Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: preg_match_all() expects parameter 2 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4894

Warning: strpos() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: mb_substr() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-includes/functions.php on line 4899

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: dirname() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/polylang/modules/wpml/wpml-config.php on line 53

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201

Warning: basename() expects parameter 1 to be string, array given in /home/binaswad0307/public_html/bs3/wp-content/plugins/wp-optimize/wp-optimize.php on line 201
Alat yang Bantu Petani Tambak Udang Ciptaan Mahasiswa UGM ini Menang di India | binaswadaya.org      

Alat yang Bantu Petani Tambak Udang Ciptaan Mahasiswa UGM ini Menang di India

Sudah terbukti kalau orang Indonesia tak kalah dengan orang dari negara lain. Orang Indonesia kreatif dan mampu menciptakan alat sesuai dengan kebutuhan. Buktinya para mahasiswa UGM ini yang menciptakan alat bantu untuk petani tambak udang. Dan mereka pun menang di kompetisi internasional di India.

Menurut keterangan Humas UGM, Rabu (6/5/2015), dua orang Mahasiswa Fakultas Teknik UGM, Ridwan Wicaksono dan Imadudin Madjid berhasil menang di Kompetisi Teknologi dan Inovasi Internasional, The ASME Innovation Showcase, di India pada 19-21 April lalu.

Kompetisi itu diiikuti 55 tim dari berbagai perusahaan, komunitas dan mahasiswa, Tim mahasiswa UGM yang menjadi satu-satunya wakil dari Indonesia ini lolos masuk 12 besar, berhasil jadi pemenang bersama dua pemenang lainnya dari perusahaan asal India. Selain mendapat penghargaan, pemenang kompetisi ini mendapat hadiah berupa uang senilai 15 ribu dollar Amerika atau sekitar Rp 200 juta.

OLYMPUS DIGITAL CAMERARidwan dan Imaduddin mengaku tidak menyangka jika alat yang mereka ciptakan akan menang dalam kompetisi internasional yang diikuti berbagai perusahaan teknologi. Alat tersebut dibuat kurang lebih 3 bulan yang awalnya sengaja diperuntukan untuk membantu petani tambak udang di pantai parangkusumo Bantul.

“Petani tambak di pantai selatan Jawa tersebut mengeluh karena mengalami kerugian cukup besar akibat banyak udang vaname yang mati sebelum berhasil dipanen. Padahal udang tersebut umumnya dijual untuk ekspor. Kita diundang bagaimana cara mengatasinya,” kata Ridwan, mahasiswa S2 Teknik elektro UGM ini saat ditemui di ruang Fortakgama, kantor pusat Universitas Gadjah Mada.

Meski para mahasiwa ini tidak memiliki pengetahuan luas dalam bidang perikanan, Ridwan bersama dengan rekan mahasiswa lainnya yang berjumlah sekitar 10 orang akhirnya berdiskusi untuk memecahkan masalah yang dihadapi petani dengan difasilitas salah satu perusahaan yang bergerak di bidang agrikultur.

Hingga akhirnya, penyebab kematian udang diketahui akibat keterlambatan petani dalam mengetahui kondisi abnormal air kolam. Apabila kolam tambak udang tersebut kekurangan oksigen, kelebihan kadar garam, amonia dan logam berat maka berisiko banyak udang yang mati. Padahal petani biasanya hanya mengecek secara manual, misalnya untuk oksigen, mereka hanya mengetahui dari menyaksikan udang-udang yang muncul ke permukaan

“Udang yang sudah naik ke permukaan kolam itu sebenarnya tanda sudah terlambat untukbisa diatasi,” kata laki-laki kelahiran Sleman 24 tahun lalu ini.

Setelah mengetahui penyebab kematian udang, Ridwan yang pernah meraih medali perunggu dalam kontes robot tingkat internasional di Korea 2012 lalu, menggunakan pengalaman dan pengetahuannya dalam mebuat alat mikrokontroler dan sensor. Ia bersama teman-temannya berhasil mendesain alat yang mereka namakan BlumbangReksa yang artinya kolam sejahtera.

Alat yang sekilas mirip kotak nasi yang biasa dibawa anak TK ini hanya menghabiskan dana sebesar Rp 10 juta dalam proses pembuatannya. Sedang menurut Imadudin, alat ini difungsikan untuk mendeteksi kondisi abnormal air kolam.

Alat yang berukuran 15×10 cm dengan berat kurang lebih 500-an gram ini, memiliki enam sensor yang mengukur tingkat temperatur, kelembaban, tingkat keasaman (pH), kadar oksigen, salinitas (kadar garam) dan kadar logam berat.

“Dari sensor itu itu dibaca oleh mikrokontroler, lalu datanya diolah dan diupload ke internet agar bisa diunduh di smartphone milik petani masing-masing. Mereka tinggal login. Bagi petani yang tidak punya smartphone cukup dengan sms dengan teknologi broadcast,” kata mahasiswa program sarjana teknik elektro angkatan 2012 ini.

Dengan alat tersebut, kata Imaduddin, kondisi air kolam bisa dibaca secara real time oleh petani. Bahkan petani bisa bertindak segera untuk memberikan perlakuan pada kolamnya saat kondisi abnormal agar udang peliharaannya tidak segera mati.

“Petani bisa ambil langkah cepat dan tidak telat,” katanya
Imaduudin mengatakan usaha tambak udang vaname di lahan pasir Bantul berorientasi ekpor ke China, Jepang, dan Amerika Serikat sehingga bisa memberikan keuntungan bagi petani. Namun apabila mendapatkan udang yang mati saat dipanen maka petani akan mengalami kerugian yang cukup besar.

Imaduddin mengatakan untuk tambak uang yang tradisional umumnya tingkat kematian mencapai hingga 50 persen, sedangkan untuk pemeliharaan kolam secara intensif tingkat kematian hanya mencapai 20 persen. Dengan alat Blumbangreksa, diharapkan bisa meningkatkan produktivitas hasil tambak.

Meski demikian, kata Ridwan, pihaknya akan terus mengembangkan desain alat tersebut. Tidak hanya itu, mereka tidak hanya berpuas diri hanya memenangkan komptisi namun terus mensosialisasikan dan mengenalkan alat tersebut ke petani tambak di Bantul, Cirebon dan Pangadaran, Ciamis.

“Harapannya alat ini nantinya bisa diproduksi massal dengan harga yang lebih terjangkau untuk petani. Kita harapkan petani tambak makin sejahtera dan ekspor udang kita makin meningkat,” tutup Ridwan.
http://news.detik.com/read/2015/05/06/110634/2907098/10/1/alat-yang-bantu-petani-tambak-udang-ciptaan-mahasiswa-ugm-ini-menang-di-india

Pertanianku — Fenomena harga cabai yang melambung tinggi terjadi lagi. Ikatan Pe [...]

Pertanianku — Komoditas perkebunan memiliki kontribusi besar dalam peningkatan e [...]

Pertanianku — Kementerian Pertanian (Kementan) menilai, pupuk menjadi kunci kema [...]

Pertanianku — Beragam jenis tanaman buah biasa dibudidayakan dengan berbagai car [...]

Pertanianku — Cara menyuburkan tanah bisa dilakukan dengan pemberian pupuk. Sela [...]

Pertanianku — Penggunaan bahan alami untuk menyuburkan tanah sudah digunakan sej [...]

Pertanianku — Bagaimana trik agar jagung manis berbuah lebat? Ya, siapa yang tid [...]

Pertanianku — Ada beberapa jenis anggur yang tersebar di seluruh dunia. Salah sa [...]

Pertanianku — Bisnis beternak ayam kampung sangat menjanjikan. Bagaimana tidak? [...]

Pertanianku — Sejak dulu, daun jambu biji dipercaya dapat mengatasi diare. Untuk [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10000 milliseconds