Batang, Kini Jadi Pusat Belajar Anggaran

Kabupaten Batang di bawah kepemimpinan Yoyok Riyo Sudibyo bisa dikatakan telah berevolusi. Dari salah satu kabupaten termiskin di Jawa Tengah, kini Batang jadi pusat belajar tata kelola anggaran di Indonesia.

Tahun 2012 silam, Batang masuk daftar 15 kabupaten termiskin di Jawa Tengah. Namun kini, kebalikannya, Batang malah jadi pusat belajar pengelolaan anggaran.

Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo mengatakan hampir setiap hari Batang kedatangan tamu dari pemerintah daerah lain, baik tingkat kabupaten/kota ataupun provinsi.

“Mereka semua datang dengan tujuan yang sama, belajar tata kelola dan transparansi anggaran. Jadi bisa dikatakan, kini Batang jadi sekolah transparansi anggaran,” ujar Yoyok dalam siaran pers yang diterima, Selasa (5/4/2016).

Yoyok menuturkan transformasi di Batang dimulai saat dirinya memutuskan keterbukaan sebagai kata kunci di pemerintahannya yang dimulai tahun 2012 lalu. Anggaran Batang terbilang kecil, namun, jika bisa dirasakan rakyat secara maksimal, maka akan lebih baik.

“Saya tak punya anggaran untuk membangun taman yang gemerlap dengan atraksi air mancur menari. Tapi saya ingin warga menikmati hasil dari setiap sen uang anggaran yang digunakan untuk pembangunan Batang. Ini bisa terjadi jika tidak yang berani mencuri anggaran karena warga mengawasi,” ulas Yoyok.

Mantan intelijen BIN ini memulai keterbukaan di wilayahnya dengan membuka pagar rumah dinas 24 jam, agar warga bisa mengadu kapan saja. Lalu, dia membuka Unit Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik (UPKP2) yang sigap menerima keluhan warga. Dan yang bisa dibilang jadi program mercusuar adalah memamerkan anggaran dan penggunaannya ke publik lewat “Festival Anggaran” yang digelar setiap tahun.

Jurus ini terbukti berhasil. Perlahan-lahan pola pikir dan cara warga Batang berhubungan dengan birokrasi berubah. Dalam hal partisipasi pengawasan anggaran, warga Batang kini melangkah lebih maju dari kabupaten dan kota besar lainnya di Indonesia. Tak hanya itu, jurus keterbukaan ala Yoyok bahkan memicu peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga 300 persen.

“Ketika dilantik saya bilang ke warga, ayo awasi saya! Sekarang warga mengawasi dengan ketat penggunaan APBD dan kebijakan Pemkab. Aparatur Pemkab juga sadar, uang rakyat harus digunakan dengan hati-hati. Kini semua menikmati buah dari keterbukaan,” kata Yoyok.

Pemkab Batang juga berhasil meraih berbagai penghargaan dan pengakuan internasional. Yoyok bahkan dianugerahi Bung Hatta Anti-Corruption Award (BHACA) 2015 bersama Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

“Yang diraih oleh Kabupaten Batang adalah hasil kerja keras seluruh elemen. Ada DPRD yang serius, birokrat yang komit dan warga yang sepenuh hati berpartisipasi mengawasi. Ini yang istimewa dari rakyat batang,” ujar pensiunan TNI berpangkat Mayor ini.

Yoyok-Riyo-Sudibyo-Award
(tor/van) Sumber:

http://news.detik.com/berita/3179977/revolusi-batang-kabupaten-termiskin-yang-kini-jadi-pusat-belajar-anggaran?utm_source=News&utm_medium=Msite&utm_campaign=ShareFacebook

Pertanianku — Umumnya masyarakat hanya mengenal tembakau sebagai bahan baku utam [...]

Pertanianku — Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Sumardjo Gatot Irian [...]

Pertanianku — Asal usul cabai di Indonesia ternyata berasal dari tanaman bernama [...]

Pertanianku — Beragam olahan berbahan kerang jadi favorit konsumen. Makanan laut [...]

Pertanianku — Fase pertumbuhan jagung manis bisa terlihat dari pertumbuhan daun [...]

Pertanianku — Memiliki nama ilmiah Volvariella volvacea, jamur merang sudah lama [...]

Pertanianku — Berkebun di sekitar rumah bisa jadi kegiatan yang menyenangkan unt [...]

Pertanianku — Salah satu tahapan yang penting dalam budidaya ikan dewa adalah pe [...]

Pertanianku — Saat ini, peluang bisnis ternak ayam ini masih sangat menjanjikan [...]

Pertanianku — Keterbatasan lahan pertanian membuat sejumlah orang berinovasi den [...]

RSS Error: WP HTTP Error: cURL error 28: Connection timed out after 10001 milliseconds