Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
Memberdayakan Petani dengan IT | binaswadaya.org      

Memberdayakan Petani dengan IT

Anita Hesti, Direktur Utama 8Villages Indonesia. –

Petani dan teknologi informasi (TI). Dua hal yang satu dekade lalu nggak nyambung banget. Mana ada petani ngerti IT? Dan, mana ada IT yang bau-bau petani? Kalau cuma berita yang menyinggung soal pertanian sih banyak. Singkatnya, petani dan IT adalah bagaikan dua sosok makhluk yang berasal dari planet berbeda.

Itu dulu. Sekarang, ke mana-mana petani sudah nenteng telepon seluler. Kalau bukan smartphone, minimal ponsel standar untuk bertelepon atau saling berkirim pesan singkat (SMS). Kemajuan teknologi dalam bidang telekomunikasi memang telah merambah ke mana-mana.

Masalahnya sekarang, bagaimana kemajuan teknologi tersebut berguna bagi petani dan benar-benar bisa meningkatkan produktivitas mereka. Sehingga, ujung-ujungnya tingkat kehidupan petani bisa meningkat secara signifikan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak petani yang berpandangan, bertani tidak lagi menjamin kesejahteraan mereka di masa depan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei lalu menyebutkan, dibanding Februari 2015, jumlah penduduk yang bekerja di Indonesia per Februari 2016 turun sebanyak 200.000 orang dengan penurunan terbanyak terjadi di sektor pertanian.

Di Jawa Tengah, jumlah masyarakat yang bekerja di sektor pertanian hingga periode tersebut sebanyak 5,16 juta jiwa, turun 4,21% dibanding Februari 2015 sebanyak 5,39 juta jiwa. Penurunan itu terjadi karena sebagian anak petani sudah tidak mau lagi bekerja seperti orang tua mereka.

Sementara itu, nilai tukar petani (NTP) yang menjadi ukuran kemampuan tukar produk pertanian yang dihasilkan petani terhadap barang atau jasa yang dibutuhkannya, juga tidak banyak bergerak naik. Sejak Desember 2015, NTP bulanan terus menurun hingga April 2016 yang tercatat pada 101,22.

Padahal, pada November 2015, NTP sempat mencapai posisi 102,95 yang merupakan prestasi terbaik dalam dua tahun terakhir. Pada Mei 2016, NTP nasional mencapai 101,55 atau naik 0,32% dari bulan sebelumnya. Namun, NTP Provinsi Jawa Tengah tidak mengikuti tren itu dan berhasil naik 0,89% ke 99,86. Untuk Juni 2016, NTP nasional sebesar 101,47 atau turun 0,08% dibanding bulan sebelumnya.

Pada Juli 2016, NTP nasional sebesar 101,39 atau turun 0,08%, namun NTP Jawa Tengah berhasil naik 0,29%. Selama Agustus dan September, NTP nasional berhasil naik tetapi pada Oktober dan November kembali turun. Untuk Jawa Tengah, selama Januari hingga April NTP berturut-turut mengalami penurunan sebesar -0,50; -0,97; -1,12; -0,42. Selama Mei 2016 naik 0,89%, sedangkan Juni turun -0,22%. Selama Juli sampai September, NTP Jawa Tengah naik 0,29%; 0,50%; 0,44%.

Sedangkan pada Oktober dan November, NTP Jawa Tengah kembali turun, masing-masing sebesar -0,72% dan -0,60%. Dengan demikian, secara nasional selama 11 bulan 2016, terjadi penurunan NTP sebanyak 8 bulan dan kenaikan sebanyak 3 bulan. Sedangkan Jawa Tengah mengalami penurunan NTP sebanyak 7 bulan dan kenaikan sebanyak 4 bulan. Secara nasional, NTP untuk menggambarkan daya beli petani tersebut lebih banyak mengalami penurunan ketimbang kenaikan.

Data tersebut menunjukkan terjadinya penurunan jumlah petani dan pelemahan NTP. Artinya, jalan untuk mencapai swasembada pangan memang masih panjang dan dibutuhkan berbagai langkah untuk mewujudkannya.

Berbagai upaya sudah dilakukan, baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, untuk meningkatkan kesejahteraan petani, mulai dari pemberian bantuan, pemberantasan mafia pupuk, hingga asuransi petani berupa pemberian ganti rugi jika terjadi kegagalan panen.

Aplikasi Petani Jateng
Nah, sesuai dengan tema tulisan ini, bagaimana agar IT dan petani nyambung, kami memiliki program pemberdayaan petani melalui penerapan TI bernama Aplikasi Petani Jateng yang rencananya diluncurkan pada 18 Desember 2016. Pada dasarnya program ini sudah berjalan lama karena sudah diperkenalkan dengan nama Aplikasi Petani oleh Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada (UGM) pada 17 November 2014.

Selanjutnya, Presiden Joko Widodo meluncurkan aplikasi Petani ini di Kabupaten Brebes secara nasional pada 11 April 2016. Aplikasi Petani bisa diakses siapa saja yang ingin tahu tentang masalah dan solusi di sektor pertanian. Mereka bisa mengunduh aplikasi tersebut secara gratis, bertanya jawab dan berpromosi secara gratis pula.

Aplikasi Petani dan Aplikasi Petani Jateng merupakan dua aplikasi yang berbeda. Aplikasi Petani Jateng hanya untuk para petani di provinsi ini dengan kesiapan dukungan stand by buyer dari hulu ke hilir dan ditopang oleh Bank Jateng secara komersial. Sebanyak 5,39 juta petani Jateng bisa memperoleh akses ke para pakar itu secara gratis. Ke depan, para petani akan disediakan ponsel android oleh sejumlah pihak yang akan menjadi mitra Pemprov Jateng dengan skema dicicil semampu mereka.

Aplikasi ini memudahkan para petani untuk berkomunikasi dengan para pakar pertanian dari seluruh universitas yang ada di Jawa Tengah, mengingat makin terbatasnya tenaga penyuluh untuk menjangkau semua petani. Menurut data Kementerian Pertanian, saat ini Indonesia masih kekurangan tenaga penyuluh pertanian hingga sebanyak 40.000- an untuk ditempatkan di setiap desa. Pasalnya, berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, idealnya setiap desa memiliki satu orang penyuluh pertanian.

Padahal, saat ini dari 71.000 desa berpotensi di bidang pertanian, baru tersedia 30.000 orang penyuluh. Para pakar yang terlibat dalam implementasi aplikasi ini terdiri atas dosen pertanian dari berbagai disiplin ilmu seperti ilmu tanaman, ilmu tanah, ilmu penyakit dan hama, budidaya tanaman dan sosial ekonomi pertanian. Melalui aplikasi ini, para petani bisa bertanya kepada para pakar itu. Agar masalah bisa didiagnosis dengan cepat dan bagaimana cara mengatasinya, mereka harus melengkapinya dengan foto.

Tidak saja dengan para pakar, para penyuluh pertanian di daerah pun dilibatkan. Hal ini karena setiap persoalan yang disampaikan petani dan didiagnosis, akan diteruskan kepada penyuluh yang kemudian bertemu langsung dengan petani tersebut. Aplikasi ini juga mendorong para petani Jateng untuk saling bertukar informasi berdasarkan pengalaman masing-masing.

Selain itu, para pakar secara rutin mengirimkan berbagai tulisan untuk membantu memperkaya wawasan para petani sehingga pada akhirnya mampu meningkatkan hasil pertanian. Petani juga bisa menjual produk mereka dan konsumen yang tertarik bisa langsung membelinya. Hasil pertanian pun terjual dengan harga yang lebih baik. Petani yang membutuhkan informasi pupuk bersubsidi bisa bertanya melalui aplikasi ini sehingga informasi pengecer pupuk bersubsidi dapat diakses beserta lokasinya.

Tidak hanya itu, para petani yang berhasil dengan panen mereka bisa berbagi melalui aplikasi ini. Informasi ini harus jelas dan akurat agar memudahkan calon pembeli. Terkait permodalan, petani yang membutuhkan bantuan dana operasional bisa mengajukan kredit dan pemberi pinjaman akan melihat rekam jejak mereka dalam produksi agar dengan mudah memverifikasi pinjaman.

Karena sifatnya yang sosial untuk membantu para petani, tentu saja layanan ini gratis. Setiap masalah atau informasi yang disampaikan petani akan dijawab oleh para pakar dalam tempo 1×24 jam. Aplikasi ini bisa diunduh di alamat http:// www.8villages.com/petani.

aplikasi-petani

Tentu kami berharap, aplikasi ini mampu menjangkau seluruh petani, terutama di Jawa Tengah, untuk bisa mendapatkan informasi terkini terkait solusi permasalahan pertanian yang mereka hadapi. Meskipun belum secara resmi diluncurkan, saat ini sudah ada sekitar 1.500 petani Jateng yang memanfaatkan aplikasi tersebut.

Masalah Sinyal
Tentu saja agar aplikasi ini bisa dimanfaatkan oleh petani, terutama yang tinggal di pelosok-pelosok gunung, sinyal ponsel harus diperkuat. Lokasi peluncuran Aplikasi Petani Jateng ini pun sengaja dipilih di sentra pertanian di daerah terpencil, yakni di Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Kami juga akan mengadakan teleconference dengan para petani di desa Cetho, Karanganyar. Para tamu undangan akan kami ajak ikut serta dalam teleconference ini agar mereka bisa melihat manfaat dari aplikasi Petani Jateng ini.

Masih banyak daerah pertanian yang nirsinyal sehingga saat ini dan ke depan, koneksi dilakukan dengan bantuan satelit yang lebih bisa diandalkan untuk menghasilkan sinyal daripada Base Transceiver Station (BTS). Hal ini karena kemampuan BTS untuk mentransmisikan sinyal di lokasi para petani yang terletak di gunung-gunung cukup terbatas.

Tentu ini membutuhkan perhatian lebih dari para provider telekomunikasi. Kami ingin agar jaringan komunikasi bisa merata hingga ke pelosok-pelosok perdesaan. Tujuannya tentu saja agar para petani semakin melek informasi sehingga cita-cita untuk menyejahterakan mereka selangkah lebih maju.

Sumber: www.beritasatu.com

Pertanianku — Beragam jenis makanan sehat banyak menjadi asupan pada saat seseor [...]

Pertanianku — Menghilangkan bekas getah pisang pada baju cukup sulit dilakukan. [...]

Pertanianku — Jeruk memiliki keunikan rasa manis dan asam yang membuatnya terasa [...]

Pertanianku — Bawang merah dan cabai merupakan dua jenis tanaman yang bernilai e [...]

Pertanianku — Ayam arab adalah ayam jenis petelur unggul yang banyak diidolakan [...]

Pertanianku — Tanaman bunga kerap dijadikan tanaman penghias pekarangan rumah. N [...]

Pertanianku — Trik menyimpan buah pisang bisa diterapkan agar buah ini bisa disi [...]

Pertanianku — Buah plum digemari karena dipercaya bisa membantu menurunkan berat [...]

Pertanianku — Biasanya, konsumen menyukai membeli buah yang belum terlalu matang [...]

Pertanianku — Penyakit tular tanah terdiri atas berbagai jenis jamur, bakteri, n [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10001 milliseconds