Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
Mantan Wamendag: Eropa Saja Ingin Tiru Raskin | binaswadaya.org      

Mantan Wamendag: Eropa Saja Ingin Tiru Raskin

Mantan Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi menyatakan keheranannya mendengar wacana Pemerintahan Jokowi mau menghapus program beras untuk rakyat miskin (raskin) yang dinilainya efektif meradam inflasi dan menciptakan ketahan pangan nasional. “Beberapa negara di Eropa pun ingin mengimplementasikannya,” kata Bayu saat menjadi pembicara diskusi Stop Liberalisasi Beras yang digelar Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia, di Jakarta, Senin (15/12).

Mantan orang nomor dua di Kementerian Perdagangan yang baru melawat dari Prancis, itu menyatakan sejumlah negara di Benua Biru Eropa, serta Amerika Serikat (AS), tengah mempelajari mekanisme program raskin karena ingin mengimplementasikannya di negara masing-masing.

Bayu menuturkan, sejumlah negara di Eropa berkeinginan mengimplementasikan raskin sebab kupon makan (stamp food), semacan e-money, tidak efektif mengatasi gejolak ketahanan pangan, sehingga 16 juta orang kelaparan.

“Mereka melihat raskin lebih efektif dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat. Mereka heran, bagaimana Indonesia menjaga stabilitas pangan rakyatnya. Karena stamp food ternyata kurang efektif,” ungkap Bayu.

Menurutnya, program raskin merupakan jaring pengaman sosial yang mempunyai 8 fungsi sekaligus, yakni sebagai pengadaan beras dan gabah bagi petani, stok pangan pemerintah, penjamin ketersediaan pangan bagi warga miskin.

Kemudian penyedia bantuan darurat pada saat bencana atau keperluan mendadak lainnya, penjaga stabilitas harga beras, injeksi dana pemerintah ke pedesaan yang saat ini jumlahnya mencapai sekitar Rp 18 trilyun, instrumen peningkatan likuiditas masyarakat desa, serta pengendali inflasi nasional.

Selain itu, Bayu juga memiliki pandangan berbeda soal dimulainya program raskin. Pasalnya, jika sejumlah peneliti menyebut program raskin baru berusia 16 hingga 18 tahun, namun ia menyebut pemerintah telah memulai program ini sejak tahun 1970 silam.

Program yang dimaksud Bayu, adalah penyediaan beras untuk PNS dan ABRI. Lantas, pada tahun 1998, pemerintah memandang program semacam ini harus dilanjutkan karena terjadi gejolak ekonomi.

“Pemerintah memandang perlunya jaminan pangan untuk masyarakat umum dan program ini dilanjutkan oleh 5 pemerintahan pasca Reformasi,” ungkapnya.

Atas alasan tersebut, Bayu menilai penghapusan Raskin bukan hanya memicu inflasi,  tetapi juga kekacauan (chaos) di tengah masyarakat, karena penghapusan raskin memberi peluang bagi para spekulan untuk “bermain” demi mengeruk keuntungan pihak tertentu.

“Yang paling beresiko merasakan imbas penghapusan Raskin adalah masyarakat miskin dan para petani. Karena selama ini Raskin menjadi instrumen negara untuk menjaga harga gabah petani agar tetap tinggi di pasaran, sekaligus menjaga harga beras agar tetap terjangkau di masyarakat,” ujarnya.

Raskin menjadikan negara mempunyai stok beras yang dapat menutup upaya spekulan untuk memainkan beras. “Kalau Raskin dihapus, fluktuasi harga bisa tinggi,” tandasnya.

Meski demikian, Bayu mengakui program raskin masih belum sempurna dan pemerintah harus melakukan perbaikan di beberapa sektor, termasuk soal penyalurannya, bukan malah mengapus programnya.

“Terlepas dari masalah penyimpangan itu sendiri, perputaran hasil beras penyimpangan raskin itu tetap di kelompok masyarakat berpendapatan rendah, karena beras dengan kualitas medium, kalaupun dioplos dengan kualitas yang lebih baik, jadinya tetap melayani pasar kelompok masyarakat bawah,” ucapnya.

Senada dengan Bayu, pakar ekonomi dari Universitas Lampung Bustanul Arifin menyebutkan, bakal terjadi kompleksitas akses gizi pangan masyarakat jika pemerintah sampai menghapuskan raskin.

Dua bulan pasca-beras raskin tak turun, harga beras menyumbang laju inflasi hingga 25% yang sangat berpengaruh terhadap masyarkat miskin.

“Disparitas harga eceran beras domestik dengan harga dunia telah menciptakan kerumitan tersendiri pada pengadaan beras. Selama ini, harga beras kita tidak terpengaruh oleh harga dunia, karena adanya stok Raskin. Kalau beras diliberalisasi, tidak hanya gejolak pasar yang muncul, tapi juga bisa ancaman kekurangan gizi masyarakat dengan jumlah massal,” ujarnya.

Bustanul juga menilai rencana penghapusan raskin sebagai upaya memuluskan agenda liberalisasi yang melemahkan kedaulatan pangan Republik Indonesia, menjelang pelaksanaan pasar bebas Asean, yang dikenal dengan Masyarakat Eknomoi Asean (MEA) 2015.

“Konversi raskin dalam bentuk e-money, akan membuat komiditi beras sepenuhnya masuk ke pasar bebas dan tidak bisa dikontrol oleh pemerintah. Ini sama saja dengan meliberalisasi beras,” tandasnya.

Jika pemerintah menghapus raskin, lanjutnya, maka bukan hanya ancaman inflasi yang akan melanda Indonesia, tetapi juga kehancuran bagi para petani lokal, terlebih saat menghadapi MEA 2015.

Dalam diskusi tersebut juga terungkap bahwa rencana konversi raskin ke e-money yang terkesan meniru program kupon makanan di Amerika Serikat, dinilai sulit dilaksanakan di Indonesia dan hanya akan melahirkan sejumlah persoalan baru, selain keuntungan sepihak bagi industri perbankan.

Dalam hal ini, pemerintah luput mengkaji sisi sosial, ekonomi, dan politik dalam strategi pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat Indonesia yang berbasis kepulauan dan berkultur agraris. Sebab, raskin tidak sekedar program untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga terkait dengan pertumbuhan sumber daya manusia dan pertahanan bagi distribusi produk para petani lokal dari serbuan produk impor.

Sumber : http://www.gatra.com/ekonomi-1/111560-mantan-wamendag-eropa-saja-ingin-tiru-raskin.html

Pertanianku — Saat memakan buah apel, umumnya kita membuang bagian kulit, teruta [...]

Pertanianku — Hari raya Idul Adha identik dengan daging kurban. Biasanya, kita a [...]

Pertanianku — Beragam jenis makanan sehat banyak menjadi asupan pada saat seseor [...]

Pertanianku — Menghilangkan bekas getah pisang pada baju cukup sulit dilakukan. [...]

Pertanianku — Jeruk memiliki keunikan rasa manis dan asam yang membuatnya terasa [...]

Pertanianku — Bawang merah dan cabai merupakan dua jenis tanaman yang bernilai e [...]

Pertanianku — Ayam arab adalah ayam jenis petelur unggul yang banyak diidolakan [...]

Pertanianku — Tanaman bunga kerap dijadikan tanaman penghias pekarangan rumah. N [...]

Pertanianku — Trik menyimpan buah pisang bisa diterapkan agar buah ini bisa disi [...]

Pertanianku — Buah plum digemari karena dipercaya bisa membantu menurunkan berat [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10001 milliseconds