Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
Koran Bekas Jadi Pembalut Wanita Di Pedalaman Indonesia | binaswadaya.org      

Koran Bekas Jadi Pembalut Wanita Di Pedalaman Indonesia

Koran-koran bekas berserakan di tepi jalan, di Padang, Sumatera Barat. Koran bekas sangat tidak higienis seperti inilah yang dijadikan pembalut wanita bagi sebagian masyarakat pedalaman di Indonesia. Sebagai pembalut wanita, koran bekas dengan kandungan bahan kimia dan mikrobanya bisa membahayakan kesehatan reproduksi perempuan. (ANTARA Sumatera Barat)Pasangkayu, Sulawesi Barat (ANTARA News) – Temuan mengejutkan dijumpai terkait kesehatan reproduksi perempuan. Saat Jakarta disesaki mal canggih-gemerlapan, masih ada masyarakat pedalaman Indonesia menjadikan koran bekas jadi pembalut wanita saat mereka datang bulan alias menstruasi. 

Ketua DPRD Sulawesi Barat, Hamzah Hasan, sangat prihatin atas kenyataan warganya di pedalaman Sulawesi Barat itu. Tidak diungkap secara rinci pelosok-pelosok pedalaman yang masih memakai koran bekas sebagai pembalut wanita itu.

“Saya pun sangat terkejut. Penelitian mencatat masih banyak masyarakat kita, terutama di pesisir dan pegunungan masih menggunakan koran bekas sebagai pembalut wanita,” kata Hasan, di Mamuju, Minggu.

Sulawesi Barat, sebagaimana banyak kawasan lain Indonesia, berkondisi geografis sangat luas dan miskin akses transportasi, informasi, serta ekonomi. 

Sebagai gambaran, dari kota Sabbang ke Kecamatan Sekko, di Kabupaten Luwuk Utara, Sulawesi Selatan, cuma bisa dicapai memakai ojek motor semitrail bertarif sekitar Rp900.000. Jalan belum terbangun secara semestinya, sehingga perjalanan berojek itu memakan waktu seharian.
Dia menduga sementara, kenyataan itu terjadi karena ketidakpahaman dan kebiasaan masyarakat pedalaman itu; bahwa koran bekas bisa menjadi pembalut wanita. 

“Mungkin juga karena kemampuan ekonomi mereka sangat terbatas, sehingga memilih menggunakan koran bekas atau handuk sebagai alat pembalut wanita,” katanya.
Kebiasaan dan ketidakpahaman atau apa saja penyebabnya, kata dia, seperti ini harus dihentikan segera. “Sangat merugikan kesehatan reproduksi perempuan,” katanya. 

Karena itu kata dia, dirinya langsung mendukung aspirasi masyarakat untuk mengalokasikan anggaran bantuan alat pembalut wanita dalam batang tubuh APBD tahun 2013.

“Usulan masyarakat ini saya akomodir dalam bentuk program aspirasi. Nilai anggaran yang disiapkan itu berkisar Rp100 juta,”katanya. Jika lancar, pembalut wanita akan dibagikan gratis kepada yang memerlukan, sampai ke gunung-gunung dan pelosok pantai. 

“Program bantuan ini memang tidak populer. Namun, harus menjadi catatan bagiaman asas manfaat dengan program ini,”pungkas Hamzah.

 

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/358838/koran-bekas-jadi-pembalut-wanita-di-pedalaman-indonesia

Dikutif 18 April 2013

 

Pertanianku — Fenomena harga cabai yang melambung tinggi terjadi lagi. Ikatan Pe [...]

Pertanianku — Komoditas perkebunan memiliki kontribusi besar dalam peningkatan e [...]

Pertanianku — Kementerian Pertanian (Kementan) menilai, pupuk menjadi kunci kema [...]

Pertanianku — Beragam jenis tanaman buah biasa dibudidayakan dengan berbagai car [...]

Pertanianku — Cara menyuburkan tanah bisa dilakukan dengan pemberian pupuk. Sela [...]

Pertanianku — Penggunaan bahan alami untuk menyuburkan tanah sudah digunakan sej [...]

Pertanianku — Bagaimana trik agar jagung manis berbuah lebat? Ya, siapa yang tid [...]

Pertanianku — Ada beberapa jenis anggur yang tersebar di seluruh dunia. Salah sa [...]

Pertanianku — Bisnis beternak ayam kampung sangat menjanjikan. Bagaimana tidak? [...]

Pertanianku — Sejak dulu, daun jambu biji dipercaya dapat mengatasi diare. Untuk [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10000 milliseconds