Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
Kecilnya lahan petani membuat sektor pertanian tertinggal | binaswadaya.org      

Kecilnya lahan petani membuat sektor pertanian tertinggal

Kecilnya luasan lahan pertanian yang dimiliki oleh petani menjadi salah satu faktor masih tertinggalnya sektor pertanian Indonesia dibanding negara maju.

“Meningkatkan luasan lahan, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah tidak memperbanyak jumlah petani tetapi memaksimalkan petani yang ada,” ujar Wakil Rektor bidang Sumberdaya dan Kajian Strategis Institut Pertanian Bogor, Prof Hermanto Siregar.

Prof Hermanto mengemukakan hal itu saat ditemui usai acara forum ambasador dengan tema “Kebijakan perdagangan pertanian” bersama Duta Besar New Zealand di IPB Convention Center, Kota Bogor, Senin.

Hermanto mengatakan, selama ini banyak pihak beranggapan memperbanyak jumlah petani dengan regenerasi dapat meningkatkan sektor pertani. Namun situasi tersebut justru memperkecil luas lahan pertanian yang ada.

Ia mencontohkan, rata-rata petani di Indonesia memiliki lahan 0,3 hektar per petani khususnya di Pulau Jawa. Jika satu petani memiliki anak dua sampai tiga orang, dan semuanya memilih menjadi petani, maka luas lahan pertanian yang dimiliki petani semakin berkurang dengan adanya pembagian warisan.

“Tetapi jika anak petani ini diarahkan melalui peningkatan pendidikan, kuliah dan bekerja di sektor lain di luar pertanian, tetapi masih berkaitan dengan pertanian misalnya infrastruktur, pemupukan. Maka potensi menyempitnya luasan lahan pertanian bisa diantisipasi,” ujar Hermanto.

Dengan mengoptimalkan jumlah petani yang ada dan memberikan kesempatan anak-anak petani mengeyam pendidikan yang layak, hingga mampu bekerja disektor non pertanian, memberikan peluang untuk pengembangan sektor agraria dengan adanya anak-anak petani yang memperkuat ekonomi orang tuannya.

Hal ini juga mendorong orang tuanya yang sudah menjadi petani tetap mempertahankan luasan lahan pertaniannya. Bahkan jika memiliki kelebihan dana bisa berpotensi untuk memperluas lahan pertaniannya.

“Agar petani tidak tergiur menjual lahan pertaniannya, perlu ada regulasi tegas tentang tata ruang agar lahan-lahan pertanian dipertahankan tidak tergerus konfersi lahan,” ujar Hermanto.

Beberapa negara maju seperti New Zealand, Inggri, Jepang dan Taiwan, kepemilikan lahan pertanian masing-masing petani cukup besar, satu petani bisa memiliki 2,5 hektar bahkan 45 hektar dan lebih.

Struktur pertaniannya juga sudah bagus, dimana para petani sudah berbentuk korporasi gabungan dari sejumlah petani-petani lain sehingga lebih kuat baik dalam produksi maupun pemasaran.

Bila dibandingkan di Indonesia, 36 persen pendudukan bekerja sebagai petani, tetapi yang menikmati hasilnya hanya 14 persen dari produk domestik bruto (GDP).

Tingkat kemakmuran petani di Indonesia hanya 1/3 persen, artinya masih banyak petani miskin-miskin.

“Ini harus diubah, kita harus melakukan transformasi melalui tahapan-tahapan pertama membenahi dulu pertaniannya, mulai dari kebijakan pemasaran. Kita harus mentrasfer petani, pendidikannya,” ujar Hermanto.

Menurut Hermanto, mendidik anak-anak petani menjadi pengusaha pengelolaan hasil pertanian, melalui beasiswa pendidikan dapat menjadi salah satu solusi.

Kondisi demikian telah dilakukan oleh Jepang dan Taiwan, dengan mengecilkan jumlah petani, tidak ada fregmentasi warisan tanah. Sehingga jumlah petani berkurang namun kualitas meningkat baik jumlah lahan maupun mutu petani.

“Pemerintah juga harus mengatur kepemilikan lahan, tidak boleh diturunkan lagi dari 0,3 hektar diwariskan ke anak. Transformasi, anak-anak petani harus digiring masuk sektor formal,” ujarnya,

Senada dengan Profesor Hermanto, Direktur Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian IPB, Dr Dodik R Nurrochmat menyebutkan, kegalauan pertanian yang semakin sedikit tidak perlu dirisaukan.

“Tetapi yang harus dirisaukan adalah luas lahan pertanian yang semakin berkurang, akibat banyaknya jumlah pertanian, adanya sistem warisan, sehingga lahan pertanian menjadi semakin mengecil,” ujar Dodik.

Menurut Dodik, jika jumlah pertani diperkecil, dapat mendorong luasan lahan pertanian. Karena luas lahan petani saat ini yang masing-masing memiliki 0,3 hektar dapat dipertahankan oleh petani karena tidak perlu mewariskan ke anak-anaknya yang sudah mapan.

“Anak-anak petani harus ditingkatkan kualitas pendidikannya diarahkan untuk bekerja di luar petani tetapi tetap di sektor pertanian seperti mengelola hasil pertanian,” ujarnya.

Dodik menambahkan, ada banyak beasiswa yang bisa dimanfaatkan anaka-anak petani untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Salah satunya IPB yang siap mencetak anak-anak petani menjadi pengusaha di sektor pertanian. (*)

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/431662/kecilnya-lahan-petani-membuat-sektor-pertanian-tertinggal

Pertanianku — Fenomena harga cabai yang melambung tinggi terjadi lagi. Ikatan Pe [...]

Pertanianku — Komoditas perkebunan memiliki kontribusi besar dalam peningkatan e [...]

Pertanianku — Kementerian Pertanian (Kementan) menilai, pupuk menjadi kunci kema [...]

Pertanianku — Beragam jenis tanaman buah biasa dibudidayakan dengan berbagai car [...]

Pertanianku — Cara menyuburkan tanah bisa dilakukan dengan pemberian pupuk. Sela [...]

Pertanianku — Penggunaan bahan alami untuk menyuburkan tanah sudah digunakan sej [...]

Pertanianku — Bagaimana trik agar jagung manis berbuah lebat? Ya, siapa yang tid [...]

Pertanianku — Ada beberapa jenis anggur yang tersebar di seluruh dunia. Salah sa [...]

Pertanianku — Bisnis beternak ayam kampung sangat menjanjikan. Bagaimana tidak? [...]

Pertanianku — Sejak dulu, daun jambu biji dipercaya dapat mengatasi diare. Untuk [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10001 milliseconds