Dukungan Bina Swadaya Untuk Bojonegoro

Bupati-Bojonegoro

Sebagai seorang aktivis, Bupati Bojonegoro, Suyoto melakukan segala cara untuk memajukan wilayahnya berkembang dan mengalami peningkatan kualitas masyarakatnya.

Usaha yang dijalankan bisa dikatakan tidaklah mudah. Bupati Suyoto telah lakukan segala cara, dari semua cara yang dilakukan dapat diambil kesimpulannya adalah perubahan katakteristik warganya. Maka jalan keluar yang baik adalah melalui program pemberdayaan yang berkelanjutan.

Bojonegoro

Di mata Suyoto, Bojonegoro merupakan daerah yang miskin. Dirinya lahir dari keluarga miskin dan berpendapat, saat masih kecil masih bisa bersyukur makan tiga kali dalam sehari. Pendidikannya bukan dari sebuah sekolah mewah, bahkan sempat bersekolah dengan bayar seikhlasnya. Sepenggal kisah masa lalu yang kelam ini membuat dirinya tergerak dan melakukan penelitian untuk mencari jalan keluar masalah kemiskinan di Bojonegoro.

Dijelaskan pada pertemuan siang itu, Suyoto mengakui passionnya bergerak di jalan yang sama dengan Bapak Bambang Ismawan. “Saya senang sekali, punya konsen yang sama senang sekali melihat orang berkembang, saya bersyukur betul mendapatkan kesempatan pemberdayaan dengan cara menjadi Bupati di Bojonegoro. Istri yang yang terlibat di sekolahan, saya bagian yang lebih besar”, katanya.

Bupati Suyoto begitu menyadari bahwa bentuk kemiskinan pada zaman kolonial yang dialami rakyat Bojonegoro seperti dalam catatan Penders itu tidak jauh berbeda dengan terjadi saat ini. Beruntung kebijakan Belanda saat itu masih ada yang berpihak kepada rakyat. Yakni, dengan membangun waduk Pacal. maka pertanian Bojonegoro pun hingga kini terselamatkan. Karena itu, dibutuhkan revolusi kebudayaan untuk mengangkat derajat rakyat Bojonegoro.

Kebudayaan urusannya bukan fisik tapi mental. Bagaimana mengubah mental pejabat minta dilayani menjadi pelayan rakyat Bagaimana mengubah mental rakyat yang selalu meminta menjadi mental pemberi. peningkatan kesejahteraan masih belum seberapa hasilnya, tapi sudah mulai tampak ada perbaikan.

Bupati-Bojonegoro-Bina-Swad

Sekolah

Salah satu cara membangun Bojonegoro adalah melalui jalur sekolah. Suyoto mengakui banyak sekolah mempunyai lahan kosong yang bisa digunakan sebagai gerakan membangun penghijuan. “Saya melihat bahwa sekolah ini banyak lahan kosong, saya kan selalu baca Trubus, kalau saya baca Trubus saya selalu punya ide. Ibu Yoto mempunyai gerakan smart school bagaimana memaksimal mungkin lahan yang ada di sekolah, lalu saya berpikir kenapa ya guru – guru disini nggak menggerakkan ini dikampungnya?”, jelasnya.

Guru yang aktif mengindikasikan sebuah desa berkembang. Itulah pantauan dirinya setelah blusukan di desa – desa Bojonegoro. Kedatangan Bupati Suyoto ke Bina Swadaya ini dalam rangka ingin membeli berbagai buku pertanian dengan harga khusus terutama majalah Trubus untuk dibaca dan dikembangkan di sekolah. Bahkan Suyoto mempunyai gagasan, guru dan murid wajib baca majalah Trubus sebagai bentuk pengembangan wawasan. “Saya tadinya berpikir simpel, gimana kalau seluruh sekolahan, guru dan muridnya baca Trubus. Kalau gitu ada ngga? buku ritel yang ngga laku mau saya beli, saya bagi sekolahan disana, lalu saya kasih pertanyaan, setelah baca punya ide apa dan bisa melakukan apa gitu?, jelasnya.

“Saya ingin betul – betul sekolah itu menjadi sentra dari gerakan pemberdayaan, karena di Bojonegoro warga yang terdidik itu disekolah itu, saya pikir memasukkan pengetahun lebih tepat menyalurkan pemberdayaan ya melalui pola ini”, lanjutnya.

Setelah ditemukan minyak bumi di Bojonegoro, Bupati Suyoto mengakui bagaikan 2 sisi mata uang. Satu sisi dapat memberikan pemasukan, sisi lainya minyak pasti akan habis. Oleh sebab itu, saat ini pendapatan dari minyak akan dikelola dengan untuk sumber daya manusia, infrastruktur yang relevan dengan pemberdayaan ekonomi, dan yang terakhir tabungan kedepan.

Belanja-Trubus-Majalah

Bina Swadaya

Bina Swadaya sebagai lembaga pemberdayaan, memberikan respon positif untuk mendukung perkembangan wilayah Bojonegoro. Pada kesempatan itu, Toko Trubus melalui Direkturnya Ibu Yustina membuka peluang kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terkait dengan pengadaan pupuk kandang. Selain itu, membuka toko di Bojonegoro juga mempermudah kebutuhan warga menggalakkan penghijauan di wilayah Bojonegoro. “Dengan semangat dan senang hati apa yang bisa jadikan kita kerjasama kita siap, tentu kita survei lokasinya”, ucap Ibu Yustina.

Terkait dengan majalah Trubus, Bupati Suyoto mengakui sering membaca kompetitor majalah Trubus, namun diakuinya majalah Trubus lebih kearah pemberdayaan. Pemberdayaan di majalah Trubus inilah yang menjadi ciri khas, Ibu Evy Direktur majalah Trubus mengatakan Trubus lebih menginspirasi dalam tulisannya. Selain penerbitan majalah, Trubus juga mengadakan pelatihan yang diharapkan menjadi peluang kerjasama dengan Pemkab Bojonegoro. Berkaitan dengan hari jadi Pemkab Bojonegoro, diupayakan wilayah Bojonegoro mengisi edisi khusus Trubus tentang Bojonegoro.

Obrolan santai yang positif ini berlangsung selama 3 jam. Rencana Bina Swadaya membangun Bojonegoro terus digagas untuk memberdayakan masyarakat.

di-Kebun-Trubus