Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
Memuliakan TKI sedari Desa | binaswadaya.org      

Memuliakan TKI sedari Desa

Tahun 2005 adalah masa terburuk bagi Wartono (51), Kepala Desa Majasari, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Selama sembilan bulan, ia bersama ketiga anaknya berpisah dengan istrinya, Juhariah, yang mengadu nasib sebagai tenaga kerja Indonesia di Timur Tengah. Masalah kian runyam karena perempuan itu berangkat melalui sponsor ilegal.

”Agen yang membawa istri saya itu tidak sesuai prosedur. Istri saya bekerja seperti babu, tidur pukul 02.00 pagi dan dibangunkan pukul 05.00,” ujar Wartono saat ditemui di Balai Desa Majasari, akhir Agustus. Tujuan Juhariah yang awalnya dijanjikan ke Mekkah, Arab Saudi, bergeser ke Suriah dan Jordania.

Ada momen paling menyedihkan saat itu. Ketika anak bungsunya, Mefirana, terkena usus buntu dan ingin berbicara dengan istrinya, jawaban agen itu justru tak bertanggung jawab. ”Kamu enggak usah telepon lagi. Istri kamu itu sudah dijual,” ucapnya menirukan suara petugas agen.

Wartono, yang kala itu merupakan guru SDN Majasari 2, tidak dapat berbuat banyak. Impitan ekonomi memaksa dia mengizinkan istrinya bekerja di negeri orang. ”Kondisi saya saat itu besar pasak daripada tiang,” kenangnya.

Memang, sebagian besar warga Desa Majasari hidup susah. Mereka sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari karena sawah terbatas, bahkan sebagian hanya menjadi petani penggarap. Bekerja sebagai TKI alias buruh migran seakan menyelesaikan persoalan. Majasari pun menjadi salah satu desa penyumbang TKI terbanyak di Indramayu.

Pengalaman pahit terkait sang istri memaksa Wartono mempelajari seluk-beluk pengiriman buruh migran asal Indramayu ke mancanegara. Ia memetakan persoalan itu serta berdiskusi di sana-sini dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan tokoh masyarakat.

”Kesimpulannya, saya harus menjadi sponsor atau perekrut calon TKI dari desa,” ujarnya. Namun, sebelum itu, ia meminta sponsor memulangkan istrinya. Usaha itu baru berhasil setelah ia mengancam bakal melaporkan sponsor itu ke kepolisian.

Kepulangan sang istri tidak menghentikan ikhtiar Wartono untuk mengatasi masalah rekrutmen calon buruh migran. Selama tiga tahun, ia merancang cara melindungi TKI dari perekrutan yang tidak sesuai prosedur.

Gayung bersambut. Pada 2009, berlangsung pemilihan kuwu atau Kepala Desa Majasari. Sejumlah tokoh masyarakat mendorong Wartono mencalonkan diri. ”Sempat ada ancaman untuk mundur karena perolehan suara saya hanya 400 orang dari sekitar 2.000 warga,” ujarnya.

Tak disangka, ternyata dia menjadi calon tunggal sehingga akhirnya terpilih sebagai Kuwu Majasari. ”Uang saya waktu maju hanya Rp 1,5 juta. Alhamdulillah, terpilih.”

Perdes Perlindungan TKI

Sebagai kuwu, Wartono mulai mewujudkan impian untuk melindungi TKI sejak dari desa. Dia merancang aturan khusus. Hasilnya, terbentuklah Peraturan Desa (Perdes) Nomor 3 Tahun 2012 tentang Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia asal Desa Majasari.

”Meskipun kewenangan ada di pemerintah pusat, desa harus menjadi garda terdepan melindungi TKI,” ujarnya. Wartono enggan mengklaim perdes itu buah pemikirannya seorang diri.

Perdes itu tidak melarang warga desa bekerja ke luar negeri, tetapi desa perlu terlibat dalam proses rekrutmen. Sponsor atau perekrut calon TKI, pemberi izin calon TKI, dan calon TKI wajib melapor ke desa. Selain mengecek dokumen calon buruh migran, perangkat desa juga memastikan sponsor itu legal dan melaporkan aktivitasnya.

”Jangan sampai calon TKI belum siap mental, tetapi didorong keluarganya untuk bekerja di luar negeri. Jadi, ada tiga surat bermeterai yang ditandatangani tiga pihak. Yang penting, desa mengetahui dan memastikan kondisi warganya baik-baik saja selama jadi TKI,” ujarnya.

Wartono

Lahir:

Indramayu, 17 April 1965

Istri:

Juhariah

Anak:

  1. Miftia Yunanda
  2. Miftah Krisna
  3. Mefirana Nufussyadilah

Pendidikan:

  1. Universitas Terbuka PGSD Bandung
  2. S-2 STIA YAPPAN Jakarta

Pekerjaan:

  1. Kuwu (Kepala Desa) Majasari (2009-sekarang)
  2. Sekretaris Umum Asosiasi Kuwu Seluruh Indramayu
  3. Sekretaris Asosiasi Perangkat Desa Seluruh Indonesia (APDES) Jabar

 

Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) saat itu, Jumhur Hidayat, mengunjungi Majasari pada 2013. Dia mengapresiasi perdes perlindungan TKI desa itu yang dinilai merupakan satu-satunya di Indonesia.

Lalu, bagaimana dengan para TKI yang telanjur menempuh jalur ilegal?

Menggandeng Tifa Foundation, Wartono juga membentuk paralegal Community Based Organization Zulfikar untuk mengadvokasi para TKI yang bermasalah. ”Pada 2012, lima warga kami yang menjadi TKI terkena berbagai masalah, seperti perekrutan ilegal sehingga hilang kontak. Sekarang, tinggal satu warga yang hilang kontak. Kami terus mencarinya,” ujar Wartono.

Kini, hampir tidak ada lagi warga desa yang menempuh jalur ilegal untuk menjadi TKI. Data warga desa yang mengadu nasib di mancanegara plus negara tujuan pun tercatat rapi. Lebih dari itu, desa juga terus memantau agar para buruh migran dipastikan dipekerjakan dengan benar dan aman.

Sapi keluarga TKI

Wartono juga memberdayakan sebagian besar suami TKI dengan meminjamkan sapi bantuan Kementerian Pertanian pada 2013. Dari semula 32 ekor, kini jumlah sapi yang dipelihara mencapai sekitar 200 ekor oleh 45 keluarga. Ternak itu disimpan di kandang komunal di desa.

”Dengan para suami diberdayakan dan sibuk bekerja, tak ada lagi stigma suami TKI hanya menghamburkan uang kiriman dari istri,” ujarnya.

Perhatian Wartono kepada purna-TKI juga tidak kecil. Berkat bantuan PT Bank BNI (Persero), Desa Majasari memiliki Rumah Edukasi TKI di Blok Tanasin. Di rumah itu, para mantan buruh migran diberi keterampilan, manajemen keuangan, dan akses permodalan.

Balai desa pun dirancang sebagai tempat pemberdayaan purna-TKI. Mereka dijadikan kader posyandu dan dapat mengakses informasi melalui internet yang disediakan gratis oleh desa. Para mantan buruh migran beserta anak-anaknya juga dapat memanfaatkan 12.000 koleksi buku, termasuk buku elektronik. Desa ini mengorganisasi purna-TKI dalam kelompok, salah satunya TKI Purna Mandiri yang kini memiliki mobil operasional sendiri. Salah satu anggotanya, Sholehah (34), yang pernah bekerja di Arab Saudi sembilan tahun, kini menjadi kader posyandu. Mendapatkan modal Rp 2 juta dari badan usaha milik desa, ia mengembangkan usaha tas rajutan dan meraup keuntungan lumayan setiap bulan.

”Ada sekitar 50 purna-TKI yang mengembangkan usaha di kelompok saya. Bahkan, tetangga kadang ikut membantu,” ujarnya.

Desa terbaik

Inovasi dalam melindungi TKI tidak hanya membuat Wartono terpilih kembali sebagai Kuwu Majasari pada 2015, tetapi juga membawa desanya menjadi yang terbaik. Pertengahan Agustus lalu, desa dengan anggaran pendapatan dan belanja desa Rp 1,5 miliar itu meraih predikat Desa Terbaik Tingkat Nasional 2016 untuk regional Jawa-Bali.

Piala desa terbaik dari Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo itu bertengger di Balai Desa Majasari. Sebelumnya, pada 2015, penghargaan untuk pendampingan dan perlindungan TKI juga didapatkan Majasari dari Tifa Foundation dan BNP2TKI.

Mengapa gigih memperjuangkan perlindungan TKI? Dengan alis meninggi, Wartono menukas, ”TKI itu duta bangsa Indonesia. Wajah Indonesia itu dilihat dari TKI. Jadi, semua pihak harus melindungi TKI. Dan, itu dimulai dari desa”.

Sumber: Kompas.com

Pertanianku — Saat memakan buah apel, umumnya kita membuang bagian kulit, teruta [...]

Pertanianku — Hari raya Idul Adha identik dengan daging kurban. Biasanya, kita a [...]

Pertanianku — Beragam jenis makanan sehat banyak menjadi asupan pada saat seseor [...]

Pertanianku — Menghilangkan bekas getah pisang pada baju cukup sulit dilakukan. [...]

Pertanianku — Jeruk memiliki keunikan rasa manis dan asam yang membuatnya terasa [...]

Pertanianku — Bawang merah dan cabai merupakan dua jenis tanaman yang bernilai e [...]

Pertanianku — Ayam arab adalah ayam jenis petelur unggul yang banyak diidolakan [...]

Pertanianku — Tanaman bunga kerap dijadikan tanaman penghias pekarangan rumah. N [...]

Pertanianku — Trik menyimpan buah pisang bisa diterapkan agar buah ini bisa disi [...]

Pertanianku — Buah plum digemari karena dipercaya bisa membantu menurunkan berat [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10000 milliseconds