa dengan Kopi | binaswadaya.org      

Meninggalkan Pekerjaan di Luar Negeri, Membangun Desa dengan Kopi

Alkisah, di sebuah negeri bernama Abyssinia (kini bernama Ethiopia), seorang pengembala bernama Kaldi heran melihat kambing-kambing gembalaannya bertingkah aneh usai menyantap buah yang baru pertamakali ia lihat. Kambing-kambing itu terlihat gembira. Kaldi lalu mencicip buah itu, seketika tubuhnya terasa segar usai mengonsumsi buah tersebut. Lantas ia lekas memberitahukan hal ini kepada penduduk desa tempat ia tingal. Tak butuh waktu lama, buah itu menjadi populer di desanya hingga menjalar ke desa-desa sekitar.

Selanjutnya, kopi menjadi semakin populer dalam waktu singkat. Lebih lagi usai Ethiopia menginvasi Yaman dan mulai menanam kopi di sana. Berkat andil pedagang-pedagang dari jazirah arab, penyebaran kopi semakin menjangkau banyak wilayah. Bangsa Arab juga yang menemukan cara baru mengonsumsi buah kopi, yaitu kopi diolah menjadi bahan minuman setelah sebelumnya buah kopi dikonsumsi dengan cara dimakan begitu saja. Kisah ini bisa ditemukan di Majalah National Geographic pada artikel berjudul Escape from Arabia.

Setelah Agama Islam berkembang pesat di Jazirah Arab dengan kekhalifahan dilanjut dengan kesultanannya, kopi menjadi minuman penjaga stamina utama setelah khamr (minuman beralkohol) diharamkan. Selama berabad-abad kopi akhirnya menjadi komoditas yang dimonopoli. Produksi kopi hanya berada di wilayah-wilayah di bawah kekuasaan kesultanan Islam di Jazirah Arab sebelum akhirnya pada abad 15, Baba Budan, jamaah haji asal India berhasil menyelundupkan tujuh biji bibit kopi dari Jazirah Arab.

Kopi tak lagi menjadi monopoli Jazirah Arab. Ia menyebar luas ke banyak wilayah di penjuru bumi. Saat akhirnya kopi masuk Eropa dan memberikan dampak besar bagi perekonomian di sana, kopi menjadi komoditas yang diburu selanjutnya setelah rempah-rempah yang menjadi primadona di sana.

Belanda memanfaatkan peluang ini. Mereka mulai membudidayakan tanaman kopi di wilayah-wilayah jajahannya dengan Hindia Belanda yang wilayahnya terkenal subur menjadi ujung tombak. Sama seperti saat mereka membudidayakan jenis rempah-rempah, Belanda berhasil menjadi pemasok utama kopi ke wilayah Eropa.

Di mulai dari cerita rakyat yang turun temurun diperdengarkan di Ethiopia, kopi selanjutnya berhasil membawa banyak perubahan di banyak tempat di seluruh dunia. Mulai dari Jazirah Arab hingga Eropa, dari Afrika hingga Asia. Baik itu perubahan yang menyejahterakan, ataupun perubahan yang menyengsarakan. Ada banyak orang yang mendulang keuntungan dari kopi, mulai dari petani hingga pedagang kopi. Namun tak kalah banyak orang yang menderita karena kopi, tanahnya dirampas penguasa untuk perkebunan kopi, juga diperbudak di perkebunan kopi, misalnya semasa penjajahan Belanda di negeri ini.

Dan, kopi jugalah yang mengubah banyak dusun di lereng selatan Gunung Argopuro, Jember. Salah satunya akan saya ceritakan di sini. Interaksi saya yang cukup intensif dalam 4 bulan terakhir dengan masyarakat di salah satu dusun, membuat saya berubah dalam kebiasaan mengonsumsi kopi.

Sudah sejak zaman kolonial Jember dijadikan sentra kopi oleh Belanda, hal ini dibuktikan dengan pusat penelitian kopi yang dipusatkan di Jember. Hingga kini pusat penelitian kopi masih beroperasi di Jember, dan masih menjadi satu-satunya di Indonesia. Seluruh biji kopi yang akan dibudidayakan di Nusantara, dikaji dan diujicobakan dulu di Jember. Karena hal inilah Vietnam menyewa ahli kopi beserta petani dari Jember untuk menanam kopi di sana. Akhirnya kini Vietnam berhasil mengalahkan jumlah produksi kopi Indonesia. Dan, jangan lupa, nama kopi Jawa pun berawal dari Jember.

Saya sempat mengunjungi tiga dari lima dusun di Jember yang menjadikan kopi sebagai komoditas utama pertanian mereka. Satu dusun di bawah PTPN dan dua dusun dengan perkebunan kopi milik masyarakat. Berbeda dengan perkebunan kopi yang dikelola PTPN yang telah beroperasi sejak puluhan tahun yang lalu, perkebunan yang dikelola masyarakat di lereng selatan Gunung Argopuro baru mulai menggeliat sejak awal tahun 2000, tepatnya setelah Gus Dur terpilih menjadi Presiden Indonesia.

Sebelumnya, karena keterbatasan lahan pertanian dan minimnya peluang kerja. Masyarakat di lereng selatan Gunung Argopuro memilih bekerja sebagai tenaga kerja di luar negeri. Laki-laki dan perempuan yang sudah masuk usia kerja berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk bekerja di luar negeri, baik itu lewat jalur resmi ataupun jalur tidak resmi. Tentu saja semua ini dilakukan agar ada penghasilan, agar bisa menyambung hidup diri dan keluarga yang tertinggal di kampung.

Dusun-dusun sunyi ditinggal penghuni bekerja ke luar negeri. Hanya anak-anak dan orang tua yang tersisa, serta beberapa pemuda dan pemudi yang belum juga diberangkatkan ke luar negeri. Kehidupan berjalan lambat, tak ada geliat pembangunan sebagai simbol kemajuan dusun. Mereka yang seharusnya membangun dan memajukan dusun memilih bekerja ke luar negeri karena ketiadaan pekerjaan menjanjikan di kampung halaman. Para pemuda usia produktif tersisa sedikit di dusun dan tak bisa berbuat banyak untuk dusun mereka.

Semua itu seketika berubah saat Gus Dur mengeluarkan pernyataan yang berhubungan dengan reformasi agraria, tanah negara tanah rakyat, rakyat berhak memanfaatkan sebaik-baiknya demi kesejahteraan bersama. Mereka yang bekerja di luar negeri berangsur-angsur kembali ke kampung halaman setelah tahu lahan yang dulunya dilarang untuk dimanfaatkan kini sudah bisa ditanami. Mereka memilih kopi untuk ditanam di lahan milik Perhutani dengan 10% hasil panen nantinya diserahkan kepada Perhutani. Dusun yang sebelumnya sunyi dan tak bergeliat lambat laun kembali ramai didatangi mereka yang kembali ke kampung halaman.

“Saya terpaksa bekerja di luar negeri karena tak ada pekerjaan di sini. Saya harus punya penghasilan agar keluarga di rumah bisa makan. Sekarang, saya sudah punya kebun kopi, tak perlu lagi jauh-jauh bekerja di luar negeri meninggalkan anak dan istri di sini.” Ujar Pak Riki yang juga mewakili suara kebanyakan masyarakat Dusun Sumber Candik.

Pembibitan-Kopi

“Sekarang ini, paling saya kerja di luar saat kerja-kerja di kebun kopi tidak lagi padat dan tinggal menunggu masa panen. Dan itu tidak di luar negeri. Paling-paling kerja bangunan di Jember atau Surabaya atau Bali, paling lama tiga bulan saja. Tidak seperti dulu bisa sampai 4 tahun di Malaysia, nggak pulang-pulang.” Ujar Pak Farhan memberikan keterangan kepada saya.

Sudah 15 tahun masyarakat Sumber Candik menanam kopi. Robusta menjadi jenis utama, selain itu ada sedikit jenis arabica dan excelsa. Kembalinya masyarakat ke kampung halaman mereka untuk kemudian berkebun kopi menjadi sebab utama bergeliatnya kampung mereka. Dusun menjadi ramai kembali, roda perekonomian kembali berputar cepat. Dusun yang sebelumnya gelap mulai terang setelah masyarakat secara swadaya mengusahakan listrik bisa masuk desa mereka.

Sebelum hidup bersama petani kopi di Dusun Sumber Candik 4 bulan yang lalu, saya bukan jenis manusia peminum kopi. Sebelumnya dalam sebulan, belum tentu saya meminum segelas kopi. Namun setelah tinggal di Dusun Sumber Candik, minimal sehari saya mengonsumsi 2 gelas kopi. Sebuah perubahan yang saya kira cukup revolusioner dalam diri ini.

Setidaknya, kini, saya bisa memastikan bahwa kopi yang saya konsumsi adalah kopi yang diusahakan oleh mereka yang membawa kemajuan bagi dusunnya. Kopi yang membawa perubahan baik bagi kehidupan masyarakat tempat kopi itu ditanam. Hidup bersama petani kopi membuka mata saya bahwasanya, keberadaan kopi bisa menjadi simpul utama pembangunan sebuah dusun.

Dan, belum lama saya mendengar kabar bahwa tim minumkopi.com akan mengadakan ekspedisi kopi di wilayah Jember, Bondowoso dan Situbondo. Tentu saja saya berharap tim ini akan berkunjung ke Dusun Sumber Candik dan beberapa dusun lainnya di lereng selatan Gunung Argopuro. Mendokumentasikan perubahan ini dengan lebih baik dari sekadar tulisan singkat ini. Semoga tim ekspedisi tak lama lagi akan bergerak, karena saya sudah tak sabar tentu. Seperti juga kamu.

https://www.minumkopi.com/meninggalkan-pekerjaan-di-luar-negeri-membangun-desa-dengan-kopi/

Pertanianku — Beragam jenis makanan sehat banyak menjadi asupan pada saat seseor [...]

Pertanianku — Menghilangkan bekas getah pisang pada baju cukup sulit dilakukan. [...]

Pertanianku — Jeruk memiliki keunikan rasa manis dan asam yang membuatnya terasa [...]

Pertanianku — Bawang merah dan cabai merupakan dua jenis tanaman yang bernilai e [...]

Pertanianku — Ayam arab adalah ayam jenis petelur unggul yang banyak diidolakan [...]

Pertanianku — Tanaman bunga kerap dijadikan tanaman penghias pekarangan rumah. N [...]

Pertanianku — Trik menyimpan buah pisang bisa diterapkan agar buah ini bisa disi [...]

Pertanianku — Buah plum digemari karena dipercaya bisa membantu menurunkan berat [...]

Pertanianku — Biasanya, konsumen menyukai membeli buah yang belum terlalu matang [...]

Pertanianku — Penyakit tular tanah terdiri atas berbagai jenis jamur, bakteri, n [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10001 milliseconds