Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
Bagaimana Menggapai Pertumbuhan Kredit 17%? | binaswadaya.org      

Bagaimana Menggapai Pertumbuhan Kredit 17%?

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan target pertumbuhan kredit 15-17% pada 2015. Bagaimana meraih target pertumbuhan kredit nasional setinggi itu di tengah krisis likuiditas?

Mari kita amati dulu kinerja Kelompok bank umum. Kelompok bank umum itu merupakan representasi enam kelompok bank Kelompok bank persero, bank umum swasta nasional (BUSN) devisa, BUSN non-devisa, Bank Pembangunan Daerah, bank campuran dan bank asing.

Statistik Perbankan Indonesia yang terbit 20 Februari 2015 menunjukkan kredit tahunan tumbuh 11,66% dari Rp3.158,10 triliun per Desember 2013 menjadi Rp3.526,37 triliun per Desember 2014. Dana pihak ketiga tumbuh lebih subur daripada pertumbuhan kredit yakni 12,02% dari Rp3.520,62 triliun menjadi Rp3.943,70 triliun. Target pertumbuhan kredit 15-17% itu boleh dikatakan terlalu tinggi ditilik dari pertumbuhan kredit yang “hanya” 12,02% per Desember 2014.

Namun pertumbuhan itu belum mampu menebalkan loan to deposit ratio (LDR) malah menipis dari 89,70% menjadi 89,42%. Namun, rasio ini termasuk rasio ideal 78-90%. Artinya, bank umum mampu mengemban fungsinya sebagai intermediasi keuangan.

Bahkan bank umum masih mampu meningkatkan laba sebelum pajak 6,09% dari Rp134,57 triliun menjadi Rp142,77 triliun di tengah ketatnya likuiditas. Sayangnya, kenaikan laba itu belum dapat mendongkrak return on assets (ROA) tetapi malah menurun dari 3,08% menjadi 2,85% meski di atas ambang batas 1,5%. Data tersebut menyiratkan bahwa kualitas aset (asset quality) bank umum menurun.

Aneka Jurus Andalan

Lantas, jurus andalan apa saja yang perlu dimainkan untuk meraih target pertumbuhan kredit 15-17%?

Pertama, mendorong pertumbuhan ekonomi tinggi. Pertumbuhan kredit perbankan tak lepas dari pertumbuhan ekonomi. Pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi 5,7% pada 2015. Ini target optimis lantaran pertumbuhan ekonomi ”hanya” 5,01% per Desember 2014.

Bagaimana pertumbuhan ekonomi Indonesia dibanding negara ASEAN? Vietnam menjadi juaranya dengan pertumbuhan ekonomi 6,96% (November 2014), Filipina 6,90% (Nov), Malaysia 5,60% (Agu), Singapura 1,50% (Nov) dan Thailand 0,60% (Agu). Sementara negara BRICS: Brazil kontraksi (minus 0,20% (Agu), Rusia 0,70% (Agu), India 5,30% (Agu), China 7,30% (Nov), Afrika Selatan 1,40% (Agu) sedangkan Inggris 2,70% (Nov), Korea Selatan 2,70% (Agu), AS 2,50% (Nov), Jerman 1,20% (Agu) dan Jepang minus 1,20% (Agu).

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, pemerintah mau tak mau wajib meningkatkan belanja modal (capital expenditures/capex). Hal ini dapat dimungkinkan mengingat kini pemerintah memiliki ruang fiskal besar sekitar Rp250 triliun yang bersumber dari pencabutan subsidi bahan bakar minyak (BBM). Apalagi Dewan Perwakilan Rakyat telah menyetujui penyertaan modal negara (PMN) Rp37,28 triliun dari usulan pemerintah Rp48,01 triliun kepada 27 badan usaha milik negara (BUMN).

Namun pemerintah juga perlu menggenjot penyerapan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) secara proporsional. Data menunjukkan bahwa penyerapan anggaran negara hingga 31 Desember 2014 baru mencapai Rp1.764,6 triliun (94,02%) dari target APBN-P 2014 sebesar Rp1.876,9 triliun. Peningkatan penyerapan anggaran negara itu dapat ditingkatkan melalui pemerintah daerah.

Kedua, menggenjot proyek infrastruktur. Kajian Bappenas pada 2014 menunjukkan nilai incremental capital output ratio (ICOR) Indonesia 5,12. ICOR sebagai indikator makro tentang kemampuan belanja modal termasuk infrastruktur dalam mendongkrak ekonomi. ICOR 5,12 berarti setiap pertumbuhan 1% perekonomian nasional, Indonesia membutuhkan 5,12% pertumbuhan investasi dan infrastruktur. Semakin besar ICOR, belanja modal akan semakin tidak efektif sebab ICOR ideal 3% (Republika, 18 Desember 2014).

Maka, ruang fiskal yang besar itu hendaknya lebih diprioritaskan untuk membiayai proyek infrastruktur seperti jalan tol laut, bandara, jalan tol, irigasi, jembatan, jalan kereta api, tenaga listrik. Di sinilah bank nasional dituntut untuk meningkatkan pengucuran kredit ke proyek infrastruktur.

Salah satu hambatan proyek infrastruktur adalah lambatnya pembebasan tanah. Hal ini akan menambah pencairan kredit yang sudah disetujui tetapi belum dicairkan (undisbursed loan) yang kini mencapai Rp1.137,50 triliun per Desember 2014. Bagi bank, kian cepat kredit cair, kian deras pula pendapatan dari bunga kredit (interet income). Sudah sepatutnya, hambatan itu menjadi perhatian serius pemerintah mengingat infrastruktur yang baik akan menunjang kelancaran transportasi untuk menekan laju inflasi.

Ketiga, mengendalikan inflasi. Menurut Bank Indonesia (BI), sasaran inflasi 4% plus minus 1% pada 2015. Hal itu diharapkan menjadi acuan bagi pelaku usaha dan masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonomi.

Inflasi yang kini menyentuh 6,96% per Januari 2015 anjlog dari 8,36% per Desember 2014 dan amat diharapkan lebih terkendali sehingga dapat menekan suku bunga acuan BI Rate pada level 5%. Setelah bertahan 7,5% sejak 12 November 2013, BI Rate naik menjadi 7,75% per 18 November 2014 menyusul kenaikan harga BBM lalu kembali lagi 7,5% per 18 Februari 2015.

Suku bunga acuan yang rendah akan mencegah perang suku bunga deposito yang sempat menyentuh dua digit. Hal ini mendorong OJK untuk menetapkan batas atas suku bunga deposito efektif 1 Oktober 2014. Suku bunga deposito maksimal 200 bps dan 225 bps di atas BI Rate atau 9,5% dan 9,75% masing-masing untuk bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV dan III untuk deposito di atas Rp2 miliar. Aturan itu tak berlaku bagi BUKU I dan II.

Intervensi regulator moneter pun pernah terjadi pada 20 Agustus 2009. Saat itu, BI mengadakan kesepakatan dengan 14 bank nasional papan atas agar menurunkan bunga kredit 150 basis poin (bp) (1,5%) di atas BI Rate 6,5% untuk tiga bulan ke depan. Akibatnya, efektif 20 November 2009, BI mematok bunga deposito maksimal 7% untuk memacu penurunan bunga kredit rata-rata yang mencapai 14,04% per November 2009.

Kesepakatan ini memperoleh sambutan baik bank nasional sehingga bunga kredit rata-rata menurun menjadi 13,02% per Maret 2010. Kini suku bunga kredit rata-rata (rupiah) turun dari 12,85% per November 2014 menjadi 12,81% per Desember 2014 untuk kredit modal kerja dan dari 12,38% menjadi 12,36% untuk kredit investasi. Suku bunga kredit konsumsi naik dari 13,53% menjadi 13,58%.

Dengan suku bunga deposito yang terjangkau (affordable), maka suku bunga kredit dapat ditekan untuk tidak naik signifikan. Hal ini akan menurunkan biaya modal (cost of capital) bagi sektor riil sehingga dapat mengajukan tambahan kredit untuk ekspansi bisnis.

Sesungguhnya, OJK tidak perlu melakukan intervensi pada industri perbankan dengan menetapkan batas atas suku bunga deposito seperti itu. Itu justru menegaskan bahwa mekanisme pasar melalui suku bunga dasar kredit (SBDK) alias prime lending rates tidak berjalan mulus. Dengan bahasa lebih bening, OJK sudah selayaknya memperbaiki SBDK supaya berjalan lebih efektif.

Keempat, menekan defisit transaksi berjalan. Dari sisi fiskal, pemerintah harus mengendalikan transaksi berjalan agar tak defisit. Ketika defisit transaksi berjalan dapat ditekan sedemikian rendah, maka kebutuhan dollar AS untuk melakukan transaksi impor akan makin rendah. Nilai tukar rupiah otomatis bakal menguat.

Berbekal aneka jurus andalan demikian, pertumbuhan kredit diharapkan mampu tumbuh 15-17%. Roda bisnis pun akan berputar lebih kencang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional lebih tinggi.

ditulis oleh: Paul Sutaryono  (Anggota Pengawas Yayasan Bina Swadaya )

Pengamat Perbankan & Mantan Assistant Vice President BNI

Catatan: artikel itu dimuat harian Bisnis Indonesia pada 18 Februari 2015

Pertanianku — Cara memberantas rumput liar sebenarnya mudah. Tetapi, jenis gulma [...]

Pertanianku — Apakah Anda salah satu pencinta tanaman kaktus hias? Tanaman yang [...]

Pertanianku — Tanaman hias tak hanya diletakkan di taman ataupun sudut ruang tam [...]

Pertanianku — Bisnis peternakan ayam selalu menjadi incaran peternak pemula. Kin [...]

Pertanianku — Berkebun merupakan kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat untuk [...]

Pertanianku — Hortikultura diartikan sebagai tanaman kebun. Biasanya, tanaman ya [...]

Pertanianku — Ada berbagai cara mengupas kiwi yang bisa Anda lakukan sebelun men [...]

Pertanianku — Proses pematangan mangga seringkali belum sempurna ketika buah ini [...]

Pertanianku — Kolam ikan akan lebih hidup jika ditambahkan dengan tanaman hias a [...]

Pertanianku — Fenomena harga cabai yang melambung tinggi terjadi lagi. Ikatan Pe [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10001 milliseconds