Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
Kiswanti: Berbekal Sabar dan Pintar | binaswadaya.org      

Kiswanti: Berbekal Sabar dan Pintar

KOMPAS.com – Kesabaran dan kepintaran yang didapat dari membaca buku menjadi bekal Kiswanti (47), dalam menjalani kehidupan yang sarat kemiskinan dan penolakan, sejak usia belia. Perempuan lulusan Sekolah Dasar (SD) ini dinobatkan sebagai “Pahlawan Pustaka” dari ajang penghargaan untuk masyarakat, yang hidup dengan penuh semangat untuk memberdayakan dirinya dan orang lain.

 Kiswanti adalah pendiri taman bacaan masyarakat Warabal atau Warung Baca Lebak Wangi, berlokasi di Jalan Kamboja No 71 , Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Taman bacaan adalah salah satu mimpi dan cita-cita yang selalu menguasai pikiran dan hatinya.

 “Sejak lama saya sudah berkeinginan memiliki perpustakaan gratis dan sekolah gratis. Saat ini baru taman bacaan saja yang terwujud,” papar Kiswanti kepada Kompas Female menjelang penyerahan anugerah Danamon Award 2010, di Jakarta, Rabu (3/11/2010) lalu. 

 Perempuan yang terpilih sebagai satu dari tiga peraih Danamon Award 2010 Terfavorit ini, mengaku cita-cita memiliki taman baca sejak kelas 4 SD. Koleksi buku milik Kiswanti, yang mulai dikumpulkan sejak kecil hingga kini, berjumlah 7.515 eksemplar.

 Tak hanya itu, taman baca miliknya juga menyediakan sejumlah program pendidikan dan keterampilan tanpa biaya. Seperti bimbingan belajar untuk siswa SD, SMP, SMA -khususnya untuk pelajaran matematika dan fisika, pendidikan anak usia dini (PAUD), kursus komputer, bahasa Inggris, menari, mengaji, menjahit, dan menyulam bagi orang tua. Kegiatan ini menarik simpati sekitar 16 relawan yang terdiri atas ibu rumah tangga, mahasiswa, maupun berbagai profesi seperti dosen yang dengan sukarela berkontribusi.

 Warabal merupakan salah satu pencapaian Kiswanti atas kerja kerasnya memperjuangkan pendidikan. Taman bacaan mewakili semangat istri seorang buruh ini untuk memberi kesempatan kepada anak-anak untuk menikmati pendidikan. Pengalaman pahit masa kecil, yang membuatnya harus mengubur mimpi sekolah tinggi, tak lantas membuatnya terpuruk. Warabal dan penghargaan atas upayanya mendirikan taman baca adalah bukti nyata semangat hidupnya.

 “Saya bersyukur punya pengalaman pahit sejak kecil, artinya saya diberikan kekuatan dari kecil. Dari pengalaman ini, saya enggak mau terpuruk dengan ketidakberadaan. Saya merasa bisa melewati semua kesulitan. Saya belajar dari membaca buku, banyak tahu dari buku. Seseorang tidak dilihat dari fisik, tetapi dilihat dari pola pikirnya. Pesan bapak, hanya sabar dan pintar yang akan menyelamatkan saya. Benar saja, pesan bapak terbukti, kini saya merasakan itu,” tutur Kiswanti, menggambarkan semangat hidup yang muncul sedari kecil karena bimbingan ayahnya.

 Bertumbuh karena buku

Sejak duduk di bangku SD, Kiswanti menulari kebiasaan membaca dari ayahnya, Trisno Suwarno. Trisno adalah ayah tiri Kiswanti yang selalu memberinya semangat hidup dan membekalinya dengan berbagai jenis bacaan.

 Kiswanti menyadari betul, orangtuanya tak mampu membiayai sekolah kelima anaknya. Ayahnya hanyalah seorang petani gurem dan penarik becak. Kiswanti, si sulung (anak dari pernikahan ibunya yang pertama), dengan keempat adik (dari pernikahan ibunya dengan Trisno), hanya lulus SD. Kemiskinan membuat keluarga sederhana ini tak bisa menikmati pendidikan. Meski sang ibu, Tumirah, juga turut berkontribusi menambah penghasilan keluarga menjadi seorang penjual jamu gendong.

 Adalah kreativitas Trisno menyiasati ketiadaan biaya ini, yang telah menyelamatkan Kiswanti. Perempuan kelahiran Desa Ngidikan, Bantul, 4 Desember 1963 ini tetap terhibur dengan koran, majalah, buku yang dibawa pulang bapaknya seusai bekerja. Setidaknya, bacaan ini mengobati kesedihan hati Kiswanti kecil yang tak mampu membayar iuran perpustakaan sebesar Rp 250.

 “Sangat sulit bagi kami untuk bersekolah, apalagi membayar iuran perpustakaan kala itu,” kata Kiswanti yang lulus SD pada tahun 1980.

 Mengakali kemiskinan, Trisno meminta Kiswanti tak melanjutkan sekolah. Kemudian, Trisno mengajak Kiswanti yang lulus dengan nilai sempurna, untuk belajar di rumah dengan buku.

 “Bapak minta maaf tidak bisa menyekolahkan saya. Bapak juga bilang, kalau mau pinter banyak baca buku,” kisahnya menjelaskan bagaimana orangtuanya tak menyanggupi biaya sekolah lanjutan.

 Beruntung, Trisno adalah tamatan sekolah rakyat yang bisa baca tulis. Trisno mengambil alih peran sekolah dengan mengajarkan Kiswanti dengan caranya yang unik.

 Buku pelajaran SMP, SMA, majalah, dan surat kabar adalah pemberian rutin dari Trisno kepada Kiswanti. Meski tak sekolah, Kiswanti rajin membaca pelajaran setingkat SMP-SMA. Jika tak mengerti, ia bertanya kepada tetangganya yang berprofesi sebagai guru. Karena kecerdasan otaknya menangkap ilmu, Kiswanti seringkali menjadi tempat bertanya teman seusianya yang melanjutkan sekolah.

 “Bapak yang mencontohkan kebiasaan membaca. Pernah bapak bilang, tak perlu ke keraton Solo untuk tahu seperti apa sejarahnya. Bapak bercerita tentang keraton Solo dari buku. Suatu saat, bapak mengajak saya ke keraton Solo. Apa yang diceritakan bapak saya lihat semuanya. Saya banyak tahu tentang banyak hal dari buku,” tuturnya.

 Pahlawan Pustaka, sebuah gelar yang dinobatkan kepadanya setelah dewasa, adalah buah manis dari pendidikan rumahan Trisno, ayahnya. Kegemaran Trisno bercerita tokoh dan kisah perwayangan, membekas di benak Kiswanti hingga kini. Cara Trisno mengajak Kiswanti tetap menjaga semangat belajar juga masih terekam jelas.

 “Yang menjengkelkan saat kecil, saat teman saya bersekolah, bapak menghibur saya dengan puzzle. Bapak menggunting gambar atau huruf dari koran, majalah, lalu dimintanya saya menyusun gambar tersebut. Nakalnya bapak, sebagian gambar disembunyikan di pecinya. Inilah yang juga dilakukan bapak jika saya mengganggu ibu yang sedang menumbuk jamu. Meski kesal karena gambar seringkali disembunyikan, dengan cara inilah, bapak mengajarkan saya baca tulis,” kisahnya.

 Kecintaan Kiswanti terhadap buku semakin menjadi selepas dari SD. Ia kerapkali membeli buku di bazar yang digelar sepanjang hari selama sebulan pada peringatan Sekaten atau Maulid Nabi. Buku bukan satu-satunya yang menarik perhatian Kiswanti. Melihat, banyak warga di kampungnya “sukses” pulang kampung dengan penampilan perlente. Ia pun hijrah ke Jakarta untuk menjadi pekerja rumah tangga pada 1987.

 Naik jabatan karena buku

Menjadi rewang (PRT) adalah tugas yang disanggupi Kiswanti. Ia tahu caranya menyapu, meski belum mahir mengepel, karena rumahnya di Bantul hanya beralaskan tanah. Melihat begitu banyak buku di rumah majikan, yang adalah warna negara Filipina, Kiswanti semakin betah. Ia bahkan hanya minta digaji dengan buku.

 “Sebagian koleksi buku tuan saya, adalah buku yang saya inginkan. Saya minta digaji buku dan dikasih ongkos pulang kampung saja,” katanya.

Meski pada awalnya sang majikan marah dan curiga, setelah Kiswanti menjelaskan dirinya, ia justru naik pangkat. Tugasnya kini bukan lagi PRT tetapi babysitter. Kiswanti diminta menemani anaknya belajar matematika dan bahasa Indonesia. Kiswanti pun menjadi paham tempat belanja buku murah di Kwitang, kawasan Senen Jakarta Pusat. Sang majikan lah yang membukanya jalan menuju surga belanja ala Kiswanti.

Koleksi buku lulusan SD yang berprofesi sebagai PRT dan babysitter ini berjumlah 1.500 buah hingga tahun 1987. Kiswanti memutuskan kembali ke Bantul. Namun nasib berkehendak lain. Kiswanti menerima tawaran Ngatimin untuk menikahinya.

“Pria ini adalah orang ke-19 yang mengajak saya menikah, dan saya terima,” aku Kiswanti yang menikah pada usia 26 tahun pada Agustus 1987

Kesabaran dan kepintaran yang didapat dari membaca buku menjadi bekal Kiswanti (47), dalam menjalani kehidupan yang sarat kemiskinan dan penolakan, sejak usia belia. Perempuan lulusan Sekolah Dasar (SD) ini dinobatkan sebagai “Pahlawan Pustaka” dari ajang penghargaan untuk masyarakat, yang hidup dengan penuh semangat untuk memberdayakan dirinya dan orang lain.

 Pasangan yang menguatkan

Menikahi Ngatimin, membuka perjalanan baru bagi Kiswanti. Ngatimin, yang bekerja sebagai buruh, membawa istrinya yang seorang pecinta buku bertualang dari bedeng ke bedeng.

 Kiswanti menjalani pernikahan dengan saling menguatkan bersama suami. Ibu dari Afief Riyadi (20) dan Dwi Septiani (15), sengaja membuat surat perjanjian pranikah, sebagai bentuk penguatan keluarga.

 “Meski telah menikah, saya ingin tetap bekerja dan membeli buku dari penghasilan saya. Inilah yang melatari perjanjian pranikah yang ditandatangani suami,” akunya.

Kiswanti terinspirasi oleh para biarawati yang mengabdikan diri melakukan sesuatu untuk kebaikan orang lain. Perempuan yang gemar membaca buku manajemen, inspirasi dan cerita anak ini, selalu ingin mewujudkan mimpinya, berbuat sesuatu melalui buku.

Pemahaman tentang pentingnya perjanjian pranikah didapatnya dari membaca majalah wanita. Perempuan, katanya, kalau sudah menikah seringkali menjadi konco wingking dalam masyarakat Jawa. Artinya, perempuan tidak bisa atau tidak boleh membuat keputusan, tidak bisa bersuara. Kegusaran inilah yang dirasakan Kiswanti hingga akhirnya menerbitkan surat perjanjian bersama suaminya.

 Ada empat syarat yang harus dipenuhi Ngatimin, suaminya, yakni:

* Kuswanti boleh bekerja dan hasil kerjanya untuk koleksi buku, mewujudkan mimpinya membangun sekolah dan perpustakaan gratis.

* Pengasuhan anak dan urusan rumah tangga adalah tanggung jawab bersama, dan dilakukan tanpa terpaksa.

* Tidak ada kekerasan dalam rumah tangga, fisik maupun psikis.

* Komitmen pada pernikahan, meski dalam situasi sulit sekalipun.

 “Perjanjian ini ditandatangani pada 5 Agustus 1987 pukul 10.25 di atas materai termahal saat itu, Rp 3.000,” jelas Kiswanti.

 Kiswanti membutuhkan perjanjian ini hanya karena ingin penguatan dalam rumah tangganya. Maklum, kecintaan pada buku dan pengalaman masa kecilnya, membuatnya lebih nyaman jika menikah dengan kesepakatan.

 “Saya ingin nyaman dalam pernikahan ke depan. Apapun yang akan dihadapi nanti, dengan adanya perjanjian ini, pernikahan akan lebih kuat karena kami menjaga komitmen,” jelasnya.

 Beruntung, Kiswanti bertemu suami yang mengerti keinginan istrinya, untuk mengabdikan diri melalui buku.

 Latar belakang keluarga juga menjadi alasan lain Kiswanti membuat perjanjian dengan suaminya. Orangtua biologis Kiswanti bercerai setelah melahirkan anak pertama, yakni Kiswanti.

 “Ayah dan ibu menikah karena terpaksa, untuk menyenangkan orangtua. Mereka membuat kesepakatan, setelah memiliki anak pertama, keduanya akan kembali kepada pasangan masing-masing,” kisahnya.

 Pengalaman ini semakin terasa pahit, karena Kiswanti kerapkali disebut sebagai anak haram oleh keluarga barunya. Meski, ayah tirinya, Trisno, tak pernah membedakan Kiswanti dengan empat anaknya yang lain.

 Cemoohan, hinaan, dan perlakuan semena-mena kerapkali dialami Kiswanti kecil, dengan keberadaannya sebagai anak tiri. Ditambah lagi dengan penampilan yang berbeda dari yang lainnya.

 “Saya berkulit hitam, tomboy, punya bekas cacar yang membuat wajah bopeng. Perbedaan ini membuat saya diperlakukan berbeda,” ujarnya.

 Kenyataan pahit harus ditelan mentah oleh Kiswanti sejak kecil. Penolakan demi penolakan sudah dirasakannya sejak kecil. Pesan Trisno, ayahnya, yang selalu menguatkan Kiswanti.

 “Bapak selalu menanamkan, kita, orang miskin saat dicaci, dihina, enggak usah menjawab. Percuma membalas, nanti (malah) sakit hati. Nrimo saja,” katanya mengingat ucapan ayahnya.

 Membangun mimpi di Parung

Setelah menikah, Kiswanti dan Ngatimin sempat tinggal di Jakarta. Namun, tinggal di pinggiran, dan selalu mengalami kebanjiran membuat Kiswanti kapok. Koleksi bukunya hilang dan rusak karena banjir. Mereka pun memutuskan pindah ke Kampung Saja, Desa Lebak Wangi, Parung, Bogor.

 Di Parung, Kiswanti mewujudkan mimpinya. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Parung pada 1994, Kiswanti tak patah arang mengenalkan buku dan kebiasaan membaca dan bercerita kepada anak-anak. Perjuangan yang termotivasi dari pengalaman pahit masa kecil membuahkan hasil. Kiswanti berhasil membangun taman bacaan pada 2003, diberi nama Warabal.

 “Saya enggak punya uang, tidak berpendidikan, tetapi dari membaca saya punya banyak pengetahuan. Seperti bunga yang tak pernah layu dan terus mekar,” Kiswanti menggambarkan semangatnya berbagi ilmu melalui buku.

 Kesulitan hidup sejak kecil yang dihadapi dengan sabar dan berbekal ilmu dari buku, menguatkan hati Kiswanti. Semangat inilah yang ingin dibaginya kepada anak-anak tak mampu di kampung barunya, Desa Lebak Wangi.

 

Penolakan berbuah kepercayaan

“Anak-anak adalah fokus utama saya. Saya ajak mereka bermain dan bersenang-senang. Membacakan buku cerita kepada mereka. Saat mereka sudah merasa senang, mulailah dikenalkan dengan buku,” papar Kiswanti yang mengaku didukung penuh oleh suami.

 Banyak anak kecil di Parung yang bermain tanpa pengarahan orangtua. Perilaku anak juga cenderung tak memiliki kesopanan. Mereka berbicara kasar dan kotor, bahkan kepada orangtuanya. Kondisi inilah yang memotivasi Kiswanti untuk melakukan perubahan.

 Kepercayaan tak datang begitu saja. Kiswanti mengalami penolakan dan cemoohan. Warga tak meyakini, lulusan SD, istri buruh yang seorang PRT ini bisa mendidik anak dengan buku.

 “Saya berusaha membaur dengan warga, meski kami masih terus diremehkan. Mengingat masa-masa ini saja melukai hati,” tutur Kiswanti yang tak sanggup melanjutkan kisahnya.

 Penolakan yang luar biasa ini membuat Kiswanti nyaris putus asa. Ayahnya, Trisno, menjadi tempat mengadu.

 “Pesan bapak, bersabarlah. Katanya, dengan cara ini, semua yang akan dilakukan nantinya berhasil. Jika saat ini langsung diterima, nantinya tidak akan bisa merasakan keberhasilan,” paparnya.

 Perlu waktu mengambil hati warga. Perlahan Kiswanti sukses menawarkan buku gratis untuk dibaca. Tempat tinggal yang tak jauh dari lokalisasi juga semakin kondusif untuk perkembangan anak-anak.

 “Warga sudah sepakat tidak menerima karyawan kos yang bekerja di lokalisasi. Anak-anak yang juga tak tahu siapa orangtuanya, karena ibunya bekerja di lokalisasi, kini semakin terjaga sikapnya,” tutur Kiswanti menggambarkan desanya mulai mengalami perubahan positif.

 Taman baca Warabal semakin membawa perubahan bagi masyarakat setempat. Terutama sejak publikasi media semakin banyak. Dukungan datang dari berbagai pihak. Donasi terus bertambah, seperti perlengkapan komputer yang dimanfaatkan untuk menjalankan program kursus gratis.

 Sebanyak 415 anak menikmati fasilitas yang disediakan taman baca Warabal, tanpa dipungut biaya. Ratusan anak di Kampung Saja, Parung inilah yang diharapkan Kiswanti bisa leluasa dan gembira belajar, menggali pengetahuan melalui membaca. Sementara, kaum ibu yang dilatih menyulam dan menjahit, berjumlah sekitar 20 orang. Jumlah ini rasanya bukan sekadar angka, namun juga menunjukkan kekuatan semangat ingin berbagi dari Kiswanti yang tak ingin anak-anak kesusahan mengakses pendidikan.

 Kiswanti memang belum mewujudkan mimpinya yang satu lagi, memiliki sekolah gratis. Namun, perempuan sederhana dari desa ini menunjukkan, kesabaran, keteguhan hati, dan kepintaran yang didapat dengan rajin membaca buku, membawanya pada keberhasilan menyediakan pendidikan gratis.

 “Perjalanan hidup saya bukan kebetulan, tetapi sudah ditakdirkan. Saya ditentukan lahir dari keluarga miskin, dengan masa kecil memprihatinkan. Nyaris tak bisa mengecap sekolah jika tidak nekad hingga lulus SD. Menjadi orang susah yang sangat hina, bahkan menginjak bumi pun seperti tak punya hak. Semua pengalaman ini saya syukuri, dan tidak lantas membuat saya terpuruk. Selalu ada cara jika ingin maju,” tandas Kiswanti yang berhasil menularkan semangat mencerdaskan bangsa, berbekal pengetahuan yang bersumber dari buku. (Habis)

 Sumber: http://female.kompas.com/read/2010/11/08/17570362/Kiswanti.Berbekal.Sabar.dan.Pintar..Bagian.I-12

Pertanianku — Fenomena harga cabai yang melambung tinggi terjadi lagi. Ikatan Pe [...]

Pertanianku — Komoditas perkebunan memiliki kontribusi besar dalam peningkatan e [...]

Pertanianku — Kementerian Pertanian (Kementan) menilai, pupuk menjadi kunci kema [...]

Pertanianku — Beragam jenis tanaman buah biasa dibudidayakan dengan berbagai car [...]

Pertanianku — Cara menyuburkan tanah bisa dilakukan dengan pemberian pupuk. Sela [...]

Pertanianku — Penggunaan bahan alami untuk menyuburkan tanah sudah digunakan sej [...]

Pertanianku — Bagaimana trik agar jagung manis berbuah lebat? Ya, siapa yang tid [...]

Pertanianku — Ada beberapa jenis anggur yang tersebar di seluruh dunia. Salah sa [...]

Pertanianku — Bisnis beternak ayam kampung sangat menjanjikan. Bagaimana tidak? [...]

Pertanianku — Sejak dulu, daun jambu biji dipercaya dapat mengatasi diare. Untuk [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10001 milliseconds