Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
Kelompok Tani Lewowerang (KTL) : Perkawinan Koperasi dengan Gemohing | binaswadaya.org      

Kelompok Tani Lewowerang (KTL) : Perkawinan Koperasi dengan Gemohing

(Penerima Kusala Swadaya 2013, Kategori Kelompok Swadaya Masyarakat)  

Kelompok Tani Lewowerang (KTL) adalah salah satu lembaga pelayanan ekonomi masyarakat yang selama ini telah berpartisipasi membantu mengurus tenaga kerja, perkiosan, simpanan dan pinjaman tenaga kerja, telah  tumbuh dan berkembang di masyarakat serta mengambil bagian penting dalam pemberdayaan usaha mikro dilingkungannya. Anggota KTL terdiri dari Pokmas-pokmas Tani, kelompok perempuan, kelompok tukang dan orang perorangan.

 KTL berawal dari ide Kamilus (sang penggagas dan pendiri KTL) untuk membangun sebuah badan usaha milik rakyat yang mencakup usaha simpan pinjam, koperasi produksi, koperasi konsumsi, hingga manajemen sumberdaya manusia (crowed sourcing). Kamilus lahir di Witihama, Adonara pada 5 Oktober 1964. Di sana juga ia tamatkan pendidikan SD hingga SMU, meski sempat setahun di SMU Sapensia Kupang. Pada 1985, Kamilus membatalkan niatnya masuk perguruan tinggi. Ia memilih pulang kampung, menjadi guru honorer fisika pada SMP dan SMU di WitihamaIa. Pada 1990, ia diterima kerja di kantor cabang Ally Azran Holding di sebuah kota pelabuhan Malaysia. Ally Azran Holding bergerak di bidang ekspor-impor dan expedisi.

 Pada 1996 Kamilus dipercaya membuka cabang di Kota Kinabalu, negara bagian Sabah, dan menjadi manajer di sana. Tahun 2000 Kamilus memutuskan pulang kampung. Pertama tiba di Flores Timur, Bupati Feliks Fernandes menawarinya posisi manajer Flotim TV. Awalnya Kamilus menyambut baik, dan membentuk CV. Elco sebagai badan hukum yang mengelola Flotim TV (2000-2003) dan tahun 2003 Kamilus akhirnya mengundurkan diri. Ia memilih menjadi petani di kampungnya, Desa Tuwa Goetobi. Tinggal di kampung, Kamilus menemukan ide membangun sebuah badan usaha milik rakyat yang mencakup: usaha simpan pinjam, koperasi produksi, koperasi konsumsi, hingga manajemen sumber daya manusia (crowed sourching).

 Ide membangun badan usaha milik rakyat muncul dari pengalaman Kamilus saat bekerja sebagai TKI di Malaysia. Ia melihat ada yang tidak beres dengan sistem ekonomi yang ada. Seorang toke (majikan) bisa kaya raya hanya dengan menggaji seorang manajer dan banyak buruh untuk menjalankan usaha. Ia tidak perlu bekerja keras, karena kerja keras itu urusan buruh. Ia juga tidak perlu memiliki kecakapan manajemen, karena ada manajer. Kamilus berpikir, jika rakyat bisa menghimpun modal, rakyat bisa menjadi majikan perusahaan, dan kekayaan yang selama ini mengalir ke segelintir pemilik modal bisa terbagi merata kepada rakyat. Sejak 2004 ia memasarkan gagasannya; mengajak diskusi banyak orang; melakukan uji coba dengan beberapa kelompok tani di Adonara. Banyak orang menganggap mimpinya terlalu mengada-ada. Ada pula kelompok tani yang mencobanya tetapi gagal. Kamilus sudah nyaris berputus asa ketika menjelang Hari Raya Paskah 2010, sekelompok anak muda dari Karangtaruna Desa Tuwa Goetobi memintanya menghidupkan kembali gagasannya. Karena keyakinannya yang mulai pudar akan keberhasilan penerapan gagasan itu, ia memberi syarat dalam waktu satu hari para pemuda harus bisa mengumpulkan 30 orang untuk pertemuan awal. Satu malam kemudian, 32 orang pemuda hadir dalam rapat, mendengarkan presentasi gagasan Kamilus. Mereka sepakat menamakan organisasi mereka Kelompok Tani Lewowerang (KTL).

 Ia memimpikan suatu saat nanti kartu anggota KTL berfungsi layaknya uang. Cukup dengan menunjukkan kartu itu, anggota bisa memberi barang atau jasa dari anggota lainnya, mirip kartu kredit. Kini anggota Kelompok Tani Lewowerang sekitar 400an orang, tersebar di Adonara, Larantuka, Lewolewa, bahkan Malaysia dan Papua. Selain kantor pusat di Desa Tuwa Goetobi, KTL telah membuka 3 kantor cabang: 2 di Desa Pledo, 1 di Desa Lamabunga. Dalam waktu setahun, modal koperasi telah mencapai Rp 100juta. Sepintas KTL seperti koperasi pada umumnya.

Setiap anggota wajib menyetor Rp 100.000 simpanan pokok, Rp 10.000 per bulan simpanan wajib, dan simpanan sukarela. Tetapi tidak seperti umumnya koperasi, KTL menolak disebut koperasi.

 Menurut Kamilus, praktik koperasi, terutama koperasi simpan pinjam di Indonesia menyesatkan. Untuk meningkatkan hasil usaha, anggota didorong terus meminjam, meski pinjaman itu untuk kebutuhan konsumtif. Alih-alih mensejahterakan rakyat, koperasi justru menyebabkan anggotanya terlilit utang sehingga menjual aset. Untuk menghimpun modal tanpa menyebabkan anggota terlilit utang, KTL menyediakan sejumlah layanan, antara lain: Penyertaan Modal Usaha, Simpan Pinjam Tenaga Kerja, Pembelian Komoditi Anggota, Kios Koperasi, Tabungan Pendidikan dan Group Pemadam Kebakaran. Gagasan Kamilus dengan KTL-nya sangat cemerlang, karena secara sederhana mampu mengatasi problem perekonomian mente, mengatasi kelemahan koperasi kredit, memoderenkan tradisi gemohing (gotongroyong) yang sangat kuat di Adonara, membuktikan bahwa sistem ekonomi yang didasarkan pada solidaritas antar warga sangat mungkin untuk dipraktikkan, dan menerapkan prinsip local exchange trading system (LETS)

 Mengapa KTL disebut koperasi unik? KTL unik, pertama karena para pendiri dan anggotanya menolak kelompoknya disebut koperasi, meskipun sejatinya ia sebuah koperasi. Kedua, KTL unik karena yang ditabung dan dipinjam bukan hanya uang, tetapi terutama sumber daya manusia. KTL mampu membuktikan, sangat mungkin bahwa perekonomian dijalankan dengan landasan solidaritas antar warga untuk  meningkatkan kesejahteraan bersama. Gagasan mengembangkan sistem perekonomian seperti ini ternyata sangat realistis, karena terbukti sejak didirikan pada 2010, anggota KTL kini telah berjumlah lebih dari 400 orang. KTL berencana untuk melakukan investasi pada perusahaan peternakan babi dan percetakan batako yang dimiliki dan dikelola secara kolektif. Kedua jenis usaha itu sesuai dengan potensi yang ada di Honihama/Desa Tuwagoetobi, tempat paling banyak anggota KTL tinggal. Jika rencana ini berjalan, sebagian anggota akan memiliki pekerjaan tetap, dan jumlah yang bergantung pada pekerjaan harian –pesanan anggota—bisa dikurangi. Kehadiran KTL sudah banyak membantu meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat desa di mana KTL berada. Sekadar contoh, seorang janda telah terbantu oleh kehadiran KTL di desanya. Si ibu yang ditinggal mati sang suami mendapat warisan tanah luas namun tidak tergarap karena ketiadaan modal membiayai tenaga kerja. Layanan “simpan-pinjam tenaga kerja” yang disediakan KTL memastikan lahan-lahan tak tergarap itu berubah menjadi sumber kesejahteraan.

Pertanianku — Cara memberantas rumput liar sebenarnya mudah. Tetapi, jenis gulma [...]

Pertanianku — Apakah Anda salah satu pencinta tanaman kaktus hias? Tanaman yang [...]

Pertanianku — Tanaman hias tak hanya diletakkan di taman ataupun sudut ruang tam [...]

Pertanianku — Bisnis peternakan ayam selalu menjadi incaran peternak pemula. Kin [...]

Pertanianku — Berkebun merupakan kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat untuk [...]

Pertanianku — Hortikultura diartikan sebagai tanaman kebun. Biasanya, tanaman ya [...]

Pertanianku — Ada berbagai cara mengupas kiwi yang bisa Anda lakukan sebelun men [...]

Pertanianku — Proses pematangan mangga seringkali belum sempurna ketika buah ini [...]

Pertanianku — Kolam ikan akan lebih hidup jika ditambahkan dengan tanaman hias a [...]

Pertanianku — Fenomena harga cabai yang melambung tinggi terjadi lagi. Ikatan Pe [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10001 milliseconds