EMBUNG DAN KEDAULATAN PANGAN

embung

Harapan Presiden Joko Widodo setiap desa menganggarkan pembangunan embung sangat penting guna mewujudkan kedaulatan pangan desa seluruh Tanah Air. Langkah secara konkret ditempuh Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi mengarahkan alokasi tambahan 20 triliun rupiah dana desa untuk membangun embung (waduk mini) tiap desa. Salah satu tujuan membangun embung agar dapat meningkatkan produktivitas lahan pertanian desa. Embung diharapkan mampu menggandakan produksi pangan dari indeks pertanaman dari 1,4 kali menjadi 2–3 kali setahun.

Jumlah embung desa memang terus ditingkatkan jumlahnya. Tahun ini diharapkan ada 30.000 embung dibangun dengan dana desa. Anggaran 20 triliun merupakan bagian dari 60 triliun dana desa tahun 2017 untuk 74.900 desa. Setiap desa menerima rata-rata 800 juta. Alokasinya untuk membangun sebuah embung antara 200 juta dan 500 juta rupiah. Pembangunan embung diputuskan melalui musyawarah tiap-tiap desa.

Menurut Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, ada sekitar empat juta hektare lahan tadah hujan kurang produktif akan mendapat manfaat dari tambahan pembangunan waduk mini baru ini. Desa dengan lahan pertanian non-irigasi atau tadah hujan akan bisa dimanfaatkan sepanjang tahun. Embung penopang produksi pangan baik padi, jagung, bawang, ketela pohon, kedelai, maupun komoditas pangan lain.

Embung merupakan cekungan penampung air irigasi. Asal air yang ditampung bisa dari air sungai atau hujan. Embung bisa dibangun di desa yang memiliki sungai dan tidak. Embung bisa untuk menampung air hujan saja. Embung mencegah banjir saat musim hujan dan mengatasi kekeringan saat kemarau.

Banjir banyak menimpa desa-desa selama 2016. Contoh, banjir menerjang desa-desa di Bima, NTT, dan merendam ribuan rumah. Kerugiannya lebih dari satu triliun rupiah. Demikian juga 13 desa Sampang, Madura terendam. Empat desa di Buleleng, Bali juga diterjang banjir bandang. Di Gresik ada sembilan desa terendam karena luapan Bengawan Solo. Banjir melanda desa juga menelan korban jiwa di Garut, Jawa Barat, dan Banyumas, Jawa Tengah.

Sementara itu, giliran musim kemarau, kekeringan melanda sejumlah besar desa. Selama 2016, kekeringan berdampak luas di sejumlah desa. Ada 375 desa di NTT krisis air bersih. Kemudian, empat desa di Sumenep kekeringan. Sebelumnya, 46 desa di Sampang juga mengalaminya. Dalam waktu hampir bersamaan, 115 desa di lima Kecamatan Gunungkidul, Yogyakarta, juga dilanda kekeringan. Ini suatu keadaan yang ekstrem antara dua musim.

Embung untuk menampung air sungai atau hujan bermultifungsi. Saat ini, air sungai desa yang melimpah saat hujan cepat hilang mengalir. Dulu, pada era tahun 80-an, setelah hujan, air sungai-sungai desa di Yogyakarta masih melimpah hingga dua atau tiga hari sesudahnya. Kini, tinggal bertahan bebarap jam. Itu pun sudah berubah dari air sungai yang jernih menjadi keruh. Embung dapat menampung air sungai agar bertahan lama serta mengendapkannya menjadi jernih.

Air hujan bisa ditampung untuk persediaan saat kemarau. Embung adalah tampungan besar yang bisa menyimpan ribuan kubik air hujan. Penggunaannya bisa diatur menyesuaikan kebutuhan dan ketersediaan air pada waktu kemarau saja. Selama hujan, persediaan air melimpah sehingga embung menjadi tabungan air.

Manfaat 

Embung bisa dibangun di daerah dataran tinggi yang tidak dilalui aliran sungai. Air embung bisa berasal dari air hujan. Perbukitan yang dulu gersang bisa memiliki persediaan air. Perbukitan perdesaan yang biasanya gundul pada musim kemarau sehingga banyak tanaman mati karena kekurangan air, bisa bertahan dengan irigasi dari waduk mini tersebut.

Kedaulatan pangan desa semakin mendesak bagi masyarakat. Peran embung terkait kedaulatan pangan, terutama guna mengurangi faktor gangguan akibat kekeringan. Embung menjadi pilar dalam produksi pangan desa sehingga penduduk dekat dengan sumber makanan dan terhindar dari persoalan distribusi. Embung mendorong terciptanya swadaya pangan penduduk desa.

Waduk juga bisa mendukung intensifikasi pertanian sehingga bisa meningkatkan frekuensi panen. Ini terutama tanaman padi dari setahun sekali menjadi dua atau tiga kali setahun. Kelipatan hasil pertanian akan bisa diwujudkan para petani desa dengan ketersediaan air.

Selain itu, penampungan air juga menopang diversifikasi pertanian. Peningkatan hasil pertanian melalui variasi jenis tanaman seperti pola tumpang sari. Sawah di Jawa bahkan disela-selanya dapat diselingi tanaman untuk ternak. Peningkatan hasil ternak akan menaikkan produksi protein hewani warga desa.

Dalam embung juga dapat disebar ikan untuk usaha perikanan yang diharapkan bisa mencegah kemungkinan perkembangan jentik nyamuk. Sementara, sekitar embung juga bisa dikembangkan kolam-kolam ikan menggunakan sistem pengairan berbasis.

Dalam sejumlah embung di Kulonprogo, Yogyakarta, kini menjadi objek wisata baru yang menarik baik domestik maupun mancanegara. Waduk yang dibangun indah dikelilingi taman atau kebun berbagai buah-buahan. Semua tanaman memperoleh suplai irigasi dari embung tersebut yang terletak di perbukitan pedesaan. Di situ juga terdapat panorama pemandangan yang menawan lengkap dengan udara sejuk.

Penduduk desa harus ikut mengelola dan merawat embung secara aktif bergotong-royong. Ketentuan penggunaan air dilakukan secara musyawarah warga atau kelompok tani. Kedaulatan pangan harus diupayakan mulai dari desa. Embung memiliki peran strategis dalam turut menciptakan kedaulatan pangan perdesaan. Ini bisa jadi terobosan mengatasi banjir dan kekeringan desa.

Sumber:  http://ditjenpdt.kemendesa.go.id