Menjadi Majikan bagi Diri Sendiri

Sulaeman

Menerabas keterbatasan sebagai penyandang disabilitas, Sulaeman (54) gigih mengembangkan kerajinan kulit sapi dan ikan pari di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia juga mengajak orang-orang serupa dengan dirinya untuk bekerja dan menjadi wirausaha mandiri.

“Saya mendorong mereka untuk dapat membangun usaha sendiri, merekrut rekan-rekan difabel lainnya, dan menularkan semangat kemandirian,” kata Sulaeman saat ditemui akhir April lalu.

Lelaki itu pernah kecelakaan di masa kecil sehingga satu kakinya terpaksa diamputasi. Sehari-hari, ia beraktivitas dengan bantuan satu kaki palsu.

Dalam keterbatasan itu, Sulaeman tetap gigih menjalankan usaha kerajinan kulit sapi dan kulit ikan pari yang telah dirintis sejak 1996. Di tokonya, yang diberi nama Fanri Collection, di Jalan Kaliurang Kilometer 13,5, Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, dia bekerja bersama 15 karyawan. Sebanyak 10 orang di antaranya adalah difabel.

Mereka membuat 500 sampai 1.000 potong kerajinan kulit per bulan. Produk itu berupa tas, dompet, ikat pinggang, gelang, dan sepatu.

Sekalipun memiliki kekurangan fisik, Sulaeman ulet dan terlibat dalam segala aktivitas usahanya. Saat dikunjungi Kompas,ia sibuk membungkus dompet-dompet produksinya dalam kemasan plastik. Ia mengerjakannya sembari duduk di lantai dengan melepas kaki palsunya.

Sesekali, dia pun beranjak, kembali memasang kaki, dan melayani permintaan dari sejumlah reseller dan konsumen yang datang membeli. Tak lupa, ia menengok aktivitas produksi oleh para karyawannya di belakang rumah.

Sulaeman telah melepas empat karyawannya demi mereka membangun usaha sendiri. Kini, empat orang itu telah mengembangkan empat kelompok usaha sendiri bersama dengan para penyandang difabel lain. Ia tidak berkeberatan jika nantinya harus kembali kehilangan karyawan.

“Selama mereka mau untuk mandiri, merintis usaha sendiri, saya berikan semua ilmu dan keterampilan yang saya miliki dan melepas mereka untuk pergi,” ujarnya.

Memulai usaha

Sulaeman semula tinggal di Jakarta. Pada usia enam tahun, ia kehilangan sebelah kakinya akibat kecelakaan. Kondisi ini sempat membuatnya minder selama bertahun-tahun, bahkan enggan melanjutkan pendidikan. Namun, dengan meneguhkan tekad, dia pun meneruskan pendidikan hingga SMA.

Ketika hendak kuliah, rasa percaya dirinya kembali terusik. Di lembar tes ujian pendaftaran masuk ke jenjang pendidikan tinggi, dia merasa tidak bisa memenuhi syarat tidak memiliki cacat fisik. Ia pun patah semangat.

Hanya berbekal pendidikan SMA serta dengan kondisinya, ia menyadari bahwa peluang kerja untuknya terbatas. “Tidak ada jalan lain bagi saya untuk bekerja kecuali dengan cara berwirausaha,” ujarnya.

Salah seorang rekannya, sesama penyandang disabilitas, memberikan informasi kepada Sulaeman tentang Pusat Rehabilitasi Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (Yakkum) di Kabupaten Sleman. Pemuda itu pun tertarik agar bisa memperoleh keterampilan sekaligus mendapatkan kaki palsu.

Ia bergabung di Yakkum tahun 1987. Selama tiga bulan, ia mempelajari keterampilan membuat beragam kerajinan kulit. Ia juga menjajal kerja dengan membuat aneka produk sesuai dengan permintaan Yakkum.

Pada 1991, ia direkrut menjadi tenaga kerja di lembaga swadaya masyarakat yang sekaligus memproduksi kulit ikan pari. Sekitar dua tahun dia aktif di situ.

Sulaeman

Lahir:

Tegal, 10 Oktober 1963

Istri:

Sunarsih (44)

Anak:

  1. Ahmad Qodir Yasirulamri (25)
  2. Fani Nursahadah (24)

Pendidikan:

SMA Negeri 13 Jakarta

Kegiatan:

Mengembangkan usaha kerajinan kulit Fanri Collection

Tahun 1993, dia kembali bekerja di Yakkum sembari memberikan pelatihan untuk sesama penyandang disabilitas. Ia kian mahir mengerjakan produk-produk kerajinan kulit.

Jemu menjadi karyawan, tahun 1996 Sulaeman memutuskan mandiri. Sendirian, ia memproduksi barang-barang kerajinan. Sebagian di antaranya pesanan Yakkum.

Usahanya berkembang, pesanan meningkat. Setahun kemudian, ia merekrut karyawan. Pada awalnya ada 10 karyawan yang bekerja untuknya.

Usaha yang naik-turun membuat sebagian karyawannya mundur. Sulaeman pun mengajak sesama penyandang disabilitas untuk bekerja bersamanya.

“Keputusan untuk mengganti semua karyawan dengan penyandang disabilitas menjadi keputusan tepat. Banyak rekan difabel mengeluh kekurangan dan kesulitan mendapatkan kerja,” ujarnya.

Sebanyak 10 dari 15 karyawan Sulaeman saat ini adalah kaum difabel. Ada yang kehilangan kaki akibat kecelakaan, kekurangan sejak lahir, atau pernah kena penyakit polio. Bersama mereka, ia terus mengembangkan usaha dengan omzet lumayan baik.

Dengan bantuan dari sekitar 10 reseller ditambah aktivitasnya dalam beragam pameran, produk Sulaeman terdistribusi ke Jakarta, Surabaya, dan DI Yogyakarta. Ada juga yang dikirim ke Jerman dan Denmark.

Memandirikan pekerja

Untuk para pekerjanya, Sulaeman menerapkan tarif upah beragam. Mereka yang bekerja kurang dari setahun diberi upah harian Rp 20.000 per hari ditambah dengan uang makan Rp 30.000 per minggu. Mereka yang bekerja setahun atau lebih memperoleh gaji sesuai upah minimum kabupaten ditambah layanan kesehatan Jamsostek.

Setiap orang yang direkrut sebagai karyawan tidak mendapatkan pelatihan khusus. Namun, mereka dilibatkan dalam setiap aktivitas produksi. Karyawan difabel juga diberi bimbingan dan pengetahuan agar terampil bekerja.

“Dengan berbekal semua keterampilan yang dipelajari di sini, saya berharap mereka dapat menjadi wirausaha mandiri,” ucapnya.

Bahkan, saat karyawan itu keluar dan buka usaha sendiri, Sulaeman tak berkeberatan mereka akhirnya menjadi pesaing. Dia terus mendorong para difabel untuk kreatif dan tidak menyerah.

“Biarlah tempat usaha saya menjadi media pembelajaran bagi pekerja sebelum akhirnya mereka berani membuka usaha sendiri,” katanya.

Semua itu dilakoni sebagai bagian dari kepedulian dan empati kepada sesama rekan. Sebagai orang yang juga memiliki keterbatasan fisik, ia memahami bahwa kaum difabel lebih sulit mendapatkan pekerjaan dibandingkan dengan orang tanpa keterbatasan fisik.

Masalah lain, rata-rata kaum difabel kurang mengenyam pendidikan tinggi. Para karyawan difabel di tempatnya, misalnya, maksimal hanya lulusan SMP, bahkan sebagian di antaranya tidak sekolah. Sebagaimana pernah ia alaminya dulu, rasa minder akibat kekurangan fisik memang kerap menggoyahkan tekad seseorang untuk melanjutkan pendidikan.

Dengan mempertimbangkan semua kesamaan rasa dan pengalaman tersebut, Sulaeman berkomitmen untuk membantu rekan-rekannya, sesama penyandang disabilitas, agar dapat membangun masa depan yang lebih baik. Tidak sekadar memampukan diri menjadi pekerja, mereka didorong untuk menjadi tuan, majikan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Mengembangkan usaha kerajinan bisa menjadi salah satu jalan mencapai tujuan baik itu.

Sumber: http://print.kompas.com