Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
Babat Habis Kemiskinan, Petani Jangan Dilupakan | binaswadaya.org      

Babat Habis Kemiskinan, Petani Jangan Dilupakan

Pemerintah menargetkan ekonomi tumbuh di kisaran 6,4-6,6 persen dengan tekanan inflasi terkendali di level 4 persen, tahun depan. Hal itu dipaparkan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Andrinof Chaniago, saat musrenbangnas (musyawarah perencanaan pembangunan nasional).

“Kita optimistis karena melihat potensi yang dimiliki di darat maupun di laut,” ujar Andrinof kepada beberapa media.
Lebih jauh, dirinya menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional akan digenjot melalui percepatan pembangunan infrastruktur. Ia pun “pede” jika dengan pembangunan infrastruktur bakal membuka lapangan pekerjaan baru sehingga mampu menekan angka pengangguran.
“Kita juga optimistis angka kemiskinan akan turun mencapai 9-10 persen, begitu pun dengan pengangguran, akan turun menjadi 5,2-5,5 persen,” tuturnya.

Data terakhir BPS 2014, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 28,28 juta jiwa atau 11,25 persen dari keseluruhan penduduk Indonesia. Sementara angka pengangguran pada 2014 mencapai 7,4 juta jiwa.
Andrinof menyebut empat target yang akan dicapai pemerintah tahun depan. Mulai dari kedaulatan pangan, kedaulatan energi, kedaulatan maritim atau kelautan, hingga kedaulatan pariwisata dan industri.

“Tentunya disinergikan dengan lembaga tingkat pusat dan juga daerah sesuai dengan program musrenbangnas yang dibahas kemarin,” ucapnya.
Pemerintah berjanji tetap mengoptimalkan pelestarian lingkungan dan pengembangan ekosistem demi mendukung pertumbuhan ekonomi.
Sejahterakan Petani

Direktur Eksekutif Perkumpulan Prakarsa, Setyo Budiantoro, pernah mengatakan bahwa program Indonesia Kerja meliputi 25 juta keluarga produktif yang miskin dan rentan, program keluarga harapan untuk masa depan generasi dan memotong regenerasi kemiskinan diperluas mencakup enam juta rumah tangga, serta program tunjangan orang tua untuk dua juta keluarga berumur 65 tahun ke atas.
Menurutnya, dengan skema yang ditawarkan itu total nilai alokasi anggaran Rp 110 triliun, lebih kecil dari alokasi anggaran kemiskinan yang besarnya Rp 145 triliun pada 2015. Sisa anggaran bisa digunakan untuk program pendukung.

“Banyak program itu bagus, tetapi kalau digabungkan akan menjadi lebih bagus lagi. Jadi mesti dikonsolidasikan. Nantinya jika sudah dikonsolidasikan, harus fokus pada program big push pada keluarga miskin dan rentan. Dengan cara ini kami berharap angka kemiskinan bisa turun menjadi 1-3 juta orang per tahun,” paparnya.

Dirinya juga mengatakan bahwa kesalahan fatal negeri ini atas bertambahnya masyarakat miskin diakibatkan oleh pemerintah yang kurang memberi perhatian terhadap kaum petani desa. “Pemerintah masih kurang dalam menyejahterakan petani. Ini kesalahan yang amat fatal yang mengakibatkan kemiskinan bertambah,” ujarnya saat dihubungi citizendaily.net.

Dari total penduduk miskin 28,28 juta orang tersebut, sebanyak 10,5 juta orang berada di daerah perkotaan. Sisanya, atau sebesar 17,7 juta orang, berada di daerah pedesaan. Kemiskinan di daerah pedesaan memang selalu tinggi. Pasalnya, penduduk miskin di desa pada umumnya terjebak dengan tak memiliki modal, baik fisik maupun nonfisik. Dengan kata lain, tidak memiliki faktor produksi.
Di pedesaan, kebanyakan petani adalah penggarap yang masih harus membagi hasil dengan si empunya lahan. Praktis, pendapatan yang didapat oleh petani penggarap tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Petani penggarap pada umumnya tidak memiliki lahan sehingga tidak memiliki jaminan ketika akan meminjam modal ke bank. Jika ditarik lagi persoalannya, masalah ini pastilah berimbas pada kebijakan kredit usaha kecil dan menengah (UKM) yang masih belum tersentuh oleh seluruh lapisan masyarakat.

Fakta lain yang terdapat dalam kemiskinan di pedesaan adalah banyak penduduk usia muda yang merantau. Secara komposisi, penduduk miskin di desa umumnya berusia cenderung tua dan sudah tidak produktif. Tak heran bila persentase penduduk di desa yang didera kemiskinan lebih banyak.

Menurutnya, meski Jokowi memperhatikan soal ini, kebijakan yang dilakukan masih kurang. Beberapa daerah masih belum merata soal infrastruktur untuk para petani.

http://citizendaily.net/babat-habis-kemiskinan-petani-jangan-dilupakan/

Pertanianku — Beragam jenis makanan sehat banyak menjadi asupan pada saat seseor [...]

Pertanianku — Menghilangkan bekas getah pisang pada baju cukup sulit dilakukan. [...]

Pertanianku — Jeruk memiliki keunikan rasa manis dan asam yang membuatnya terasa [...]

Pertanianku — Bawang merah dan cabai merupakan dua jenis tanaman yang bernilai e [...]

Pertanianku — Ayam arab adalah ayam jenis petelur unggul yang banyak diidolakan [...]

Pertanianku — Tanaman bunga kerap dijadikan tanaman penghias pekarangan rumah. N [...]

Pertanianku — Trik menyimpan buah pisang bisa diterapkan agar buah ini bisa disi [...]

Pertanianku — Buah plum digemari karena dipercaya bisa membantu menurunkan berat [...]

Pertanianku — Biasanya, konsumen menyukai membeli buah yang belum terlalu matang [...]

Pertanianku — Penyakit tular tanah terdiri atas berbagai jenis jamur, bakteri, n [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10000 milliseconds