Hendro dan Wida : Berbagi untuk Fakir Miskin

M Hendro Utomo Dan Wida Septarina

Hampir setiap hari ada makanan dan minuman yang terbuang percuma. Makanan berlebih itu bisa berasal dari rumah atau perusahaan makanan dan minuman. Kondisi ini memotivasi Hendro Utomo dan Wida Septarina Wijayanti. Mereka mengumpulkan makanan dan minuman layak dikonsumsi yang belum kedaluwarsa, lalu membagikannya kepada fakir miskin yang membutuhkannya.

Bersama beberapa teman, selama dua tahun terakhir suami-istri tersebut mengetuk hati perseorangan ataupun perusahaan untuk bersama dalam gerakan berbagi untuk sesama, Foodbank of Indonesia (FOI). Gayung pun bersambut. Sedikit demi sedikit mereka mengumpulkan donasi makanan dan minuman dari sejumlah orang yang tergerak berbagi untuk sesama.

Awalnya, bantuan yang datang hanya bahan mentah, seperti sayur-mayur, beras, dan bahan untuk lauk-pauk, termasuk bumbu masakan. Bahan itu diolah menjadi makanan dan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Hingga kini, dua kali dalam seminggu, FOI terus membagikan makanan kepada 25 warga lanjut usia di sekitar Blok A, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Makanan itu dimasak di kantor FOI, kemudian dimasukkan ke wadah makanan (lunch box). Setiap minggu menunya berganti-ganti, bisa ayam, ikan, daging, telur, sop, soto, atau perkedel, termasuk buah. Ada juga segelas susu dan roti.

“Bagi sebagian orang yang mampu dan berkelebihan, makanan seperti itu biasa-biasa saja. Tapi, bagi orang yang berkekurangan, itu sangat istimewa, apalagi diberikan rutin,” ujar Wida.

Belakangan, FOI yang dikelola Hendro dan Wida melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia dipercaya sejumlah donatur untuk meneruskan pemberian mereka kepada fakir miskin. Sejak tahun lalu, sejumlah perusahaan roti, biskuit, susu, dan makanan lain rutin mengirimkan produk-produk mereka. Produk yang diberikan masih layak konsumsi. Umumnya masa kedaluwarsanya tinggal 6-18 bulan.

Bahkan, ada perusahaan roti dengan merek terkenal setiap pagi meminta FOI untuk mengambil roti-roti yang tidak terjual habis sehari sebelumnya di outlet-outlet di daerah Jakarta Selatan. Tiap hari ada sekitar 100-300 roti yang terkumpul. Roti-roti tersebut langsung disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama di permukiman padat dan kumuh di wilayah DKI Jakarta, Tangerang, Bekasi, dan sekitarnya.

Sejak akhir tahun lalu, melalui Program Mentari Bangsaku, FOI meneruskan donasi susu, roti, dan biskuit dari sejumlah perusahaan kepada sekitar 6.500 anak balita, PAUD, TK, dan SD di Jakarta, Tangerang, Bekasi, dan sekitarnya. Untuk memastikan penerima donasi benar-benar orang yang tepat, FOI menggandeng pemerintah setempat, pusat kesehatan masyarakat, dan relawan.

Cara menyalurkan donasi itu tidak diberikan begitu saja. Penerima harus benar-benar dari keluarga miskin yang membutuhkan.

Meskipun gratis, FOI memberikan syarat ibu anak balita penerima donasi harus berjanji mengawasi perkembangan kesehatan anaknya, merawat dan membawa anaknya ke posyandu secara rutin. Dampaknya, kesadaran ibu-ibu untuk merawat anak balitanya meningkat.

Begitu juga dengan siswa-siswa di PAUD, TK, dan SD. Susu dan roti dibagikan guru tiap hari atau beberapa kali dalam seminggu kepada siswa dari keluarga tak mampu. “Karena itu, kami membuat sistem supaya bantuan tersebut tidak sesaat, tetapi bisa teratur sehingga ada dampak yang dirasakan oleh penerima donasi,” ujar Hendro.

 

M HENDRO UTOMO

Lahir:

Jakarta, 28 Oktober 1967

Pendidikan:

  1. S-1 Jurusan Sastra Jepang Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1987-1993)
  2. S-2 MM IPMI International Business (2000-2002)

Pekerjaan dan Organisasi:

  1. Pendiri dan Ketua Pembina Yayasan Lumbung Pangan Indonesia
  2. Pendiri dan Koordinator SAR Dog Indonesia (2010-2015)

 

WIDA SEPTARINA WIJAYANTI

Lahir:

Madiun, 17 September 1971

Pendidikan:

  1. S-1 Program Studi Rusia Fakultas Sastra Universitas Indonesia
  2. S-2 Pascasarjana Manajemen Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia

Pekerjaan:

  1. Dosen Vokasi Komunikasi Universitas Indonesia
  2. Ketua Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Foodbank of Indonesia)
  3. Pengurus Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI)
  4. Pembina dan relawan Komunitas Cerdaskan Anak Indonesia (KoCAk)

 

Gotong royong

Bagi Hendro dan Wida, sebenarnya gerakan berbagi di Indonesia bisa dilakukan karena masyarakat Indonesia memiliki semangat gotong royong yang tinggi. Contohnya, solidaritas yang digalang saat ada bencana atau solidaritas untuk membantu orang yang membutuhkan yang digalang selalu mendapat respons masyarakat.

“Orang Indonesia sebenarnya baik. Kita cerita saja tentang saudara-saudara kita yang susah, pasti tergerak hatinya. Kalau sudah percaya, mereka pasti akan membantu,” tutur Hendro yang sejak mahasiswa menjadi aktivis.

Karena itulah, Hendro dan Wida optimistis langkah mereka tidak akan sia-sia. Lagi pula, model pengumpulan makanan dan minuman dari masyarakat yang kemudian didistribusikan kepada fakir miskin sudah dilakukan di negara-negara lain. Di Amerika, Kanada, dan negara-negara di Eropa, termasuk Singapura, makanan dan minuman dari restoran, toko, pabrik, atau perusahaan makanan sudah biasa dikumpulkan oleh bank makanan (foodbank) untuk disalurkan kepada fakir miskin.

Di Indonesia seharusnya juga bisa demikian. Setiap hari ada banyak makanan yang terbuang sia-sia atau disimpan sampai basi atau kedaluwarsa. Tidak hanya di rumah-rumah warga, tetapi juga di warung makan, restoran, hingga hotel berbintang.

“Padahal, makanan tersebut sebenarnya masih bisa bermanfaat bagi orang lain andai saja kita mau berbagi,” ucap Wida.

Karena itulah, FOI terus menggugah hati masyarakat untuk berbagi. Melalui gerakan Solidaritas Pangan Indonesia, mereka mengajak masyarakat untuk mendukung pelaku usaha pangan mikro.

Selama setahun terakhir, FOI juga mendampingi sejumlah petani di Desa Kiarasari, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dengan menjual beras putih dan beras merah hasil pertanian petani Kiarasari.

Wida berkeyakinan, yang namanya berbagi bisa menular. Ketika seseorang memberi kepada orang lain, orang yang menerima pemberian tersebut pasti akan meneruskan pemberian itu kepada yang lain dengan caranya.

Meskipun yang dilakukan FOI tujuannya mulia karena membantu kaum fakir miskin, dalam praktik di lapangan ada saja pihak-pihak yang merasa “terganggu” dengan aktivitas FOI. Hendro dan Wida bahkan harus melayani sejumlah pertanyaan dari pihak birokrasi terkait kegiatan berbagi tersebut. Ada, misalnya, yang bertanya, “masak sih masih ada yang kelaparan”, “masak sih ada anak-anak kurang gizi”, dan pertanyaan lain.

Walau begitu, orangtua dari M Oda Mahesa Utomo ini tetap memilih meneruskan gerakan kemanusiaan tersebut. “Intinya, just do it. Pasti ada hasil di sana,” ujar Wida.

Sumber: http://print.kompas.com