Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
Kemiskinan adalah Maut | binaswadaya.org      

Kemiskinan adalah Maut

Riset yang dipublikasikan Oxfam sesaat menjelang forum ekonomi dunia di Davos amat menyakitkan. Satu persen populasi dunia akan memiliki 50 persen kekayaan global.

Studi yang dibuat organisasi bantuan humaniter Inggris, Oxfam itu menjadi peringatan kepada pemimpin dunia yang berkumpul di Davos, Swiss untuk menggelar pertemuan ekonomi tahunan membahas situasi aktual dunia. Pada pokoknya, dalam tema ini tidak ada yang memuaskan.

Jurang antara kaya dan miskin sekarang ini jauh lebih lebar lagi dibanding 30 tahun silam. Konsekuensinya, makin banyak warga dunia tidak memiliki akses menuju kemakmuran yang diciptakan peradaban.

Lebih tegasnya lagi, satu persen orang-orang terkaya dunia, dalam waktu dekat akan menguasai 50 persen dari seluruh kekayaan global. Konkretnya: 80 orang terkaya dunia makin meningkatkan harta kekayaannya, hingga mencapai 1,9 trilyun US Dollar atau naik 600 milyar US Dollar dalam kurun waktu hanya empat tahun. Dalam waktu bersamaan, andil rakyat miskin yang mencakup separuh populasi dunia terhadap kemakmuran juga semakin menurun.

Ini adalah sanggahan keras terhadap teori “Trickle Down” yang diusung sejumlah sekolah tinggi ekonomi terkemuka. Teori meyakini: keuntungan pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati orang kaya dan kelas pengusaha, melainkan juga menetes hingga segmen buruh miskin.

Oxfam juga mengingatkan kita semua, bahwa uang pajak rakyat awam di seluruh dunia yang menyelamatkan sistem moneter dunia dari keruntuhan akibat guncangan krisis perbankan di tahun 2008. Tapi setelah itu, perusahan multinasional tidak berbuat banyak untuk membagi keuntungan produktifitas kepada para buruhnya.

Tapi, apakah kita bisa mengharapkan para pemimpin dunia menanggapi sinyal peringatan ini? Apakah diskusi di Davos akan difokuskan pada upaya memerangi kemiskinan global, yang berarti melemahkan argumen bahwa kemiskinan menyeret orang ke jalur terorisme?

Jangan berharap muluk. Para pemimpin dunia yang bertemu di Davos, dengan disertai para tokoh kaya dan terkenal di dunia bisnis, dapat dipastikan akan membahas hal-hal yang sama seperti tahun sebelumnya. Mereka akan kembali menunjukkan ekpresi serius di depan media, dengan menyatakan jurang yang menganga antara kaya dan miskin merupakan sebuah masalah paling serius dalam peradaban. Tapi mereka tidak akan mengambil tindakan yang diperlukan.

Ketidak pedulian para pimpinan politik ini, dapat dimengerti dari perspektif mereka. Karena kebanyakan dari mereka berasal dari negara barat, di mana kemiskinan walaupun tampak jelas, tapi juga relatif.

Peluang untuk memberantas kemiskinan di seluruh dunia dalam 20 hingga 30 tahun ke depan tidaklah menggembirakan. Juga beban memberantas kemiskinan yang ditimpakan kepada pemerintahan atau kalangan bisnis, tidak bisa diselesaikan dalam jangka pendek. Aksi semacam itu juga tidak akan membantu upaya mereka untuk terpilih kembali.

Tokoh politik bersangkutan mungkin sudah lengser cukup lama, sebelum kemajuan substansialnya tampak. Tema politik panas, yakni terorisme pasca serangan di Paris dipastikan akan ramai dibahas di Davos. Tidak diragukan lagi, kita akan dibombardir pernyataan serius untuk memerangi terorisme global. Tapi jangan dilupakan, bahwa terorisme juga mengakar pada kemiskinan.

Para pemimpin di Davos diharapkan menyusun agenda untuk generasi mendatang. Termasuk mendiskusikan langkah yang diperlukan untuk mendongkrak ekonomi global. Namun agenda semacam itu, juga harus merancang bagaimana agar kalangan paling miskin bisa memetik manfaat lebih banyak.

Artinya pembangunan harus sukses dan peluang pendidikan harus meningkat. Banyak cara untuk mencapai tujuan ini. Dengan begitu, warga paling miskin tidak akan selalu mencari jalan keluar lewat terorisme. Harian The Guardian

http://www.dw.de/kemiskinan-adalah-maut/a-18202448

Pertanianku — Beragam jenis makanan sehat banyak menjadi asupan pada saat seseor [...]

Pertanianku — Menghilangkan bekas getah pisang pada baju cukup sulit dilakukan. [...]

Pertanianku — Jeruk memiliki keunikan rasa manis dan asam yang membuatnya terasa [...]

Pertanianku — Bawang merah dan cabai merupakan dua jenis tanaman yang bernilai e [...]

Pertanianku — Ayam arab adalah ayam jenis petelur unggul yang banyak diidolakan [...]

Pertanianku — Tanaman bunga kerap dijadikan tanaman penghias pekarangan rumah. N [...]

Pertanianku — Trik menyimpan buah pisang bisa diterapkan agar buah ini bisa disi [...]

Pertanianku — Buah plum digemari karena dipercaya bisa membantu menurunkan berat [...]

Pertanianku — Biasanya, konsumen menyukai membeli buah yang belum terlalu matang [...]

Pertanianku — Penyakit tular tanah terdiri atas berbagai jenis jamur, bakteri, n [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10000 milliseconds